JENTERANEWS.com – Di sebuah petak kontrakan sempit yang pengap, Wawan (45), pria kelahiran 1979, menghabiskan hari-harinya dalam ketidakpastian. Tatapannya kosong, seringkali hanya tertuju pada pintu, menunggu uluran tangan tetangga yang membutuhkan tenaganya untuk pekerjaan serabutan. Bagi Wawan, mantan pedagang asongan yang puluhan tahun menggantungkan hidup di terminal, hari ini adalah tentang bagaimana cara mengisi perut, bukan lagi tentang meraih mimpi. Kisah hidupnya adalah rentetan panjang perjuangan melawan kemiskinan yang tak berkesudahan, yang kini berada di titik paling nadir.
Wawan bukanlah orang asing bagi kerasnya jalanan. Takdir memaksanya menjadi dewasa sebelum waktunya ketika kedua orang tuanya meninggal dunia saat ia masih duduk di kelas 4 SD. Sejak saat itu, “rumah” baginya adalah terminal.
“Saya hidup sebatang kara sejak kecil. Di terminal, saya bertahan hidup dengan disuruh-suruh sopir, dapat upah sedikit untuk makan,” kenangnya dengan suara parau.
Memasuki usia dewasa, Wawan mencoba memperbaiki nasib. Pada tahun 1997, di tengah gejolak krisis moneter yang melanda negeri, ia mulai menekuni profesi sebagai pedagang asongan. Panas terik dan debu jalanan menjadi sahabatnya sehari-hari demi mengais rezeki yang tak seberapa.
Roda kehidupan Wawan sempat menemukan ritme yang sedikit lebih baik pasca tahun 2004. Sebuah bencana longsor yang melanda daerahnya justru menjadi titik balik kehidupan pribadinya. Di tengah kekacauan, kebaikan hati Wawan tergerak untuk menolong seorang tetangga wanita.
Sikap tulus itu rupanya menumbuhkan benih kasih. Kedekatan terjalin, dan mereka akhirnya menikah. Meski hidup dalam jerat kemiskinan, Wawan mengenang masa-masa itu sebagai periode yang harmonis. Ia dikaruniai dua orang putri. Wawan berjuang di terminal menjajakan dagangan, sementara sang istri membantunya dengan membuat kue dan makanan ringan untuk dijual.
Namun, kebahagiaan sederhana itu direnggut paksa pada tahun 2022. Sebuah kecelakaan tragis di Tol Cipularang merenggut nyawa istri tercintanya. Dunia Wawan runtuh seketika. Ia kehilangan bukan hanya pendamping hidup, tetapi juga mitra dalam berjuang menopang ekonomi keluarga.
Dalam keterbatasan yang semakin mencekik dan duka yang mendalam, Wawan berupaya keras menghidupi kedua putrinya seorang diri, hingga putri sulungnya kemudian menikah dan membangun rumah tangganya sendiri.
Kini, situasi Wawan semakin pelik. Usaha dagang asongan yang dulu menjadi tumpuan, tak lagi mampu menutup biaya hidup yang terus merangkak naik. Alih-alih untung, ia justru terjerat utang kepada bos pemilik barang dagangan. Modal kepercayaan itu kini menjadi beban yang membuatnya tak bisa bergerak.
Wawan kini praktis menjadi pengangguran. Untuk sekadar mengganjal perut, ia hanya mengandalkan panggilan kerja serabutan dari tetangga. Ada satu pengakuan yang meluncur dari mulutnya dengan penuh rasa malu, sebuah cermin betapa putus asanya keadaannya.
“Saking laparnya dan tidak ada uang, saya pernah terpaksa mencuri singkong milik orang,” akunya lirih, matanya berkaca-kaca.
Tempat tinggal Wawan saat ini, tinggal di kontrakan sempit di Kampung Leuwipanjang, RT 34 RW 08, Dusun Cibeuber, Desa Leuwipanjang, Kecamatan Leuwipanjang, Kabupaten Bandung Selatans, tempat satu-satunya tempat bernaung yang bisa ia peroleh. Biaya sewanya dibayarkan oleh putri bungsunya yang kini bekerja sebagai buruh pabrik.
Sang anak bungsu berusaha berbakti dengan membagi gajinya yang pas-pasan untuk biaya makan sang ayah. Namun, realitas ekonomi seringkali kejam. Gaji buruh pabrik seringkali tidak cukup. Ketika sang anak harus membeli kebutuhan dasar seperti pakaian, jatah makan untuk Wawan pun terpaksa berkurang.
Ironisnya, meski hidup jauh di bawah garis kemiskinan dengan kondisi hunian dan ekonomi yang sangat memprihatinkan, Wawan mengaku belum pernah sekali pun tersentuh oleh program bantuan dari pemerintah. Ia seolah menjadi warga negara yang tak terlihat oleh sistem jaminan sosial.
Di tengah himpitan hidup yang seakan tak memberi jeda, harapan Wawan masih tersisa, meski redup. Ia tidak meminta belas kasihan yang berlebihan, hanya kesempatan untuk kembali berdaya.
“Saya berharap ada dermawan yang mau mengulurkan tangan, atau lebih baik lagi, ada yang mau mempekerjakan saya. Saya masih kuat bekerja,” pungkasnya penuh harap, menutup kisahnya dari balik dinding kontrakan yang lembap.
Editor : Hamjah















