Menu

Mode Gelap

Sukabumi · 19 Agu 2025 15:59 WIB

Kisah Pilu Raya, Bocah 3 Tahun di Sukabumi yang Berpulang Setelah Berjuang Melawan Infeksi Parasit


					Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, saat memberikan penjelasan kepada awak media, Selasa (19/8/2025). Wardi mengonfirmasi kisah tragis yang menimpa warganya, Raya (3), dan menyoroti kendala sosial serta administrasi yang dihadapi keluarga almarhumah. Perbesar

Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, saat memberikan penjelasan kepada awak media, Selasa (19/8/2025). Wardi mengonfirmasi kisah tragis yang menimpa warganya, Raya (3), dan menyoroti kendala sosial serta administrasi yang dihadapi keluarga almarhumah.

JENTERANEWS.com – Sebuah video memilukan yang viral di media sosial, memperlihatkan perjuangan terakhir seorang bocah perempuan berusia tiga tahun bernama Raya, berakhir dengan kabar duka. Raya, yang tubuhnya digerogoti penyakit parah dan infeksi parasit, mengembuskan napas terakhirnya pada 22 Juli 2025. Kisahnya menyoroti potret kemiskinan, keterbatasan akses kesehatan, dan kondisi sosial yang memprihatinkan di Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi. Ia membenarkan bahwa Raya adalah putri dari pasangan Udin (32) dan Endah (38), warga desanya yang hidup dalam kondisi serba terbatas.

“Benar, itu warga kami. Almarhumah meninggal dunia pada 22 Juli 2025 dan sudah dikebumikan malam itu juga,” ujar Wardi saat dihubungi awak media di RSUD Sekawan Cibadak, Selasa (19/8/2025).

Menurut Wardi, tragedi yang menimpa Raya tidak dapat dilepaskan dari kondisi kedua orang tuanya yang diduga mengalami keterbelakangan mental. Keterbatasan ini membuat kemampuan mereka untuk merawat dan mengawasi tumbuh kembang Raya menjadi sangat minim.

“Kedua orangtuanya memiliki keterbelakangan mental, sehingga daya asuh terhadap anaknya kurang. Mereka tidak tahu persis bagaimana kondisi kesehatan anaknya yang sebenarnya,” jelas Wardi.

Kondisi ini diperparah dengan lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat. Sebelum penyakitnya memburuk, Raya sering menghabiskan waktu bermain di bawah kolong rumah panggung bersama ayam-ayam, sebuah lingkungan yang rentan menjadi sumber penularan kuman dan parasit.

Perjuangan Raya untuk mendapatkan kesembuhan menemui jalan terjal. Awalnya, ia mengalami demam tinggi dan setelah diperiksa di puskesmas terdekat, didiagnosis menderita penyakit paru-paru. Namun, upaya pengobatan lebih lanjut terhambat oleh masalah administrasi kependudukan.

“Keluarganya tidak punya Kartu Keluarga (KK) dan KTP sama sekali, sehingga tidak terdaftar di BPJS. Ini menjadi kendala besar,” tutur Wardi.

Meskipun sering dibawa berobat ke klinik dan puskesmas, penanganan yang diterima Raya tidak maksimal karena keterbatasan tersebut. Kondisinya terus menurun hingga akhirnya kisahnya sampai ke telinga sebuah lembaga filantropi.

“Setelah ada laporan dari salah satu keluarga yang mengenal pihak rumah teduh (lembaga filantropi), Raya langsung dijemput dengan ambulans untuk dirawat secara intensif. Pemerintah desa baru mengetahui sampai di situ,” tambahnya.

Dengan bantuan para dermawan, Raya akhirnya mendapatkan perawatan medis yang layak selama kurang lebih sembilan hari. Namun, penyakit yang telah menjalar parah di tubuhnya terbukti terlalu berat untuk dilawan. Video yang viral di media sosial, yang menunjukkan cacing-cacing dikeluarkan dari tubuhnya, menjadi saksi bisu betapa parah infeksi yang dideritanya.

Sayangnya, takdir berkata lain. Raya dinyatakan meninggal dunia pada malam hari tanggal 22 Juli 2025.

Wardi menegaskan bahwa masyarakat sekitar dan sanak saudara bukannya tidak peduli. Mereka sering kali membantu mengawasi Raya dan kakaknya yang berusia 7 tahun, serta memberikan bantuan seadanya. Namun, kombinasi dari pola hidup yang tidak terkontrol, minimnya pengawasan utama, dan penyakit yang datang tiba-tiba, membuat nyawa bocah malang itu tidak tertolong.

“Kami sering kontrol, kalau ada rezeki sedikit juga kami suka beri, karena orang tuanya juga tidak bisa bekerja. Tapi yang namanya penyakit, kita tidak pernah tahu,” tutup Wardi dengan nada prihatin.

Kisah Raya menjadi pengingat pahit bahwa di balik hiruk pikuk dunia digital, masih ada potret kehidupan nyata yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan segera, baik dari masyarakat maupun pemerintah.


Reporter : Joko S

Redaktur : Hamjah


 

Artikel ini telah dibaca 73 kali

Baca Lainnya

Hujan Deras Terjang Sukabumi, TPT dan MCK Masjid Alpurqon Gunungguruh Hancur Digerus Longsor

9 Maret 2026 - 19:55 WIB

Kondisi mengenaskan di lokasi longsor yang menghancurkan Tembok Penahan Tanah (TPT) dan MCK Masjid Alpurqon di Kampung Kubang Jaya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, Sukabumi. Terlihat puing-puing material bangunan yang hancur total memenuhi kaki tebing yang longsor.

Wabup Sukabumi Instruksikan Seluruh Lini Siaga Penuh dalam Operasi Ketupat Lodaya 2026

9 Maret 2026 - 19:39 WIB

Rapat Koordinasi (Rakor) Lintas Sektoral Operasi Ketupat Lodaya 2026 di Aula Rekonfu, Polres Sukabumi Kota, Senin (09/03/2026).

Jelang Idulfitri 1447 H, Bupati Sukabumi Instruksikan Kesiapsiagaan Penuh dan Pantau Harga Bahan Pokok

9 Maret 2026 - 19:29 WIB

Bupati Sukabumi H. Asep Japar (tengah) didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi H. Ade Suryaman (kanan) dan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Sukabumi (kiri) menunjukkan naskah Perjanjian Kerja Sama (MoU) di bidang Hukum Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun)

Sukses Digelar Sepekan, Bazar Kuliner Ramadan Sukabumi Catat Omzet Rp211 Juta, Wabup: Bukti Geliat Positif Ekonomi UMKM

8 Maret 2026 - 20:20 WIB

Wakil Bupati Sukabumi, H. Andreas (tengah, berkemeja batik), berfoto bersama sejumlah pelaku UMKM dan jajaran pejabat daerah usai penyerahan hadiah pada penutupan Bazar Cullinary Ramadhan 1447 Hijriah di Lapang STISIP Widyapuri Mandiri, Cisaat, Minggu (8/3/2026).

Bantah Narasi Keliru, Seskab Teddy Tegaskan Program Makan Bergizi Tak Gerus Anggaran Pendidikan

8 Maret 2026 - 19:51 WIB

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memberikan keterangan pers guna meluruskan narasi yang keliru terkait program makan bergizi gratis.

Tembus 61 Juta Penerima, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Indonesia Tempati Peringkat Kedua Terbesar di Dunia

8 Maret 2026 - 19:20 WIB

Trending di Sukabumi