JENTERANEWS.com – Sebuah industri rumahan pengolahan pelampung dan kandang kambing di Kampung Cipurut RT 023/RW 007, Desa Gunungendut, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, ludes dilalap si jago merah pada Senin siang (21/7/2025). Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 12:00 WIB ini diduga kuat dipicu oleh aktivitas pembakaran limbah spon yang tak terkendali.
Berdasarkan laporan dari Suhendi, anggota Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Kecamatan Kalapanunggal, api dengan cepat membesar dan merembet ke dua bangunan semi permanen yang terdiri dari tempat produksi pelampung pancing (home industry) dan sebuah kandang kambing yang menyatu dengan bangunan tersebut.
“Menurut assessment di lokasi, penyebab kebakaran diduga berasal dari pembakaran limbah spon yang dilakukan di sekitar area bangunan,” ujar Suhendi dalam laporannya.
Akibat kejadian ini, dua bangunan dilaporkan mengalami kerusakan berat. Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden tersebut. Namun, kerugian materiil ditaksir cukup signifikan, meskipun rinciannya masih dalam proses penghitungan.
Tim gabungan yang terdiri dari TAGANA, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK), Babinsa, dan Bhabinkamtibmas serta perangkat desa setempat telah turun ke lokasi untuk melakukan penanganan awal dan pendataan.
“Kami langsung berkoordinasi dengan seluruh unsur terkait untuk melakukan assessment dan penanganan awal,” tambah Suhendi.
Saat ini, warga yang terdampak sangat membutuhkan bantuan logistik darurat untuk kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan data yang dihimpun, belum ada bantuan logistik yang tersalurkan kepada korban.
Peristiwa ini terjadi di tengah cuaca panas yang melanda wilayah Sukabumi. Tim gabungan di lokasi juga tak henti-hentinya memberikan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana kebakaran di musim kemarau.
“Mengingat cuaca saat ini sangat panas, kami mengimbau warga untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran sampah atau limbah sembarangan yang dapat memicu kebakaran yang lebih luas,” pungkas Suhendi.
Dua orang personel TAGANA terlibat langsung dalam proses assessment dan koordinasi penanganan bencana ini, memastikan informasi terhimpun dengan akurat untuk penyaluran bantuan lebih lanjut.(*)
Kor : Fajar
Redaktur: Hamjah















