Menu

Mode Gelap

Sukabumi · 13 Jul 2025 15:01 WIB

Penantian Panjang Penyintas Bencana Sukabumi: Ratusan Keluarga Masih Menunggu Hunian Tetap


					Bupati Sukabumi, Asep Japar (kiri/tengah), saat menghadiri acara Silaturahmi Relawan Bencana di Bumi Mandiri Center, Kadudampit, Sabtu (12/7/2025). Dalam kesempatan tersebut, Bupati Asep Japar menjelaskan kendala ketersediaan lahan yang menghambat proses pembangunan hunian tetap (huntap) bagi para penyintas bencana. Perbesar

Bupati Sukabumi, Asep Japar (kiri/tengah), saat menghadiri acara Silaturahmi Relawan Bencana di Bumi Mandiri Center, Kadudampit, Sabtu (12/7/2025). Dalam kesempatan tersebut, Bupati Asep Japar menjelaskan kendala ketersediaan lahan yang menghambat proses pembangunan hunian tetap (huntap) bagi para penyintas bencana.

JENTERANEWS.com – Tujuh bulan pasca bencana hidrometeorologi dahsyat yang menerjang Kabupaten Sukabumi, perjuangan para penyintas untuk mendapatkan kehidupan yang layak masih terus berlanjut. Ratusan keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir, tanah longsor, dan pergerakan tanah pada Desember 2024 dan Maret 2025 lalu hingga kini masih menantikan kepastian hunian tetap (huntap).

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi, di bawah komando Bupati Asep Japar, menegaskan bahwa penanganan pasca bencana menjadi prioritas utama. Namun, jalan menuju pemulihan total masih terjal, terutama dalam penyediaan tempat tinggal permanen bagi warga terdampak.

“Itu sebetulnya sudah diusulkan oleh BNPB, mudah-mudahan dalam waktu singkat bisa terealisasi,” ujar Bupati Asep Japar usai menghadiri acara Silaturahmi Relawan Bencana di Bumi Mandiri Center, Kadudampit, Sabtu (12/7/2025).

Bupati yang akrab disapa Asjap itu mengakui bahwa skala kerusakan, khususnya dari bencana pada 4 Desember 2024, sangat masif, menyebabkan jumlah penyintas yang membutuhkan relokasi membengkak. “Memang jumlahnya cukup banyak, tapi sebagian sudah mendapat huntap dan hunian sementara (huntara). Untuk kejadian besar pada 4 Desember itu sangat banyak, mudah-mudahan bisa segera tertangani,” tambahnya dengan nada optimistis.

Salah satu batu sandungan terbesar dalam percepatan program relokasi adalah ketersediaan lahan yang aman dan layak huni. Menurut Asjap, meskipun Kabupaten Sukabumi memiliki area perkebunan yang luas, proses alih fungsi lahan untuk pemukiman tidaklah sederhana.

“Ketika ingin membangun huntap, kami masih terkendala soal lahan,” jelas Asjap. “Harapannya, tanah milik PTPN atau perusahaan lain bisa dihibahkan atau dimanfaatkan untuk keperluan relokasi warga terdampak.”

Harapan ini menjadi sinyal kuat bahwa Pemkab Sukabumi membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk dari badan usaha milik negara dan swasta, untuk memecahkan kebuntuan masalah pertanahan demi kemanusiaan.

Di tengah proses birokrasi pengajuan anggaran ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang masih berjalan, denyut kemanusiaan di lapangan terus berdetak kencang berkat peran para relawan.

“Insya Allah kita bersama relawan sudah mengusulkan ke BNPB dan sekarang sedang menunggu prosesnya,” ucap Asjap, mengapresiasi dukungan tanpa henti dari para relawan lokal maupun nasional.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, memberikan data konkret mengenai kondisi di lapangan. Hingga saat ini, sebanyak 120 unit hunian sementara (huntara) telah berhasil dibangun dan kini ditempati oleh para penyintas.

“Total huntara yang sudah dibangun sebanyak 120 unit. Beberapa penyintas lainnya tinggal di rumah kontrakan karena keterbatasan hunian sementara,” terang Deden.

Kabar baik datang dari Kecamatan Lengkong, di mana semangat gotong royong para relawan membuahkan hasil nyata. “Hari ini, teman-teman relawan sudah menyelesaikan pembangunan 20 unit huntap di Lengkong,” ungkap Deden.

Pembangunan ini menjadi secercah harapan di tengah penantian panjang, membuktikan bahwa kolaborasi dan solidaritas adalah kunci untuk memulihkan Sukabumi. “Mudah-mudahan bantuan dan fasilitas dari relawan bisa terus terealisasi,” tutupnya.(*)


Reporter: Joko S

Redaktur: Hamjah


 

Artikel ini telah dibaca 26 kali

Baca Lainnya

Beraksi di 12 TKP, Sindikat Penipuan dan Penggelapan Motor di Sukabumi Diringkus Sat Reskrim

13 Januari 2026 - 12:50 WIB

Terduga pelaku utama kasus penipuan dan penggelapan motor berinisial AS (tengah, berbaju oranye) saat digiring oleh petugas Unit 1 Jatanras Sat Reskrim di Mapolres Sukabumi Kota untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Berujung Luka Sayat di Wajah, Duel ‘Ketersinggungan’ di Ciandam Sukabumi Berakhir di Jeruji Besi

13 Januari 2026 - 12:41 WIB

Terduga pelaku penganiayaan berinisial YH (kiri) saat menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik di Mapolsek Cibeureum, Kota Sukabumi, usai ditangkap akibat melukai korban dengan senjata tajam.

Diduga Lecehkan Santri Sejak Setahun Terakhir, Oknum Guru Ngaji di Cicurug Diamankan Polisi

13 Januari 2026 - 12:33 WIB

Pihak kepolisian mengamankan seorang oknum guru ngaji di Cicurug, Kabupaten Sukabumi, atas dugaan tindak pidana kekerasan seksual terhadap sejumlah anak didiknya. Kasus ini kini ditangani Unit PPA Polres Sukabumi.

Hujan Deras Guyur Sagaranten, Pohon Jati 15 Meter Tumbang Timpa Rumah Warga di Pasanggrahan

13 Januari 2026 - 12:21 WIB

Kondisi rumah milik Enep (53) di Kampung Cimangir, Desa Pasanggrahan, yang tertimpa pohon jati usai hujan deras mengguyur wilayah Sagaranten, Selasa (13/1/2026).

Soroti Jalan Rusak hingga Dugaan Kerugian Rp27 Miliar, BEM PTNU Sukabumi Raya Geruduk Kantor Dinas BMPR Jabar

13 Januari 2026 - 12:14 WIB

Rakyat Bayar Pajak, Pemerintah Mana Tanggung Jawab?", demikian bunyi poster yang dibawa salah satu peserta aksi BEM PTNU Sukabumi Raya di depan Kantor Dinas BMPR Jabar Wilayah II, Sukabumi, Senin (12/1/2025). Aksi ini merupakan buntut kekecewaan masyarakat atas buruknya tata kelola dan pemeliharaan jalan provinsi.

Rumah Semi Permanen di Kabandungan Ambruk, 10 Jiwa Terdampak Butuh Bantuan Mendesak

12 Januari 2026 - 18:48 WIB

Tampak bangunan rumah semi permanen milik Bapak Darma di Kampung Lemah Duhur, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, yang ambruk pada bagian atap dan dinding, Senin (12/1/2026). Sebanyak 10 jiwa terdampak akibat kejadian ini.
Trending di Sukabumi