Menu

Mode Gelap

Organisasi · 28 Nov 2022 15:10 WIB

PSL IPB Ajak Masyarakat Dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan Terhadap Perubahan Iklim


					Seminar Nasional dan rapat kerja himpunan alumni PSL IPB Perbesar

Seminar Nasional dan rapat kerja himpunan alumni PSL IPB

JENTERANEWS.com – Forum Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (ECOLOGICA PSL IPB), Himpunan Alumni (HA) PSL IPB  bersama Kementerian Pertanian mendorong Ketahanan Pangan berbasis komunitas antisipasi ancaman krisis global.

Sektor pertanian memiliki kontribusi besar terhadap perubahan iklim yang diakibatkan oleh efek gas rumah kaca. Adapun faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah penggunaan pupuk kimia dan pupuk yang belum terfermentasi sempurna. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Ecologica PSL IPB, Mohamad Jakaria dalam BTS Propaktani yang sekaligus merupakan Seminar Nasional dan Rapat Kerja HA PSL IPB (19/11) dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan terhadap perubahan iklim berbasis komunitas.

PSL IPB Ajak Masyarakat Dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan Terhadap Perubahan Iklim

Poto bersama Himpunan Alumni (HA) PSL IPB bersama Kementerian Pertanian

Acara Seminar Nasional dan Rapat Kerja HA PSL membahas peran pertanian terhadap ketahanan pangan dan ketahanan iklim serta solusi-solusi dalam mengatasi perubahan iklim. Acara ini juga di dukung penuh oleh PT Pupuk Indonesia.

Ketua Prodi PSL IPB, Prof. Hadi Susilo Arifin, MS mengatakan kegiatan Seminar Nasional dan Rapat Kerja ini merupakan momentum yang baik. PSL ini merupakan prodi besar dengan kualitas alumni yang hebat dan para mahasiswa dapat belajar langsung dengan seniornya yang terhimpun dalam HA PSL IPB.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Dr. Ir. Suwandi, M.Si yang turut hadir dalam acara tersebut, menyampaikan bahwa saat ini sudah banyak penggunaan produk pertanian yang ramah lingkungan. Kemudian banyak produk limbah produksi yang dikembalikan ke alam hingga dapat dijadikan energi dengan menggunakan prinsip 3R, yaitu reduce, recycle, reuse.

Baca Juga:   Kunker BBPMP Jabar, Sekda Paparkan Implementasi Kurikulum Merdeka di Kabupaten Sukabumi

“Disarankan untuk membentuk badan usaha pertanian kampus. Kita perluas jangkauannya dari sabang hingga merauke. Kita ajarkan bagaimana menghasilkan produk pertanian yang sehat. Kita membangun pertanian tidak hanya melihat motif dari segi ekonominya saja, tapi juga lingkungan dan sosialnya untuk pertanian yang keberlanjutan,” ujar Dr. Ir. Suwandi, M.Si.

Selain itu, Dr. Ir. Suwandi, M.Si. menjelaskan dengan memperbaiki aspek sosial dan ekonomi, akan terjadi kepaduan dari masing-masing aspek sehingga nilai keberlanjutan itu merupakan resultant dari perbaikan aspek-aspek tersebut.

“Sebagai contoh dilapangan, kita sudah cukup lama mengenal biosaka yang bisa digunakan di berbagai daerah. Biosaka berasal dari rumput yang dianggap gulma, tapi ternyata bisa menjadi sahabat petani. Hasil dari penggunaan biosaka ini sangat baik. Rumput yang diramu menjadi biosaka ini bukan pupuk atau makanan tanaman, juga bukan pestisida, tapi merupakan elisitor yaitu bahan-bahan yang bermanfaat untuk memberi sinyal pada tanaman sehingga bisa merangsang pertumbuhan tanaman. Kita uji lab kandungan hormone pada biosaka ini dan hasilnya semuanya bagus. Kandungan fungi, spora dan sejenisnya juga tinggi. Begitupun kandungan bakterinya semua tinggi,” ungkap Dr. Ir. Suwandi, M.Si.

Baca Juga:   Sudah Dilengkapi Berbagai Fasilitas, Objek Wisata Gunung Bentang Malah Terbengkalai

“Kita wujudkan tanah nusantara sebagai land of harmony. Harmoni dalam ilmu ekologi bukan hanya lahannya tapi juga manusia dan lingkungannya sehingga seluruh tanaman yang ditanam di Indonesia akan menghasilkan produk yang sehat untuk dikonsumsi dan ke depannya diharapkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia,” pungkasnya.

Ibu Dr. Sri Wahyuni, S.E., M.P ketua P4S SWEN Inovasi Mandiri menyampaikan bahwa dukungan mandiri pangan ini untuk usaha integrated farming, terdiri dari beberapa unit usaha, tapi utamanya mengenai efisiensi pemanfataan input dan output hasil pertanian. Hasil buangan dari suatu usaha dijadikan usaha lain. Itulah yang disebut dari alam kembali ke alam. Dengan adanya pemanfataan pekarangan rumah, dapat mendukung ketahanan pangan. Pertanian terpadu ini menjadi solusi untuk menjaga keamanan pangan, energi, menyediakan udara yang bersih, dan menciptakan lingkungan hidup yang nyaman.

“Luas lahan yang dibutuhkan untuk pertanian terpadu ini minimal 500 meter sudah bisa ditanami. Di Ciomas ini dengan lahan 1500 meter bisa ditanami dengan berbagai tanaman. Hampir 70 jenis tanaman ada di lahan tersebut. Kita harus bisa mengatur dari biogasnya hingga tanaman lain dan semua produk input outputnya digunakan kembali, tidak ada yang dibuang,” jelas Ibu Dr. Sri Wahyuni, S.E., M.P.

Baca Juga:   Bupati Sukabumi Membuka Rapat Kerja Gerakan Pramuka, Dan Serahkan Bantuan

“Sebanyak 70% kebutuhan pangan bisa terpenuhi oleh hasil tanaman yang ditanam di pekarangan tersebut. Mungkin hanya perlu untuk membeli beras saja. Namun kebutuhan pangan lain bisa didapatkan dari pekarangan kita sendiri,” tambahnya.

Sebagai penggagas biosaka, M. Anshar, menjelaskan penggunaan biosaka sudah menghasilkan dampak yang sangat signifikan dalam peningkatan produksi pangan. Banyak penelitian yang mengatakan bahwa lahan pertanian di Indonesia adalah lahan yang kritis. Dengan penggunaan biosaka ini bisa membantu mengembalikan kesehatan tanah.

Menurutnya, perlu dicermati bahwa semua tanaman membutuhkan unsur hara, makro dan mikro. Yang paling utama adalah unsur NPK. Namun tanaman liar yang ada di pinggir jalan bisa tumbuh subur dan tidak nampak tanaman tersebut kekurangan unsur-unsur tersebut. Tanaman liar mampu mencukupi kebutuhannya meskipun tanpa pupuk. Oleh karena itu, biosaka menggunakan bahan dari jenis rumput yang sehat dan tidak mengandung hama.

“Tanaman budidaya yang diberi perlakuan biosaka dapat tumbuh dengan baik meskipun dilakukan pengurangan pupuk. Kemudian tanaman tersebut mampu tumbuh dengan baik meskipun tanaman liar tidak dibersihkan. Biosaka ini tidak terjual di toko manapun, karena para petani bisa membuat ramuan ini sendiri dengan menggunakan bahan yang ada di sekitar,” jelas M. Anshar.***

Artikel ini telah dibaca 19 kali

Baca Lainnya

PK- KNPI Kecamatan Cidadap Bersama Puskesmas Gelar Diseminasi Bahaya Narkoba dan Seks Bebas

2 Februari 2023 - 21:15 WIB

PK- KNPI Kecamatan Cidadap Bersama Puskesmas Gelar Diseminasi Bahaya Narkoba dan Seks Bebas

Lewat Peragaan Manasik Haji Siswa PAUD se-Kecamatan Sagaranten Belajar Berhaji

18 Desember 2022 - 13:00 WIB

Lewat Peragaan Manasik Haji Siswa PAUD se-Kecamatan Sagaranten Belajar Berhaji

KYRD Jampangkulon, Puluhan Miras dan Kenalpot Bising Diamankan Tim Gabungan

18 Desember 2022 - 10:19 WIB

KYRD Jampangkulon, Puluhan Miras dan Kenalpot Bising Diamankan Tim Gabungan

Rapat Kelembagaan Bagi Komite Sekolah Tingkat SD/MI dan SMP/MTs, Bupati Harap Peningkatan Kualitas Mutu Pendidikan

10 Desember 2022 - 14:38 WIB

Rapat Kelembagaan Bagi Komite Sekolah Tingkat SD/MI dan SMP/MTs, Bupati Harap Peningkatan Kualitas Mutu Pendidikan

Anniversary Pemuda Tani Indonesia Ke-36, gelar berbagai kegiatan

28 November 2022 - 18:00 WIB

Tanamkan Cinta Tanah Air Sejak Dini, Babinsa Koramil 0708/Cikembar Berikan Materi Wasbang

28 November 2022 - 12:45 WIB

Tanamkan Cinta Tanah Air Sejak Dini, Babinsa Koramil 0708/Cikembar Berikan Matei Wasbang
Trending di Pendidikan
error: Content is protected !!