JENTERANEWS.com – Sebuah video yang memperlihatkan aksi dramatis warga memikul keranda jenazah menyeberangi derasnya aliran Sungai Cikarang di Kampung Tanjung, Kabupaten Sukabumi, viral di media sosial dan menyentuh nurani publik. Peristiwa memilukan ini menyoroti kondisi darurat yang dihadapi warga setelah jembatan vital penghubung Desa Tanjung, Kecamatan Jampangkulon, dengan Desa Mekarmukti, Kecamatan Waluran, hancur total akibat diterjang banjir.
Menanggapi cepat keresahan masyarakat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi melalui aparat kewilayahan menegaskan komitmennya untuk segera membangun kembali jembatan tersebut. Rencananya, proses pembangunan akan dimulai pada September atau Oktober 2025.
Kepala Desa Tanjung, Dasep Taofiqul Hikmah, mengungkapkan bahwa koordinasi antara pemerintah daerah dan provinsi telah berjalan. Tim teknis bahkan sudah turun langsung ke lokasi untuk melakukan persiapan awal.
“Kemarin, dari Dinas PU Bina Marga provinsi dan dari DPU Kabupaten sudah melakukan survei, sekalian pengukuran serta membuat desain gambar. Insya Allah rencananya September atau Oktober mulai dikerjakan,” kata Dasep kepada awak media, Rabu (27/8/2025).
Jembatan Tanjung bukan sekadar infrastruktur, melainkan urat nadi yang menopang berbagai sendi kehidupan masyarakat. Camat Jampangkulon, Dading, yang meninjau langsung lokasi kejadian, membenarkan betapa krusialnya jembatan tersebut.
“Pemerintah Kabupaten Sukabumi dalam waktu dekat akan segera membangun kembali jembatan ini karena menjadi satu-satunya akses vital masyarakat,” tegas Dading.
Menurutnya, ini adalah kali kedua jembatan tersebut putus dalam waktu kurang dari setahun. Jembatan Tanjung sebelumnya rusak parah pada Desember 2024. Dengan semangat gotong royong, warga sempat membangun kembali jembatan darurat secara swadaya, namun nahas, jembatan itu kembali hanyut tersapu banjir pada Maret 2025.
“Jembatan Tanjung merupakan urat nadi aktivitas masyarakat, baik untuk ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan. Bahkan akses menuju rumah sakit jauh lebih dekat jika lewat jembatan ini,” ujar Dading, menggarisbawahi urgensi pembangunan.
Meski respons pemerintah dianggap cepat, pembangunan yang akan dilakukan dalam waktu dekat masih berupa jembatan gantung, serupa dengan konstruksi sebelumnya. Warga dan aparat setempat menaruh harapan besar agar ke depan pemerintah dapat merealisasikan pembangunan jembatan permanen yang lebih kokoh dan mampu dilalui kendaraan roda empat.
“Minimal akan dibangun jembatan gantung seperti dulu, dan kami berharap bisa terealisasi jembatan permanen yang dapat dilalui kendaraan roda empat,” tutup Dading.
Kini, warga di dua kecamatan tersebut menanti realisasi janji pemerintah, berharap agar peristiwa memilukan seperti menggotong keranda menyeberangi sungai tidak akan pernah terulang kembali.(*)















