Keluhan Warga: Volume Musik dan Kesesuaian Norma
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, keberatan warga tidak hanya berfokus pada aktivitas di area kolam renang, tetapi juga durasi dan volume suara musik yang dinilai terlalu keras hingga sekitar pukul 22.00 WIB. Warga menilai kebisingan dari acara yang menghadirkan penampilan disc jockey (DJ), band musik, dan tarian modern tersebut sangat mengganggu waktu istirahat masyarakat sekitar.
Selain masalah kebisingan, penampilan sejumlah talent perempuan yang mengenakan pakaian renang turut menjadi sorotan utama. Sebagian warga menilai konsep dan busana yang ditampilkan kurang sesuai dengan kultur serta norma sosial yang berlaku di masyarakat Sukabumi.
Klarifikasi dan Permintaan Maaf dari Penyelenggara
Menanggapi polemik yang terjadi, pihak penyelenggara Ngoetfest x SantaSea, Muhamad Abudzar Alghifari alias Abuzar, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat atas kegaduhan dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan.
“Kami dari pihak panitia dengan segala kerendahan hati memohon maaf jika penyelenggaraan acara Ngoet Fest membuat gaduh dan ketidaknyamanannya di masyarakat,” ujar Abuzar saat dikonfirmasi, Senin (21/9/2026).
Abuzar juga memberikan klarifikasi terkait aturan ketat yang telah diterapkan panitia selama acara berlangsung. Ia menegaskan bahwa pihak panitia secara tegas melarang konsumsi minuman beralkohol, penggunaan narkotika, serta obat-obatan terlarang bagi seluruh peserta.
Terkait busana pengisi acara, Abuzar membingkai bahwa panitia tidak mengizinkan penggunaan bikini seksi dan hanya memperbolehkan pemakaian pakaian renang standar. Menurutnya, konsep acara tersebut murni dirancang sebagai sarana hiburan bagi para pengunjung waterpark melalui suguhan musik dan seni tari. Kendati demikian, pihak penyelenggara mengakui bahwa konsep tersebut memicu pro dan kontra di tengah publik.
Komitmen Manajemen SantaSea Waterpark ke Depan
Sementara itu, Asisten Direktur SantaSea, Azwar Haikal, membenarkan adanya aduan dan keluhan dari warga sekitar. Ia menyatakan bahwa pihak manajemen menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi menyeluruh.
“Warga pada intinya menyesalkan adanya event seperti itu. Tapi seperti yang kita ketahui, adapun klarifikasi dari pihak Event Organizer (EO),” ucap Azwar.
Azwar menegaskan bahwa insiden ini menjadi pembelajaran berharga bagi manajemen SantaSea Waterpark untuk lebih memperhatikan dan menghormati kebudayaan serta kearifan lokal masyarakat Sukabumi pada masa mendatang.
Selain persoalan budaya, pihak manajemen mengakui bahwa volume suara merupakan salah satu keluhan terbesar dari warga. Oleh karena itu, SantaSea berkomitmen untuk melakukan pengaturan dan pengetatan volume suara secara lebih selektif pada setiap kegiatan yang diadakan di kemudian hari.
Sebagai tindak lanjut dari mediasi dan kesepakatan yang telah dicapai bersama warga, pihak manajemen SantaSea memastikan bahwa acara dengan konsep pool party serupa tidak akan digelar kembali di masa mendatang. Panitia penyelenggara pun berjanji akan bersikap lebih bijak dan teliti dalam mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat sebelum menyelenggarakan acara hiburan publik berikutnya.(*)
Eksplorasi konten lain dari JENTERA NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















