JENTERANEWS.com – Seorang wanita bernama Dewi Nurhayati, pemilik akun Facebook Dewi Nurhayati, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka setelah unggahannya yang mengaitkan kematian seorang siswi Sekolah Dasar (SD) di Sukabumi dengan program makan bergizi gratis menjadi viral dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Dalam sebuah video klarifikasi yang beredar luas, Dewi dengan wajah penuh penyesalan mengakui kesalahannya dan meluruskan informasi yang telah ia sebar.
“Sehubungan dengan komentar yang saya unggah di akun Facebook milik saya, dengan ini saya menyatakan permohonan maaf,” ujar Dewi mengawali pernyataannya.
Permohonan maaf tersebut secara khusus ia tujukan kepada Yayasan Gunung Gede Bersahaja yang menaungi SPPG Sirnasari Surade. Ia mengakui bahwa komentarnya telah menyebabkan kegaduhan dan citra negatif terhadap lembaga tersebut.
Dewi kemudian memberikan klarifikasi terkait penyebab meninggalnya siswi bernama Salsabila, murid dari SDN 4 Citanglar, Desa Sirnasari, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Ia menegaskan bahwa narasi yang ia bangun sebelumnya adalah tidak benar.
“Bahwa terkait meninggalnya siswi yang bernama Salsabila, komentar yang saya buat tidaklah benar,” tegasnya.
Berdasarkan informasi yang ia sampaikan dalam klarifikasinya, Salsabila meninggal dunia murni karena kondisi medis yang dideritanya. “Melainkan, siswi tersebut meninggal dikarenakan sakit asma berat dengan hipoksia serebri dan syok,” jelas Dewi, meluruskan penyebab kematian sang siswi.
Dalam kesempatan yang sama, Dewi Nurhayati juga menyatakan dukungannya terhadap program pemerintah yang sempat ia sudutkan dalam unggahan hoaksnya.
“Secara pribadi, saya mendukung program pemerintah terkait makan bergizi gratis yang sangat bermanfaat,” katanya.
Menutup pernyataannya, Dewi mengimbau kepada seluruh pengguna media sosial untuk lebih bijak dan berhati-hati dalam menyebarkan informasi agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Ia mengaku sangat menyesal atas perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan serupa di kemudian hari.
“Saya mengimbau kepada pengguna media sosial lainnya untuk lebih bijak menggunakan sosial media supaya tidak merugikan diri sendiri dan orang lain seperti yang saya lakukan. Sekali lagi, saya sangat menyesal,” pungkasnya.
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi publik tentang pentingnya verifikasi informasi sebelum membagikannya di media sosial, serta dampak serius dari penyebaran hoaks yang dapat menimbulkan kepanikan dan merusak reputasi pihak lain.(*)
Kor : Ecclek
Editor: Hamjah















