JENTERANEWS.com — Aktivitas virus Influenza A dilaporkan mengalami peningkatan di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan kasus salah satunya mencuat di Kota Bandung, Jawa Barat, yang ditandai dengan meningkatnya angka kunjungan masyarakat ke berbagai fasilitas kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Sony Adam, membenarkan adanya peningkatan kasus influenza di wilayahnya. Kondisi ini membuat masyarakat lebih banyak mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan perawatan.
“Untuk kasus influenza di Kota Bandung ada peningkatan,” ujar Sony, mengonfirmasi bahwa tren ini turut berdampak pada lonjakan kunjungan ke instalasi gawat darurat (IGD).
Secara nasional, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat peningkatan aktivitas influenza sepanjang periode Agustus hingga September. Berdasarkan data surveilans sentinel pada minggu ke-38, angka positivity rate influenza mencapai 56 persen. Dari 265 spesimen yang diperiksa, sebanyak 148 spesimen terkonfirmasi positif influenza dengan dominasi subtipe Influenza A(H1N1)pdm09.
Otoritas kesehatan menegaskan bahwa angka positivity rate 56 persen tersebut mencerminkan proporsi sampel positif dari total spesimen yang diperiksa melalui sistem pemantauan, bukan berarti separuh dari total populasi Indonesia terjangkit influenza. Selain itu, tingkat aktivitas influenza di fasilitas kesehatan primer (puskesmas) masih berada pada kategori sedang (medium), sedangkan di tingkat rumah sakit berada dalam kategori rendah. Kenaikan kasus pada rentang Agustus–September ini dinilai masih sejalan dengan pola dinamika musiman tahunan di Indonesia.
Karakteristik Virus Influenza A
Secara medis, influenza merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh virus influenza. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan virus ini ke dalam empat tipe utama, yakni A, B, C, dan D. Dari keempatnya, tipe A dan B menjadi biang keladi utama terjadinya epidemi influenza musiman pada manusia.
Khusus Influenza A, pengelompokan subtipe dilakukan berdasarkan kombinasi dua jenis protein di permukaan virus. Saat ini, dua subtipe Influenza A yang aktif bersirkulasi pada populasi manusia adalah A(H1N1) dan A(H3N2).
Penularan virus terjadi secara cepat melalui percikan (droplet) saluran pernapasan saat individu terinfeksi batuk atau bersin. Gejala klinis yang ditimbulkan meliputi:
- Demam dan tubuh terasa lemas
- Nyeri otot (pegal-pegal) dan sakit kepala
- Mual dan gangguan pernapasan ringan hingga sedang
Meskipun sebagian besar pasien dapat pulih secara mandiri, infeksi Influenza A berpotensi memicu komplikasi berat pada kelompok rentan, seperti lansia, anak-anak, dan individu dengan penyakit penyerta (komorbid).
Rekam Jejak Pandemi Global
Meski kini menjadi bagian dari flu musiman, Influenza A memiliki sejarah panjang yang beberapa kali memicu pandemi global dan mengubah lanskap kesehatan dunia.
1. Pandemi Flu Spanyol (1918)
Salah satu krisis kesehatan terbesar dalam sejarah modern terjadi pada 1918–1919 akibat mewabahnya Influenza A(H1N1) atau Spanish Flu. WHO memperkirakan sekitar 500 juta orang—atau sepertiga populasi bumi kala itu—terinfeksi. Jumlah korban jiwa ditaksir mencapai 20 juta hingga 50 juta orang, melampaui total fatalitas akibat Perang Dunia I. Gelombang kedua pandemi ini tercatat sebagai fase yang paling mematikan.
2. Isolasi Virus dan Pengembangan Vaksin (1933–1952)
Penyebab pasti influenza baru teridentifikasi secara ilmiah pada tahun 1933 oleh tiga peneliti Inggris: Wilson Smith, C.H. Andrewes, dan P.P. Laidlaw dari National Institute for Medical Research, London. Penemuan ini membuktikan bahwa influenza dipicu oleh virus, bukan bakteri.
Penemuan tersebut mendorong lahirnya vaksin inaktif Influenza A dan B pada 1942, yang mendapatkan izin penggunaan luas pada 1945. Namun, kegagalan efikasi vaksin akibat mutasi virus pada musim flu 1947 mendorong WHO mendirikan Worldwide Influenza Centre pada 1948, yang berkembang menjadi Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS) pada 1952 guna memantau mutasi virus secara global.
3. Pandemi Asian Flu (1957) dan Hong Kong Flu (1968)
Dunia kembali dihantam pandemi influenza akibat subtipe baru:
1957–1958 (Asian Flu): Dipicu oleh subtipe Influenza A(H2N2) dengan estimasi kematian 1 juta hingga 4 juta jiwa di seluruh dunia.
1968 (Hong Kong Flu): Dipicu oleh subtipe Influenza A(H3N2) dengan angka fatalitas serupa. Keturunan virus H3N2 ini terus berevolusi dan tetap bersirkulasi hingga saat ini sebagai salah satu komponen flu musiman.
4. Pandemi Flu Babi / H1N1 (2009)
Pandemi influenza pertama pada abad ke-21 terjadi pada awal 2009 akibat merebaknya subtipe Influenza A(H1N1)pdm09, yang populer disebut “flu babi”. WHO mencatat pandemi ini menyebabkan 100.000 hingga 400.000 kematian pada tahun pertamanya. Berbeda dari flu musiman yang mendominasi kelompok lansia, varian H1N1 2009 berdampak signifikan pada anak-anak dan dewasa muda.
Transisi Menjadi Flu Musiman
Pasca-pandemi 2009 reda, virus A(H1N1)pdm09 tidak lenyap dari muka bumi. Virus tersebut bertransisi menjadi bagian dari sirkulasi influenza musiman tahunan yang secara rutin terdeteksi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Subtipe A(H1N1)pdm09 yang kini mendominasi hasil spesimen surveilans di Indonesia menjadi bukti nyata bagaimana virus Influenza A terus beradaptasi dan berdampingan dengan kehidupan manusia selama lebih dari satu abad.(*)
Sumber: @cb
Redaktur: Hamjah
Eksplorasi konten lain dari JENTERA NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















