JENTERANEWS.com – Di tengah ketidakpastian realisasi bantuan infrastruktur dari pemerintah provinsi, semangat gotong royong warga Desa Bangbayang, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, tak surut. Pada Sabtu (20/12/2025), puluhan warga terlihat memikul batang pohon kelapa sepanjang enam meter menyusuri jalanan berlumpur. Batang pohon tersebut bukan untuk dijual, melainkan satu-satunya harapan untuk menyambung akses hidup mereka yang terputus.
Aksi swadaya ini dipicu oleh kondisi infrastruktur yang kian memburuk di ruas jalan Cibugel-Bangbayang. Ketiadaan jembatan yang layak memaksa warga, termasuk anak-anak sekolah, bertaruh nyawa menyeberangi aliran sungai setiap harinya.
Kepala Desa Bangbayang, Dadang Mulyana, menyoroti realitas pahit yang harus dihadapi warganya. Dalam keterangannya, Dadang menggambarkan betapa memilukannya perjuangan anak-anak desa untuk sekadar menuntut ilmu.
“Kondisinya sangat memprihatinkan. Miris sekali melihat anak-anak kami harus turun ke sungai, basah-basahan, setiap kali berangkat atau pulang sekolah,” ujar Dadang dengan nada prihatin.
Ia menegaskan bahwa kesabaran warga ada batasnya. Pembangunan jembatan darurat ini adalah respons cepat desa untuk mencegah jatuhnya korban, sembari menunggu janji manis para pemangku kebijakan. “Kami menagih janji yang pernah diucapkan,” tegasnya.
Jembatan darurat yang dibangun secara swadaya tersebut terletak di atas aliran air yang bermuara ke Sungai Cicurug, tepatnya di Kampung Cimahpar. Lokasi ini merupakan akses vital yang menghubungkan Kampung Cimahpar dengan Kampung Tonjong.
Menurut Dadang, meskipun aliran tersebut tampak seperti selokan, saat musim penghujan debit airnya meningkat drastis dan arusnya menjadi deras.
“Memang ini sebenarnya hanya selokan, tapi kalau musim hujan airnya cukup deras karena alirannya menuju Sungai Cicurug. Untuk menjaga keselamatan warga dan kelancaran aktivitas, kami bersama masyarakat membuat jembatan darurat,” jelas Dadang, Sabtu (20/12/2025).
Pemilihan batang pohon kelapa didasarkan pada ketersediaan material dan urgensi kebutuhan. Batang tersebut dianggap cukup kuat untuk menopang beban pejalan kaki dan kendaraan roda dua untuk sementara waktu.
Polemik infrastruktur di Tegalbuleud sejatinya telah sampai ke telinga para petinggi daerah. Bupati Sukabumi, H. Asep Japar, sebelumnya telah merinci bahwa pembangunan jalan Tegalbuleud—yang mencakup tiga jembatan penghubung utama yakni Jembatan Bangbayang, Cimahpar, dan Nangela—adalah proyek prioritas. Namun, besarnya biaya membuat proyek ini sulit diakomodasi hanya dengan mengandalkan APBD Kabupaten Sukabumi.
Harapan sempat membumbung tinggi ketika Bupati Asep Japar memohon bantuan langsung kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Melalui kanal media sosial TikTok “KDM”, sempat tersiar kabar kesanggupan Gubernur untuk merealisasikan pembangunan infrastruktur vital tersebut. Namun, hingga akhir tahun 2025 ini, Kepala Desa Bangbayang mengaku belum menerima kepastian kapan realisasi fisik akan dilakukan.
Sambil menunggu alat berat dan beton permanen dari pemerintah masuk ke desanya, Dadang dan warga Bangbayang memilih bertahan dengan apa yang ada.
“Ini sifatnya sementara sambil menunggu penanganan lebih lanjut. Kami berharap ke depan ada pembangunan jembatan permanen karena ruas jalan ini merupakan jalan kabupaten dan menjadi akses penting bagi masyarakat,” pungkas Dadang.
Ia pun mengimbau warga untuk tetap ekstra hati-hati saat melintasi jembatan darurat batang kelapa tersebut, terutama saat hujan turun yang membuat permukaan kayu menjadi licin dan debit air sungai di bawahnya meningkat.(*)
[Hamjah]
Eksplorasi konten lain dari JENTERA NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















