JENTERANEWS.com – Keselamatan dan kenyamanan pelayanan publik menjadi prioritas utama di Desa Cimenteng, Kecamatan Curugkembar Kabupaten Sukabumi. Menyadari kondisi Balai Desa yang sudah sangat memprihatinkan dan nyaris roboh, warga beserta jajaran Pemerintah Desa (Pemdes) mengambil langkah cepat dan taktis. Melalui semangat gotong royong, warga secara sukarela bahu-membahu membongkar bagian atap bangunan yang sudah lapuk dimakan usia.
Langkah darurat ini terpaksa segera dieksekusi mengingat kondisi atap yang mengalami kebocoran parah, sehingga mengancam keselamatan aparatur desa yang sedang bertugas, masyarakat yang datang, serta berisiko merusak aset-aset penting di dalam kantor.
Kepala Desa Cimenteng menegaskan bahwa program renovasi ini sejatinya bukanlah kegiatan yang muncul tiba-tiba. Rencana perbaikan fasilitas vital ini sudah direncanakan dan tertuang secara resmi di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).
“Kondisi bangunannya memang sudah sangat darurat dan membahayakan. Jika tidak segera diambil tindakan, risikonya adalah bangunan ambruk,” ungkap Kepala Desa.
Menanggapi anggapan bahwa perbaikan ini dilakukan tanpa usulan, Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Cimenteng, Suherlan, dengan tegas menepisnya. Ia menyatakan bahwa rencana renovasi tersebut justru sudah sangat sering dibahas dalam forum musyawarah desa.
“Rencana perbaikan ini sudah sangat sering dibahas. Bagaimana tidak dibahas, tempat kita musyawarahnya saja di gedung yang sama ini. Kita semua warga dan aparat desa merasakan langsung betapa mengkhawatirkannya kondisi atap balai desa saat rapat,” tegas Suherlan.
Lebih lanjut, Suherlan membeberkan dinamika perencanaan anggarannya. Pada saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) tahun 2025 untuk penetapan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa tahun 2026, usulan renovasi ini sebenarnya sudah disepakati dengan besaran anggaran mencapai Rp 35 juta.
“Namun, karena kita harus menyesuaikan dengan aturan dan regulasi pengalokasian Dana Desa dari pusat, pagu anggaran yang akhirnya bisa dialokasikan jadinya sebesar Rp 25 juta,” jelasnya.
Secara hitungan teknis, anggaran Rp 25 juta tersebut sebenarnya masih sangat kurang, bahkan sekadar untuk menutupi pembelanjaan keseluruhan material bahan bangunan atap baja ringan. Namun, di tengah keterbatasan dana dan mendesaknya kondisi bangunan, keputusan untuk segera mengeksekusi perbaikan akhirnya diambil.
Hal ini bisa terwujud murni berkat dukungan dan keikhlasan luar biasa dari masyarakat Desa Cimenteng.
“Walaupun anggarannya menyusut, eksekusi berani kita lakukan karena antusiasme warga. Dengan dorongan warga yang ikhlas mengorbankan tenaga bergotong royong tanpa pamrih, mudah-mudahan renovasi ini hasilnya bisa maksimal,” tambah Suherlan penuh optimisme.
Kepala Desa pun mengamini hal tersebut. “Anggaran yang ada difokuskan seefisien mungkin untuk material vital agar atap tidak bocor lagi. Keterlibatan warga menyumbangkan tenaga untuk menutupi kekurangan anggaran material menjadi bukti nyata tingginya rasa memiliki masyarakat terhadap fasilitas umum. Walaupun hasil akhirnya nanti mungkin belum sempurna 100% secara estetika, namun yang paling penting keselamatan nyawa serta keamanan aset desa terjaga,” tutupnya.
Dengan diperbaikinya Balai Desa Cimenteng berkat keringat dan gotong royong warganya, diharapkan roda pemerintahan desa dan pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan semakin optimal, nyaman, dan aman di masa mendatang.(*)















