JENTERANEWS.com – Proyek Jalan Usaha Tani (JUT) yang digarap oleh kelompok tani Mekar Mukti di Desa Banjarsari, Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi, kembali menjadi sorotan publik. Proyek yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai Rp200 juta ini diduga terdapat sejumlah kejanggalan dalam pelaksanaannya yang mengundang pertanyaan mengenai kualitas dan pemanfaatan anggaran.
Proyek yang dikerjakan secara swakelola ini mencakup sejumlah pekerjaan penting seperti perkerasan jalan, pembangunan jembatan, dan pemasangan gorong-gorong. Tujuannya mulia, yakni untuk meningkatkan aksesibilitas petani dan memperlancar distribusi hasil pertanian. Namun, berdasarkan hasil peninjauan langsung ke lokasi, sejumlah indikasi penyimpangan ditemukan. Pada Senin 25 November 2024.
Salah satu temuan yang paling mencolok adalah tidak adanya hamparan pasir setebal 5 sentimeter pada perkerasan jalan seperti yang tercantum dalam spesifikasi teknis proyek. Padahal, lapisan pasir ini memiliki peran krusial sebagai pondasi yang kuat dan merata untuk jalan, sehingga dapat meningkatkan daya tahan jalan terhadap beban dan cuaca ekstrem.
Selain itu, kegiatan penggalian batu di lereng bukit dan sungai kecil dekat lokasi proyek juga menimbulkan kekhawatiran akan potensi terjadinya longsor. Penggunaan material hasil galian ini tanpa perencanaan yang matang dan pengelolaan yang tepat dapat mengancam keselamatan dan lingkungan sekitar. Material hasil galian seharusnya dikelola dengan baik, misalnya dengan dibuat terasering atau ditanam kembali dengan tanaman keras untuk mencegah erosi.
Menanggapi temuan tersebut, Isem selaku Ketua kelompok tani Mekar Mukti memberikan penjelasan. Ia mengakui bahwa memang tidak ada hamparan pasir pada perkerasan jalan. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh kondisi medan yang sangat sulit sehingga sulit untuk membawa material pasir ke lokasi proyek.
“Medan jalan di lokasi proyek sangat berat, sehingga sulit untuk membawa material seperti pasir. Meskipun bisa menggunakan engkreg, namun biaya yang dibutuhkan akan membengkak, untuk itu rencananya akan ditambahkan volume perkerasan,” ujar Isem.
Terkait penggunaan batu material hasil galian dari lereng bukit, Isem menegaskan bahwa kelompok tani tidak melakukan penggalian sendiri, melainkan membeli material tersebut dari warga sekitar.
“Kami hanya membeli batu material tersebut dari warga sekitar. Kami tidak melakukan penggalian sendiri,” tegasnya.(*)
Eksplorasi konten lain dari JENTERA NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















