JENTERANEWS.com — Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Sukabumi Cidadap Padasenang menggelar sosialisasi Program Makan Bergizi (MBG) bagi para guru dan orang tua siswa di SDN Banjarsari, Desa Banjarsari, Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi, pada Selasa (21/4/2026). Langkah strategis yang diintegrasikan dengan agenda rapat orang tua siswa ini dilakukan untuk menyamakan persepsi terkait pentingnya asupan gizi seimbang bagi kualitas pendidikan.
Kepala SPPG, Rizal Nurul Hidayat, S.P., yang hadir memimpin langsung jalannya sosialisasi, menegaskan bahwa Program MBG dirancang bukan sekadar untuk menuntaskan rasa lapar siswa di jam sekolah, melainkan sebagai investasi jangka panjang demi mencetak generasi yang sehat dan cerdas.
Di hadapan puluhan tenaga pendidik dan wali murid, Rizal memaparkan empat tujuan fundamental dari implementasi program tersebut. Pertama, MBG difokuskan pada peningkatan kemampuan kognitif anak.
“Nutrisi yang tepat, terutama kandungan protein dan omega-3, sangat berpengaruh pada perkembangan otak. Melalui program ini, kita ingin mencegah short-term hunger atau rasa lapar di jam sekolah yang sering kali menjadi penyebab utama menurunnya daya tangkap dan konsentrasi siswa,” jelas Rizal.
Kedua, lanjut Rizal, sekolah akan difungsikan sebagai laboratorium hidup bagi siswa untuk mempraktikkan kebiasaan makan sehat. Siswa tidak hanya sekadar menghafal teori gizi di buku, tetapi mendapatkan literasi langsung dengan mengenal panduan “Isi Piringku” yang mencakup karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Momen makan bersama ini juga dimanfaatkan untuk menanamkan kedisiplinan, seperti budaya antre dan mencuci tangan.
Lebih jauh, ia menyoroti dampak MBG terhadap tingkat partisipasi sekolah. Program ini dinilai mampu menjadi insentif positif yang meringankan beban ekonomi keluarga dalam penyediaan uang jajan atau bekal harian.
“Selain menekan angka putus sekolah dari sisi ekonomi, asupan gizi yang terjamin akan meningkatkan daya tahan tubuh siswa. Efek dominonya, anak-anak kita tidak mudah jatuh sakit dan angka absensi bisa ditekan secara signifikan,” terangnya.
Sebagai penutup, Rizal menekankan fungsi esensial Program MBG sebagai equalizer atau pemerata di lingkungan sekolah. Melalui program ini, seluruh kesenjangan dapat dihapus karena setiap siswa—terlepas dari latar belakang ekonomi keluarganya—akan mendapatkan jenis dan kualitas makanan yang setara.
Standarisasi asupan nutrisi ini juga akan mempermudah pihak sekolah dan unit layanan kesehatan setempat dalam melakukan pemantauan pertumbuhan fisik siswa, seperti grafik tinggi dan berat badan secara berkala.
Sosialisasi ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh warga sekolah. Kolaborasi yang erat antara SPPG, pihak sekolah, dan orang tua diharapkan mampu menyukseskan pelaksanaan Program MBG demi mewujudkan generasi emas Sukabumi yang berdaya saing.(*)















