JENTERANEWS.com Pihak Sekolah Nonaktifkan Guru dan Gelar Mediasi, Siswa Sempat Gelar Aksi Protes
Dunia pendidikan di Cicurug dihebohkan oleh kasus dugaan kekerasan yang melibatkan seorang guru terhadap siswanya di SMAN 1 Cicurug. Ironisnya, insiden ini bermula dari skenario pembuatan video hukuman yang dirancang untuk meredam masalah pribadi sang guru, namun justru berakhir dengan aksi pemukulan sungguhan. Pihak sekolah telah menonaktifkan guru yang bersangkutan dan menyatakan persoalan telah diselesaikan melalui jalur mediasi, meskipun sempat diwarnai aksi unjuk rasa siswa pada Senin (25/8/2025).
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Cicurug, Nurjaka, membeberkan kronologi lengkap peristiwa tersebut. Menurutnya, akar masalah adalah sebuah foto selfie antara siswa dan guru yang bersangkutan. Foto yang kemudian beredar di media sosial itu ternyata memicu persoalan dalam lingkungan keluarga sang guru.
“Guru itu merasa tidak nyaman bersama keluarganya, sehingga dibuatlah skenario seolah-olah siswa sudah diberi sanksi dengan cara membuat video drama,” jelas Nurjaka saat dikonfirmasi pada Senin (25/08/2025).
Namun, niat awal untuk menciptakan drama sandiwara berubah menjadi kenyataan pahit. Dalam proses pembuatan video tersebut, sang guru dilaporkan benar-benar melayangkan pukulan kepada siswanya. Tindakan yang di luar skenario ini membuat siswa merasa menjadi korban kekerasan fisik dan psikis, hingga akhirnya menceritakan kejadian tersebut kepada orang tuanya.
Reaksi keras pun datang dari pihak keluarga siswa yang menuntut klarifikasi dan pertanggungjawaban dari pihak sekolah. Menanggapi hal tersebut, sekolah segera mengambil langkah mediasi.
“Kami kemudian menginisiasi pertemuan dengan pihak keluarga, difasilitasi oleh pihak Kecamatan dan Polsek Cicurug. Pada Sabtu malam, persoalan sudah selesai. Kedua belah pihak saling memaafkan dan mengakui kesalahan, bahkan diperkuat dengan surat perjanjian hitam di atas putih. Jadi sebenarnya sudah selesai,” ujar Nurjaka.
Kesepakatan Damai Tak Meredam Isu
Meski telah ada kesepakatan damai, kabar mengenai insiden pemukulan ini telanjur menyebar luas di masyarakat tanpa disertai informasi mengenai penyelesaiannya. Hal ini memicu kesalahpahaman dan memantik reaksi dari berbagai pihak, termasuk para siswa SMAN 1 Cicurug yang menggelar aksi unjuk rasa di lingkungan sekolah pada Senin pagi.
“Alhamdulillah, setelah kami memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan aspirasi dan menjelaskan duduk perkaranya, mereka akhirnya memahami. Kini kegiatan belajar mengajar sudah kembali normal dan kondusif. Guru-guru juga kembali tenang mengajar di kelas,” tuturnya.
Terkait sanksi, Nurjaka menegaskan bahwa sekolah telah mengambil tindakan tegas dengan menonaktifkan sementara guru tersebut dari kegiatan mengajar. Keputusan final mengenai status kepegawaiannya akan menunggu hasil pemeriksaan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
“Sanksi internal dari sekolah sudah diberikan, tapi untuk keputusan lebih lanjut kami menunggu hasil pemeriksaan Dinas Pendidikan. Yang jelas, guru yang bersangkutan dinonaktifkan dulu,” tegasnya.
Pihak sekolah juga memastikan memberikan pendampingan psikologis kepada siswa yang menjadi korban untuk memulihkan kondisi mentalnya. “Tadi pagi siswa dijemput oleh wali kelasnya, diberi nasihat agar tetap semangat. Di ruang Bimbingan Penyuluhan (BP) juga ada guru pembimbing yang mendampinginya agar tidak merasa tertekan,” kata Nurjaka.
Sebagai langkah preventif, SMAN 1 Cicurug berkomitmen untuk memperkuat komunikasi dan pembinaan internal guna memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
“Kami akan menangani ini dengan lebih serius dan transparan, termasuk mengadakan pengarahan serta diskusi di antara para guru. Percayakan kepada kami, sekolah punya standar dalam menghadapi masalah ini. Tidak usah khawatir, tindakan tegas pasti akan diberikan kepada pihak yang bersalah,” pungkasnya. (*)
Editor : Mia















