JENTERANEWS.com – Harapan yang tipis itu akhirnya pupus. Setelah tiga hari pencarian tanpa henti di tengah debur ombak pesisir selatan, Jaki (19), remaja asal Bogor, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa pada Minggu (29/6) pagi. Tragedi yang bermula dari keceriaan liburan di Pantai Sunset, Sukabumi, ini menjadi pengingat pilu akan kekuatan alam yang tak terduga, yang mampu mengubah tawa menjadi air mata dalam sekejap.
Jenazah Jaki ditemukan tim SAR gabungan sekitar pukul 08.35 WIB. Tubuhnya yang tak lagi bernyawa mengambang dalam posisi tengkurap, sekitar 2 mil laut (sekitar 3,7 kilometer) dari titik di mana ia terakhir kali terlihat berjuang melawan gelombang pada Jumat (27/6) sore. Penemuan ini mengakhiri drama pencarian yang melelahkan dan membawa kepastian pahit bagi keluarga yang menanti dalam cemas.
“Pagi ini korban berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan. Jenazah segera dievakuasi ke RSUD Palabuhanratu sebelum diserahkan kepada pihak keluarga di rumah duka,” ungkap Desiana Kartika Bahari, S.E., M.H., Kepala Kantor SAR Jakarta yang bertindak selaku Koordinator Misi SAR. Suasana haru tak tertahankan saat jenazah diserahkan. Isak tangis keluarga pecah, memecah keheningan pagi di rumah sakit, menandai akhir dari penantian yang menyiksa.
Semua berawal pada Jumat sore yang cerah, sekitar pukul 16.30 WIB. Jaki, warga Kampung Citeko, Cisarua, Bogor, tengah berbagi tawa bersama tiga kerabatnya yang masih belia: Ahmad Gaisan Faik (9), Najwa (9), dan Parel (12). Mereka berempat asyik bermain air di bibir Pantai Sunset, Desa Karangpapak, Kecamatan Cisolok, sebuah lokasi yang terkenal dengan keindahan senjanya.
Namun, di balik lanskap yang memukau, bahaya mengintai. Tanpa peringatan, sebuah ombak besar dan ganas tiba-tiba datang menggulung, menyapu keempatnya ke tengah lautan. Kecerian sontak berganti kepanikan massal. Mereka tergulung dan terseret arus kuat yang tak memberi ampun.
Di tengah kekacauan itu, percikan heroisme muncul. Wisatawan dan warga sekitar yang menyaksikan kejadian tersebut tanpa ragu menerjang ombak. Dengan sigap, mereka berhasil meraih dan menyelamatkan nyawa ketiga anak—Ahmad, Najwa, dan Parel—dari amukan gelombang. Namun, takdir berkata lain untuk Jaki. Remaja yang saat itu mengenakan kaus lengan panjang hitam dan celana pendek hitam itu lenyap ditelan lautan.
“Tiba-tiba datang ombak besar yang menyeret mereka semua. Tiga orang berhasil diselamatkan oleh warga, satu hilang,” terang AKP Nandang Herawan, Kasat Polairud Polres Sukabumi, mengonfirmasi detik-detik mengerikan tersebut.
Laporan kehilangan Jaki segera memicu operasi pencarian dan penyelamatan skala besar. Puluhan personel gabungan di bawah komando Basarnas (Kantor SAR Jakarta melalui Pos SAR Sukabumi) dikerahkan. Mereka terdiri dari unsur Polair Polres Sukabumi, Polsek Cisolok, Koramil Cisolok, Balawista, SAKA SAR, Dinas Kesehatan, CIC Rescue, hingga nelayan setempat yang sukarela membantu.
Selama tiga hari, tim bekerja melawan waktu dan alam. Operasi pencarian dibagi menjadi tiga sektor:
- Penyisiran Laut: Tim menggunakan perahu karet untuk menyisir area hingga radius 2 mil laut dari lokasi kejadian, menantang ombak yang tingginya mencapai 2 hingga 3 meter pada hari-hari awal.
- Penyisiran Darat: Tim darat berjalan kaki menyusuri garis pantai sepanjang 2 kilometer, memeriksa setiap celah karang dan teluk kecil.
- Pemantauan Udara: Sebuah drone diterbangkan untuk melakukan pengamatan dari ketinggian, memperluas jangkauan visual hingga 300 meter ke arah laut.
“Kendala utama kami adalah kondisi cuaca dan gelombang tinggi yang sangat menyulitkan pergerakan tim di laut,” ungkap seorang petugas di lapangan. Namun, semangat kemanusiaan membuat mereka tak menyerah hingga titik akhir.
Tragedi ini sekali lagi menggarisbawahi reputasi ganda pantai-pantai di pesisir selatan Sukabumi: surga bagi para pemburu senja, namun juga arena berbahaya dengan arus kuat yang mematikan. Pihak berwenang tak henti-hentinya menyuarakan peringatan.
Kapolsek Cisolok, AKP Bayu Saeful Bahari, S.H., M.H., dengan tegas kembali mengimbau seluruh wisatawan untuk memprioritaskan keselamatan. “Jangan berenang di area yang ditandai berbahaya. Selalu awasi anggota keluarga, terutama anak-anak. Jangan biarkan keindahan alam membuat kita lengah,” pesannya. “Kami harap tragedi ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi semua agar lebih waspada.”
Dengan ditemukannya jenazah Jaki, operasi SAR secara resmi ditutup. Namun, duka mendalam yang ditinggalkan menjadi catatan kelam abadi, sebuah pengingat bahwa di balik setiap keindahan panorama alam, tersimpan kekuatan dahsyat yang menuntut rasa hormat dan kewaspadaan tertinggi dari setiap pengunjungnya.(*)
Reporter : Aris
Redaktur: Hamjah














