Menu

Mode Gelap

Sukabumi · 8 Mei 2026 09:42 WIB

Bongkar Struk Viral: Harga Asli Pertalite Tembus Rp16 Ribu, Mengapa Pertamax Bisa Lebih Murah?


					Bukti transaksi pembelian Pertalite yang viral di media sosial mengungkap nilai keekonomian asli BBM bersubsidi tersebut, yakni Rp 16.088 per liter. Pakar menyebut anomali harga ini berkaitan dengan strategi bisnis agar masyarakat beralih ke Pertamax. Perbesar

Bukti transaksi pembelian Pertalite yang viral di media sosial mengungkap nilai keekonomian asli BBM bersubsidi tersebut, yakni Rp 16.088 per liter. Pakar menyebut anomali harga ini berkaitan dengan strategi bisnis agar masyarakat beralih ke Pertamax.

JENTERANEWS.com — Perdebatan publik mengenai struktur harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia kembali mengemuka. Isu ini dipicu oleh beredarnya sebuah bukti transaksi atau struk pembelian BBM jenis Pertalite (RON 90) di media sosial yang memperlihatkan nilai keekonomian asli bahan bakar bersubsidi tersebut yang ternyata lebih tinggi dibandingkan harga jual Pertamax (RON 92).

Berdasarkan data yang tercantum dalam struk viral tersebut, harga keekonomian atau harga non-subsidi Pertalite sebenarnya mencapai Rp 16.088 per liter. Namun, berkat subsidi pemerintah sebesar Rp 6.088 per liter, masyarakat hanya perlu membayar harga jual sebesar Rp 10.000 per liter.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan di kalangan konsumen: mengapa nilai asli Pertalite (Rp 16.088) bisa lebih mahal dibandingkan Pertamax (sekitar Rp 12.300), padahal secara kualitas (nilai oktan), Pertamax berada di atas Pertalite?

Menanggapi anomali tersebut, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, memberikan pandangannya. Menurutnya, secara perhitungan keekonomian global, selisih harga antara bahan bakar dengan RON 90, RON 92, dan RON 95 (seperti Pertamax Green) sebenarnya tidak terlampau jauh.

Ia mencontohkan pasar luar negeri, seperti Singapura, di mana selisih harga untuk berbagai tingkatan nilai oktan tersebut terbilang tipis dan linear dengan kualitasnya.

Lantas, mengapa di Indonesia harga Pertamax bisa ditekan hingga berada di bawah harga keekonomian Pertalite?

“Itu adalah strategi bisnis, supaya pengguna Pertalite mau berpindah ke Pertamax,” ungkap Yuswidjajanto. Ia menjelaskan bahwa langkah ini sengaja diambil sebagai taktik pemasaran, terutama setelah berlakunya penertiban pembelian BBM bersubsidi menggunakan sistem barcode bagi kendaraan bermotor.

Harapannya, dengan menjaga selisih harga jual yang tetap kompetitif di mata konsumen, para pemilik kendaraan—khususnya dari kalangan menengah ke atas—akan terdorong untuk beralih menggunakan BBM yang lebih berkualitas, sesuai dengan spesifikasi mesin modern, dan lebih ramah lingkungan.

Satu fakta penting yang kerap luput dari perhatian publik adalah status harga Pertamax itu sendiri. Yuswidjajanto memberikan catatan krusial bahwa harga jual Pertamax yang saat ini berada di kisaran Rp 12.300 per liter sejatinya belum menyentuh nilai keekonomian aslinya.

“Pertamax bisa dijual di angka Rp 12.300 karena disubsidi oleh Pertamina, bukan oleh negara,” tegasnya. Hal ini jelas berbeda dengan Pertalite, yang beban subsidinya langsung ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Melalui skema “subsidi korporasi” ini, diharapkan beban subsidi negara dapat berangsur ditekan seiring dengan meningkatnya migrasi masyarakat ke BBM non-subsidi pemerintah.

Lebih jauh, Yuswidjajanto turut menyoroti permasalahan klasik terkait mekanisme penyaluran subsidi di Indonesia yang dinilai masih belum tepat sasaran. Ia mengkritik model subsidi yang melekat pada barang (komoditas), yang pada praktiknya rentan dinikmati oleh kalangan yang tidak berhak.

“Subsidi seharusnya melekat pada orang, bukan pada barang. Sehingga, BBM subsidi tidak bisa atau tidak boleh dibeli oleh orang yang mampu,” ujarnya.

Ia menyayangkan bahwa kesadaran tersebut belum sepenuhnya tumbuh di tengah masyarakat Indonesia. Akibatnya, angka kebocoran subsidi BBM dari kantong negara masih tergolong sangat besar hingga saat ini.(*)

Laporan: Rudi

Artikel ini telah dibaca 38 kali

Baca Lainnya

Diduga Sengaja Dibakar, Rumah Panggung di Jampangkulon Sukabumi Ludes Dilalap Api

5 Juni 2026 - 11:15 WIB

Kobaran api tampak menghanguskan seluruh bangunan rumah panggung berukuran 5x6 meter di Kampung Cilubang RT 06/02, Kelurahan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Kamis sore (4/6/2026) sekitar pukul 17.15 WIB. Insiden kebakaran yang menyebabkan kerugian puluhan juta rupiah ini diduga kuat dipicu oleh unsur kesengajaan. Saat ini, penghuni rumah dilaporkan selamat dan mengungsi ke rumah kerabat.

Di Tengah Isu Pemotongan Anggaran, Anggota DPRD Sukabumi Ini Berjanji Tak Akan Menyerah demi Warga

4 Juni 2026 - 18:14 WIB

Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, Paoji, S.E. (kemeja biru), hadir di hadapan warga dalam kegiatan Reses Kedua di Desa Cikarang. Di tengah tantangan fiskal akibat program nasional seperti MBG, Paoji (terlihat mendengarkan sambutan) menegaskan komitmennya untuk tetap memperjuangkan pembangunan infrastruktur yang menjadi aspirasi warga Cidolog.

Cegah Pelayanan Lumpuh, Sekdes Karangmekar Turun Tangan Gantikan Kades yang Ditahan Polisi

4 Juni 2026 - 13:12 WIB

Gedung Kantor Kepala Desa Karangmekar, Kabupaten Sukabumi

Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Mutawali, Serap Aspirasi Warga Cidolog dan Cidadap dalam Reses Kedua

4 Juni 2026 - 12:49 WIB

Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Mutawali, S.IP. (berdiri memegang mikrofon), tengah memberikan pemaparan sekaligus berdialog langsung dengan masyarakat dalam agenda Pelaksanaan Reses Kedua Tahun Sidang 2026 di Aula Desa Cikarang, Kecamatan Cidolog, Kamis (4/6/2026).

Respons Cepat Aduan Warga, Pemkab Sukabumi Maksimalkan Platform SP4N LAPOR

4 Juni 2026 - 12:34 WIB

Jajaran aparatur Pemerintah Kabupaten Sukabumi mengikuti jalannya sosialisasi PPID dan pengelolaan pengaduan melalui platform SP4N LAPOR secara daring dari Pendopo Sukabumi, Kamis (4/6/2026). Kegiatan ini digelar guna memperkuat komitmen keterbukaan informasi dan pelayanan publik yang akuntabel hingga tingkat desa.

Korsleting Listrik, Sebuah Gudang di Cidadap Sukabumi Ludes Terbakar

4 Juni 2026 - 09:43 WIB

Sisa-sisa bangunan gudang di Desa Cidadap, Sukabumi, yang ludes dilalap si jago merah. Kebakaran pada Rabu malam tersebut menyebabkan kerugian materiel yang ditaksir mencapai Rp20 juta. Tampak bara api masih menyala di tengah kegelapan malam.
Trending di Sukabumi