JENTERANEWS.com — Jika Anda mencari fasilitas mewah dengan kolam berkeramik rapi, Pemandian Air Panas Cibungur bukanlah tempatnya. Namun, jika Anda mencari kesembuhan dari ‘apotek’ yang diracik langsung oleh alam, tempat ini adalah primadonanya.
Terletak tersembunyi di Kampung Cibungur, Desa Cidadap, tepat di dekat riuhnya arus Sungai Cibuni yang menjadi garis batas alami antara Kabupaten Sukabumi dan Cianjur, terdapat sebuah mata air panas yang menyimpan cerita tentang kehancuran sekaligus harapan.
Dahulu, pemerintah daerah sempat memoles kawasan ini. Kolam-kolam dibangun untuk memanjakan warga yang ingin berendam. Namun, amarah alam berkata lain. Bencana tanah longsor menyapu bersih seluruh fasilitas tersebut, mengembalikannya ke pangkuan bumi.
Berdasarkan pantauan di lokasi, lanskap pemandian ini kini telah sepenuhnya diklaim kembali oleh alam. Tidak ada lagi jejak kemewahan buatan manusia. Titik mata air panas itu kini hanya berupa kubangan alami berbentuk cekungan tak beraturan dengan air yang tampak keruh kecokelatan, bercampur dengan sedimen tanah sisa longsoran.
Di sekeliling kubangan, semak belukar dan pepohonan paku-pakuan tumbuh dengan sangat subur, seolah menjadi tirai hijau yang menyembunyikan tempat ini dari dunia luar. Di salah satu sudut tebing, masih menyembul sisa fondasi dinding beton yang berlumut—menjadi satu-satunya saksi bisu bahwa tempat ini pernah dibangun dan dikelola dengan layak.
Lantas, mengapa warga masih rela menuruni tebing dan berendam di kubangan yang berlumpur tersebut? Jawabannya ada pada kepulan uap tipis yang membawa aroma khas belerang.
Bagi warga sekitar, kubangan itu bukanlah sekadar air kotor, melainkan sarana balneoterapi—terapi penyembuhan menggunakan air mineral alami. Kandungan utama yang menjadi magnet tempat ini adalah belerang (sulfur) pekat yang dihasilkan dari aktivitas geotermal pegunungan.
Meski dunia medis selalu menegaskan bahwa air belerang bukanlah ‘obat ajaib’ penangkal segala penyakit, perannya sebagai terapi pendamping (komplementer) sangatlah krusial. Di balik kondisinya yang serba terbatas, mata air Cibungur diam-diam terus menjalankan fungsinya sebagai penyembuh lewat empat cara:
Tameng Antibakteri dan Antijamur: Belerang dikenal sebagai antiseptik alamiah yang tangguh. Warga yang datang dengan keluhan infeksi kulit seperti panu, kurap, atau jerawat punggung yang meradang, kerap pulang dengan kondisi yang berangsur membaik setelah rutin berendam di sini.
Sang Eksfoliator Alami (Sifat Keratolitik): Air belerang memiliki kemampuan luar biasa untuk mengelupas sel-sel kulit mati. Khasiat ini adalah oase bagi penderita kondisi autoimun seperti psoriasis, di mana kulit menebal dan bersisik. Berendam di air hangat Cibungur membantu melunakkan dan merontokkan sisik tersebut secara perlahan tanpa melukai jaringan kulit yang sehat.
Ranjau Mematikan bagi Parasit: Penyakit kudis atau scabies kerap menjadi momok yang menyiksa karena rasa gatalnya. Secara medis, belerang bersifat sangat toksik dan mematikan bagi tungau penyebab scabies. Mandi di mata air ini menjadi jalan pintas alami yang mempercepat matinya parasit tersebut.
Meredakan ‘Amarah’ pada Kulit: Sensasi panas air pegunungan yang berpadu dengan kandungan mineral seperti magnesium bekerja layaknya relaksan. Ia melebarkan pembuluh darah, melancarkan sirkulasi, menenangkan peradangan, dan secara drastis menyapu bersih rasa gatal yang menyiksa.
Pemandian Air Panas Cibungur adalah potret nyata tentang ironi dan resiliensi. Meski wujud fisiknya telah luluh lantak digerus longsor dan kini hanya berupa kubangan lumpur di tengah semak belukar, pesona khasiatnya tak pernah pudar. Tempat ini terus memanggil warga perbatasan untuk datang, membuktikan bahwa resep penyembuhan dari alam tidak pernah benar-benar bisa dihancurkan oleh bencana.(*)
Editor: Hamjah















