Menu

Mode Gelap

Sukabumi · 28 Apr 2026 12:10 WIB

Dari Balik Semak Belukar Cibuni, Air Panas Belerang Ini Setia Obati Warga Meski Tak Lagi Terawat


					Potret terkini sumber mata air di Pemandian Air Panas Cibungur, Desa Cidadap, yang kini berubah menjadi kubangan alami usai fasilitas kolam buatan pemerintah hancur tersapu tanah longsor. Meski terbengkalai dan dikepung semak belukar, mata air ini tetap dimanfaatkan warga untuk terapi pengobatan penyakit kulit. Perbesar

Potret terkini sumber mata air di Pemandian Air Panas Cibungur, Desa Cidadap, yang kini berubah menjadi kubangan alami usai fasilitas kolam buatan pemerintah hancur tersapu tanah longsor. Meski terbengkalai dan dikepung semak belukar, mata air ini tetap dimanfaatkan warga untuk terapi pengobatan penyakit kulit.

JENTERANEWS.com — Jika Anda mencari fasilitas mewah dengan kolam berkeramik rapi, Pemandian Air Panas Cibungur bukanlah tempatnya. Namun, jika Anda mencari kesembuhan dari ‘apotek’ yang diracik langsung oleh alam, tempat ini adalah primadonanya.

Terletak tersembunyi di Kampung Cibungur, Desa Cidadap, tepat di dekat riuhnya arus Sungai Cibuni yang menjadi garis batas alami antara Kabupaten Sukabumi dan Cianjur, terdapat sebuah mata air panas yang menyimpan cerita tentang kehancuran sekaligus harapan.

Dahulu, pemerintah daerah sempat memoles kawasan ini. Kolam-kolam dibangun untuk memanjakan warga yang ingin berendam. Namun, amarah alam berkata lain. Bencana tanah longsor menyapu bersih seluruh fasilitas tersebut, mengembalikannya ke pangkuan bumi.

Berdasarkan pantauan di lokasi, lanskap pemandian ini kini telah sepenuhnya diklaim kembali oleh alam. Tidak ada lagi jejak kemewahan buatan manusia. Titik mata air panas itu kini hanya berupa kubangan alami berbentuk cekungan tak beraturan dengan air yang tampak keruh kecokelatan, bercampur dengan sedimen tanah sisa longsoran.

Di sekeliling kubangan, semak belukar dan pepohonan paku-pakuan tumbuh dengan sangat subur, seolah menjadi tirai hijau yang menyembunyikan tempat ini dari dunia luar. Di salah satu sudut tebing, masih menyembul sisa fondasi dinding beton yang berlumut—menjadi satu-satunya saksi bisu bahwa tempat ini pernah dibangun dan dikelola dengan layak.

Lantas, mengapa warga masih rela menuruni tebing dan berendam di kubangan yang berlumpur tersebut? Jawabannya ada pada kepulan uap tipis yang membawa aroma khas belerang.

Bagi warga sekitar, kubangan itu bukanlah sekadar air kotor, melainkan sarana balneoterapi—terapi penyembuhan menggunakan air mineral alami. Kandungan utama yang menjadi magnet tempat ini adalah belerang (sulfur) pekat yang dihasilkan dari aktivitas geotermal pegunungan.

Meski dunia medis selalu menegaskan bahwa air belerang bukanlah ‘obat ajaib’ penangkal segala penyakit, perannya sebagai terapi pendamping (komplementer) sangatlah krusial. Di balik kondisinya yang serba terbatas, mata air Cibungur diam-diam terus menjalankan fungsinya sebagai penyembuh lewat empat cara:

Tameng Antibakteri dan Antijamur: Belerang dikenal sebagai antiseptik alamiah yang tangguh. Warga yang datang dengan keluhan infeksi kulit seperti panu, kurap, atau jerawat punggung yang meradang, kerap pulang dengan kondisi yang berangsur membaik setelah rutin berendam di sini.

Sang Eksfoliator Alami (Sifat Keratolitik): Air belerang memiliki kemampuan luar biasa untuk mengelupas sel-sel kulit mati. Khasiat ini adalah oase bagi penderita kondisi autoimun seperti psoriasis, di mana kulit menebal dan bersisik. Berendam di air hangat Cibungur membantu melunakkan dan merontokkan sisik tersebut secara perlahan tanpa melukai jaringan kulit yang sehat.

Ranjau Mematikan bagi Parasit: Penyakit kudis atau scabies kerap menjadi momok yang menyiksa karena rasa gatalnya. Secara medis, belerang bersifat sangat toksik dan mematikan bagi tungau penyebab scabies. Mandi di mata air ini menjadi jalan pintas alami yang mempercepat matinya parasit tersebut.

Meredakan ‘Amarah’ pada Kulit: Sensasi panas air pegunungan yang berpadu dengan kandungan mineral seperti magnesium bekerja layaknya relaksan. Ia melebarkan pembuluh darah, melancarkan sirkulasi, menenangkan peradangan, dan secara drastis menyapu bersih rasa gatal yang menyiksa.

Pemandian Air Panas Cibungur adalah potret nyata tentang ironi dan resiliensi. Meski wujud fisiknya telah luluh lantak digerus longsor dan kini hanya berupa kubangan lumpur di tengah semak belukar, pesona khasiatnya tak pernah pudar. Tempat ini terus memanggil warga perbatasan untuk datang, membuktikan bahwa resep penyembuhan dari alam tidak pernah benar-benar bisa dihancurkan oleh bencana.(*)

Editor: Hamjah

Artikel ini telah dibaca 12 kali

Baca Lainnya

Pertahankan “Kartu Hijau” UNESCO, Ciletuh-Palabuhanratu Kokohkan Posisi Sebagai Geopark Kelas Dunia

28 April 2026 - 09:02 WIB

Wakil Bupati Sukabumi, H. Andreas (tengah depan, berikat kepala batik), didampingi jajaran Pemkab Sukabumi, terpaku menyaksikan siaran virtual pengumuman UNESCO Global Geopark langsung dari Paris, Prancis, yang menegaskan kembali status Ciletuh-Palabuhanratu, di Pendopo Sukabumi, Senin malam (27/4/2026). Gambar ini menangkap momen krusial saat 'Kartu Hijau' UNESCO dipastikan berlanjut.

Bupati Sukabumi Kukuhkan Pengurus Baru BP-CPUGGp, Tegaskan Geopark Sebagai Laboratorium Pembangunan Berkelanjutan Dunia

27 April 2026 - 17:50 WIB

Bupati Sukabumi H. Asep Japar memberikan sambutan saat pengukuhan pengurus baru BP-CPUGGp di Aula Dinas Perhubungan, Cikembar, Senin (27/4/2026).

Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam Menyusul Kegagalan Negosiasi AS-Iran dan Ketegangan di Selat Hormuz

27 April 2026 - 17:43 WIB

Ratusan Warga Desa Sukatani Sukabumi Kembali Gelar Aksi, Tagih Janji Kades Terkait Infrastruktur Jalan

27 April 2026 - 17:16 WIB

SUASANA AUDIENSI: Sejumlah warga Desa Sukatani, Sukabumi, berkumpul dan berdiri di Kantor Desa Sukatani untuk menagih janji kampanye Kepala Desa terkait perbaikan infrastruktur jalan yang rusak parah, Senin (27/4/2026). Pria berbaju biru di latar depan tampaknya sedang menyampaikan aspirasi langsung kepada Kepala Desa Sulaemansyah dan para pejabat lainnya yang duduk di meja depan dalam pertemuan tersebut.

Sindikat Pecah Kaca Beraksi di Cibadak Sukabumi, Barang Berharga Raib Saat Korban Menyantap Bubur

27 April 2026 - 09:41 WIB

Ilustrasi

Hujan Deras Picu Banjir di Cireunghas Sukabumi, Belasan Rumah dan Fasilitas Ibadah Tergenang

27 April 2026 - 09:07 WIB

Kondisi banjir malam hari di Kampung Gadog, Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, pada Minggu (26/4/2026). Terlihat air berlumpur menggenangi halaman dan area sekitar rumah warga setelah hujan deras. Pusdalops PB BPBD mencatat sekitar 14 rumah terendam dalam kejadian ini.
Trending di Sukabumi