JENTERANEWS.com Fenomena kecanduan gawai (gadget) pada anak kini menjadi perhatian serius di dunia pengasuhan. Kebiasaan menatap layar dalam durasi berlebih berisiko mengganggu proses belajar, kesehatan fisik, hingga perkembangan emosional dan sosial anak. Menanggapi permasalahan tersebut, sejumlah pakar kesehatan dan pengasuhan membagikan langkah konkret yang dapat diterapkan orang tua untuk membatasi penggunaan gawai pada anak.
Peneliti dari Harvard Medical School, Catherine Steiner-Adair, menekankan pentingnya mengalihkan perhatian anak dari layar ke aktivitas fisik. Menurutnya, menghabiskan waktu dengan bermain dan belajar secara langsung di luar ruangan sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh serta mengikis ketergantungan anak pada ponsel pintar.
Keteladanan dari orang tua menjadi kunci utama dalam proses ini. Anak cenderung meniru perilaku lingkungan terdekatnya. Apabila orang tua membatasi penggunaan gawai secara bijak di rumah, anak akan lebih mudah mengikuti aturan yang diterapkan.
Selain keteladanan, pendekatan pengasuhan konvensional juga dinilai efektif. Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah tangga yang sesuai dengan usianya tidak hanya mengalihkan perhatian dari gawai, tetapi juga melatih kemandirian sejak dini. Sementara itu, untuk penggunaan gawai dalam kegiatan sekolah daring, orang tua diimbau tetap melakukan pendampingan agar anak tidak terdistraksi oleh aplikasi lain.
Pembatasan aksesibilitas gawai di area pribadi seperti kamar tidur serta penyusunan jadwal aktivitas harian yang konsisten—seperti berolahraga atau memasak bersama saat akhir pekan—turut membantu menjaga fokus anak. Bagi orang tua yang memiliki keterbatasan waktu dan memanfaatkan jasa pengasuh, penetapan aturan ketat agar pengasuh memprioritaskan interaksi fisik ketimbang memberikan gawai juga sangat dianjurkan.
Proses pelepasan ketergantungan gawai sering kali memicu respons emosional berupa tantrum pada anak. Dalam kondisi ini, konsistensi dan ketegasan sikap orang tua sangat diperlukan. Namun, jika anak menunjukkan gejala gangguan emosional yang lebih berat seperti kecemasan atau depresi, orang tua disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau psikolog anak guna memperoleh penanganan profesional.(*)
Eksplorasi konten lain dari JENTERA NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















