JENTERANEWS.com – Suara puluhan ibu rumah tangga, atau yang akrab disapa emak-emak, di RT 01 Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, kini menggema lebih kencang. Mereka mendesak Kepala Desa Karangtengah untuk turun langsung meninjau kondisi infrastruktur jalan yang mereka anggap terbengkalai dan menuntut pemerataan pembangunan yang berkeadilan.
Keresahan yang telah lama terpendam ini akhirnya memuncak. Sebuah surat permohonan yang didukung oleh tanda tangan sekitar 70 warga telah dilayangkan kepada pemerintah desa. Warga, yang mayoritasnya adalah kaum ibu, merasa ada ketimpangan perlakuan jika dibandingkan dengan wilayah lain, khususnya RT 02 yang lokasinya berdekatan dengan kantor desa.
“Sebetulnya masalah ini sudah lama, cuma baru sekarang ada yang berani speak up soal seperti ada ketimpangan perbaikan jalan di Kampung RT 01,” ujar Nia, perwakilan emak-emak setempat, Kamis (31/7/2025).
Nia dengan gamblang memaparkan dugaan diskriminasi tersebut. Menurutnya, pembangunan di wilayah tetangga, RT 02, terlihat sangat menonjol dan telah beberapa kali menerima perbaikan, meskipun kondisi jalannya dinilai masih layak. Sebaliknya, jalan di lingkungan RT 01 dan Kampung Situ 1, yang berdekatan dengan gudang pupuk, seolah luput dari perhatian bahkan hingga tampuk kepemimpinan kepala desa berganti.
“Sementara jalan di RT 01 dan Kampung Situ 1 belum (diperbaiki) hingga ganti kepemimpinan kepala desa. Kami merasa seperti dianaktirikan,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Berbagai upaya damai telah ditempuh warga untuk menyuarakan aspirasi mereka. Keluhan sudah sering disampaikan melalui Ketua RT setempat hingga dibawa ke forum resmi musyawarah dusun. Namun, respons yang diterima dari pucuk pimpinan desa dinilai jauh dari memuaskan.
“Tanggapan dari Pak Kades menurut kami tidak memuaskan. Katanya sih ada sistem prioritas. Tapi prioritas seperti apa? Urgensinya bagaimana?” tanya Nia, menyuarakan kebingungan warga.
Puncak kekecewaan warga terjadi ketika Kepala Desa hanya memberikan jawaban melalui pesan suara (voice note). Menurut warga, jawaban tersebut tidak memberikan solusi konkret dan terkesan informal. Mereka menginginkan pertemuan tatap muka untuk berdialog secara langsung.
“Inginnya kami bertemu muka dengan Kepala Desa, bersosialisasi langsung, bukan untuk berdebat. Tapi, usaha kita ingin bertemu Kades itu susah. Kami paham beliau sibuk, tapi wilayah RT 01 ini tidak jauh dari kantor desa,” tukasnya.
Nia menegaskan bahwa aksi mereka murni didasari keinginan untuk mendapatkan kejelasan dan perhatian, bukan untuk menciptakan kegaduhan. Warga yang terdiri dari sekitar 100 kepala keluarga di RT 01 hanya ingin aspirasinya didengar dan ditindaklanjuti secara transparan.
“Kita ingin tahu sudah sampai mana permohonan perbaikan jalan yang kami ajukan. Kalau perlu, kami siap bantu dari sisi lain. Kami paham anggaran desa itu turunnya bertahap,” tambahnya, menunjukkan itikad baik warga untuk bergotong royong.
Lebih lanjut, emak-emak juga menyoroti pentingnya peningkatan komunikasi dua arah antara perangkat desa, termasuk RT dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dengan warganya. “Sekarang sudah ada grup WhatsApp RT. Harusnya bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi dan menyerap aspirasi warga langsung,” pungkas Nia.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Desa Karangtengah dan Ketua RT 01 yang coba dikonfirmasi, belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan warganya. Publik kini menanti respons pemerintah desa atas dinamika sosial yang terjadi di wilayahnya.(*)
Kor: Raf
Redaktur: Hamjah















