JENTERANEWS.com– Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi mengambil langkah proaktif dalam mitigasi risiko lingkungan dan sosial dengan menggelar sosialisasi intensif mengenai Environmental and Social Risk Assessment (ESRA).
Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (23/10) ini secara khusus menyoroti bahaya laten penggunaan pestisida kimia dalam pengelolaan hutan, baik terhadap kesehatan manusia maupun kelestarian ekosistem.
Kepala Seksi PSDH KPH Sukabumi, Mamat Surahmat, didampingi oleh Kepala Subseksi K3L Sri Herlina, serta Asper KBKPH Bojonglopang Iman, memimpin pemaparan dan menegaskan urgensi untuk meninggalkan praktik yang merusak lingkungan.
“Paparan pestisida kimia tidak hanya berisiko langsung bagi kesehatan para pekerja, seperti potensi keracunan akut atau gangguan pernapasan, tetapi juga membawa efek residual yang merusak lingkungan secara sistematis,” ujar Mamat Surahmat.
Beliau menjelaskan lebih lanjut bahwa residu kimia memiliki dampak serius dan berantai, termasuk meresap ke dalam tanah dan mematikan mikroorganisme esensial yang bertanggung jawab menjaga kesuburan. Selain itu, residu tersebut dapat mencemari sumber air dan mengganggu rantai makanan satwa liar.
“Dalam jangka panjang, ancaman terberatnya adalah tanah bisa menjadi tandus dan biota hutan terganggu, yang pada akhirnya justru menurunkan produktivitas hutan itu sendiri,” tambahnya, menekankan bahwa pengelolaan hutan yang lestari harus mengutamakan keseimbangan alam.
Sementara itu, Asper KBKPH Bojonglopang, Iman, menyoroti aspek keselamatan kerja. Ia menggarisbawahi pentingnya disiplin penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi seluruh pekerja lapangan.
“Penggunaan sarung tangan, masker, kacamata, dan pakaian berlengan panjang adalah proteksi dasar yang wajib ditaati sebagai langkah vital demi keselamatan kerja saat berinteraksi dengan bahan kimia,” tegas Iman.
Apresiasi positif datang dari mitra Perhutani. Haerudin, salah satu mitra yang hadir, mengakui bahwa selama ini kecepatan hasil panen sering menjadi fokus utama, membuat pestisida kimia menjadi pilihan praktis tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang.
“Selama ini fokus kami hanya pada hasil. Hama datang, kami semprot dengan pestisida kimia yang cepat dan ampuh, tanpa memikirkan dampak bagi tanah dan kesehatan kami,” tutur Haerudin.
Haerudin menegaskan komitmennya untuk segera mengubah kebiasaan tersebut. “Ke depan, kami berkomitmen untuk mengurangi penggunaannya secara bertahap dan mulai mempelajari pembuatan pestisida organik. Memang butuh usaha lebih, tetapi ini demi keselamatan bersama dan keberlanjutan hutan untuk generasi mendatang,” pungkasnya.
Melalui kegiatan sosialisasi ESRA ini, Perhutani KPH Sukabumi menunjukkan komitmen kuat dalam mendorong praktik kehutanan yang bertanggung jawab, menekan dampak negatif aktivitas di hutan, serta mewujudkan kelestarian hutan yang berkelanjutan. (*)
Editor : Mia
Eksplorasi konten lain dari JENTERA NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















