JENTERANEWS.com – Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan program strategis Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan suci Ramadan 1447 H yang jatuh pada tahun 2026 M. Meskipun terdapat perubahan pola konsumsi masyarakat selama bulan puasa, BGN memastikan rantai pasok gizi bagi penerima manfaat tidak akan terputus.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa pihaknya telah merancang strategi adaptif untuk menyiasati tantangan distribusi selama bulan puasa. Ditemui di sela-sela kegiatannya di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2/2026), Dadan memaparkan empat mekanisme distribusi utama yang telah disiapkan.
“Untuk Ramadan, Makan Bergizi (Gratis) akan tetap berlanjut. Jadi ada empat mekanisme yang akan kita kembangkan agar pemenuhan gizi nasional tidak terhenti,” ujar Dadan kepada awak media.
Prioritas Kelompok Rentan: Jadwal Tetap Normal
Dadan menekankan bahwa intervensi gizi bagi kelompok prioritas—yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di bawah lima tahun (balita)—menjadi perhatian utama. BGN memutuskan untuk tidak melakukan pergeseran waktu maupun perubahan skema bagi kelompok ini.
Langkah ini diambil demi memastikan upaya pencegahan stunting dan kesehatan ibu tetap terjaga optimal, tanpa terganggu oleh perubahan ritme bulan Ramadan.
“Untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, [jadwalnya] juga normal seperti hari-hari biasa,” tegas akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut.
Penyesuaian Fleksibel di Sektor Pendidikan
Sementara itu, bagi penerima manfaat di sektor pendidikan, BGN menerapkan pendekatan yang lebih fleksibel dengan menyesuaikan kondisi sosiologis wilayah dan jenis institusi pendidikan.
-
Wilayah Mayoritas Berpuasa (Siswa Sekolah Umum):
Di daerah yang mayoritas siswanya menjalankan ibadah puasa, distribusi makanan tetap dilakukan ke sekolah. Namun, BGN melakukan penyesuaian teknis pada jenis menu. Makanan yang disiapkan adalah jenis yang lebih tahan lama (durable), sehingga aman untuk dibawa pulang oleh siswa dan dikonsumsi saat waktu berbuka puasa di rumah masing-masing.
-
Wilayah Mayoritas Tidak Berpuasa:
Di daerah dengan demografi mayoritas penduduk yang tidak menjalankan ibadah puasa, layanan MBG akan tetap berjalan normal dengan jadwal konsumsi makan siang di sekolah seperti biasa.
-
Lingkungan Pesantren:
Khusus untuk institusi pendidikan berbasis asrama seperti Pesantren, jadwal makan akan digeser sepenuhnya ke waktu berbuka puasa. Kebijakan ini dinilai efisien mengingat dapur layanan gizi umumnya berada dalam satu kawasan atau berdekatan dengan asrama tempat tinggal para santri.
Matangkan Teknis Pelaksanaan
Menutup keterangannya, Dadan menyatakan bahwa saat ini seluruh detail teknis pelaksanaan terus dimatangkan oleh tim BGN. Fokus utamanya adalah memastikan masa transisi jadwal selama Ramadan berjalan mulus tanpa mengurangi kualitas gizi yang diterima masyarakat.
“Intinya, penyesuaian ini dilakukan agar program tetap berjalan efektif dan sasaran penerima manfaat yang telah ditetapkan pemerintah tetap terlayani dengan baik,” pungkasnya.















