JENTERANEWS.COM — Cuaca ekstrem memicu bencana pergerakan tanah dan longsor di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi. Kali ini, Kampung Bojonghaur, Desa Puncakmanggis, Kecamatan Sagaranten, menjadi titik terdampak pada Minggu (19/4/2026).
Peristiwa yang terjadi mulai pukul 09.00 WIB tersebut mengakibatkan dua rumah warga rusak berat, belasan jiwa terancam, serta memutus akses infrastruktur vital desa.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Sagaranten, Deniar Rumpaka, bencana dipicu oleh patahan tebing setinggi 3 meter yang berada tepat di atas pemukiman warga.
“Terjadi patahan longsor tebing bagian atas dengan jarak sekitar 20 meter dari pemukiman. Material tanah menyeret bagian belakang dua rumah warga,” ujar Deniar dalam laporan resminya.
Adapun data warga yang terdampak langsung adalah:
-
Ibu Unikah (68): Rumah panggung ukuran 5×7 m². Bagian belakang rumah terseret longsor.
-
Bapak Surnoh (55): Rumah semi permanen ukuran 5×6 m². Alami kerusakan serupa pada bagian belakang.
Kondisi kedua rumah tersebut saat ini dikategorikan sebagai zona merah atau hazard (sangat rawan). Akibatnya, para penghuni terpaksa diungsikan ke rumah kerabat terdekat karena bangunan sudah tidak aman untuk ditempati. Selain itu, tercatat sedikitnya 9 unit rumah warga lainnya kini dalam status terancam sedang.
Selain merusak hunian, pergerakan tanah juga menghantam fasilitas publik. Akses jalan desa di ruas Bojonghaur dilaporkan amblas sepanjang 100 meter, yang merupakan urat nadi perlintasan warga sehari-hari. Satu tiang listrik milik PLN juga roboh, mengancam stabilitas pasokan energi di area tersebut.
Merespons kejadian tersebut, tim gabungan yang terdiri dari P2BK Sagaranten, Damkar, Tagana, Trantib Kecamatan, Koramil 2211, serta Polsek Sagaranten langsung terjun ke lokasi untuk melakukan asesmen dan penanganan darurat.
Langkah-langkah yang telah diambil meliputi:
-
Evakuasi Warga: Memastikan seluruh penghuni di zona berbahaya telah mengungsi.
-
Pembersihan Jalur: Evakuasi material longsor yang menutupi badan jalan desa.
-
Mitigasi Darurat: Pemasangan penguat sementara menggunakan bambu dan karung berisi tanah (sandbags) di sepanjang area retakan jalan untuk mencegah kerusakan yang lebih meluas.
Meski tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, pihak berwenang terus memberikan imbauan keras kepada warga di sekitar lokasi agar tetap waspada, mengingat potensi pergerakan tanah susulan masih mungkin terjadi jika intensitas hujan kembali meningkat.
“Kami terus berkoordinasi dengan Forkopimcam dan perangkat desa untuk memantau perkembangan di lapangan,” tutup Deniar.(*)















