JENTERANEWS.com – Kisah pilu menyayat hati menimpa Yulian Anggraini (35), seorang ibu tunggal, dan putra kecilnya, Rafan (7), yang menjadi korban keganasan penyiraman air keras oleh orang tak dikenal (OTK) di Kota Sukabumi. Kendati telah dipulangkan dari rumah sakit, luka fisik dan trauma psikologis mendalam masih membekas, diperparah dengan teror digital yang terus menghantui keluarga korban.
Kuasa hukum korban, Dasep Rahman, menyayangkan keputusan pihak rumah sakit yang dianggap terburu-buru memulangkan kliennya. “Untuk anak, luka-lukanya memang mulai mengering. Namun, kondisi ibunya justru memprihatinkan, terutama di bagian wajah, dada, dan paha. Beliau juga masih sangat terguncang secara mental,” ungkap Dasep dengan nada prihatin.
Saat ini, perawatan intensif bagi Yulian dan pendampingan psikologis bagi Rafan dilanjutkan di kediaman mereka di kawasan Sudajaya, Baros, Kota Sukabumi. Trauma mendalam yang dialami Rafan sangat memilukan. Dasep menceritakan betapa bocah malang itu menunjukkan ketakutan luar biasa setiap kali melihat pria dewasa. “Melihat laki-laki bertubuh besar saja, dia langsung ketakutan. Bahkan saat kami pertama kali datang ke rumah sakit, dia begitu ketakutan,” tuturnya.
Pihak kuasa hukum kini tengah berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk memberikan pendampingan psikologis yang lebih komprehensif bagi Rafan. Namun, cobaan yang dihadapi ibu dan anak ini tak berhenti pada luka fisik dan trauma psikis. Keluarga korban juga harus bergelut dengan teror digital yang tak kunjung usai.
“Sampai sekarang masih ada teror lewat WhatsApp, Instagram, Twitter. Kadang pelakunya menyamar jadi perempuan, kadang laki-laki,” beber Dasep. Teror tersebut berupa ancaman-ancaman yang jelas bertujuan untuk mengintimidasi dan mengganggu kondisi psikologis korban. “Kalimat-kalimatnya seperti ‘Kamu jangan harap tenang, akan ada perubahan dalam diri kamu’,” imbuhnya, menirukan salah satu pesan teror yang diterima kliennya.
Dari analisis sementara yang dilakukan pihaknya, Dasep menduga kuat motif di balik serangan keji ini berkaitan dengan kecemburuan dalam hubungan asmara jarak jauh (LDR) yang baru terjalin antara korban dan pelaku sekitar 3 hingga 4 bulan terakhir. Mirisnya, hubungan tersebut hanya terjalin melalui media sosial dan belum pernah melibatkan pertemuan tatap muka. “Korban bilang belum pernah bertemu langsung dengan tersangka. Diduga pelaku tak terima diputuskan,” ucap Dasep, menyiratkan adanya penolakan dari pihak korban yang memicu tindakan brutal tersebut.
Dasep mendesak pihak kepolisian untuk segera menangkap pelaku yang diduga berjumlah dua orang. Kasus ini bukan hanya meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam, tetapi juga pukulan berat bagi kondisi ekonomi keluarga korban. Yulian, seorang janda, selama ini dikenal sebagai tulang punggung keluarga besarnya. “Dari sisi ekonomi pun sangat sulit. Korban yang selama ini menghidupi keluarga besarnya,” jelas Dasep.
Peristiwa penyiraman air keras yang terjadi pada Kamis (1/5/2025) sekitar pukul 08.00 WIB di Jalan Sudajaya, Kelurahan Jayaraksa, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi, ini menjadi pengingat betapa rentannya perempuan dan anak-anak menjadi korban kekerasan. Saat kejadian, Yulian dan Rafan tengah berboncengan menggunakan sepeda motor Honda Beat berwarna hitam dengan nomor polisi F-6428-UAJ. Tiba-tiba, mereka berpapasan dengan pelaku yang juga mengendarai sepeda motor dan langsung menyiramkan cairan yang diduga kuat sebagai air keras.
Kepolisian Resor Sukabumi Kota melalui Kasi Humas AKP Astuti Setyaningsih membenarkan adanya peristiwa tragis ini dan menyatakan bahwa penyelidikan intensif masih terus dilakukan untuk mengungkap identitas dan menangkap pelaku. “Korban berpapasan dengan diduga pelaku yang tidak dikenal menggunakan sepeda motor, dan pelaku langsung menyiramkan air keras ke tubuh korban. Hingga saat ini masih dalam penyelidikan,” tegas AKP Astuti.
Kasus ini menjadi alarm bagi kita semua akan pentingnya perlindungan dan pemulihan yang komprehensif bagi korban kekerasan, terutama bagi mereka yang paling rentan seperti perempuan dan anak-anak. Masyarakat berharap aparat kepolisian dapat segera mengungkap tabir gelap di balik aksi keji ini dan membawa pelaku ke hadapan hukum, sehingga keadilan dapat ditegakkan bagi Yulian dan Rafan, serta memberikan rasa aman bagi masyarakat Sukabumi.(*)
[Laporan: Awang | Editor: Hamjah]















