Menu

Mode Gelap

Sukabumi · 20 Jul 2025 11:15 WIB

Jerit Hati Keluarga Pekerja Migran di Sukabumi: Deni Meninggal di Kamboja, KBRI Diduga Minta Rp100 Juta untuk Pulangkan Jenazah


					Seorang anggota keluarga menunjukkan foto kenangan almarhum Deni Sugiarto (36). Harapan terbesar keluarga saat ini adalah dapat melihat wajah Deni untuk terakhir kalinya dan memakamkannya secara layak di kampung halaman. Perbesar

Seorang anggota keluarga menunjukkan foto kenangan almarhum Deni Sugiarto (36). Harapan terbesar keluarga saat ini adalah dapat melihat wajah Deni untuk terakhir kalinya dan memakamkannya secara layak di kampung halaman.

JENTERANEWS.com – Langit duka menggelayut pekat di atas rumah sederhana di Kampung Cidangdeur, Kabupaten Sukabumi. Di sanalah keluarga Deni Sugiarto (36) berkumpul, mencoba saling menguatkan setelah menerima kabar yang meremukkan hati: Deni, tulang punggung keluarga yang telah merantau lebih dari setahun, meninggal dunia di Kamboja.

Kabar duka itu datang pada Kamis malam (17/7/2025) sekitar pukul 20.00 WIB, melalui sambungan telepon dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja. Deni ditemukan tak bernyawa di toilet kantor KBRI pada pukul 19.30 waktu setempat.

Namun, kabar itu justru menjadi awal dari teka-teki dan kepedihan baru bagi keluarga. Hingga Jumat (18/7/2025) sore, tak ada secuil pun bukti visual yang bisa menenangkan hati mereka.

“Kami belum lihat jenazahnya. Tidak ada fotonya, bahkan peti jenazahnya pun belum dikirimkan,” ucap Aben Husaeni (40), kakak ipar almarhum, dengan suara bergetar di rumah duka. Di sisinya, Ria Rianti (40), istri Aben sekaligus kerabat dekat Deni, tak kuasa menahan isak.

Pihak KBRI memang telah mengirimkan sejumlah dokumen milik Deni via WhatsApp, seperti fotokopi E-KTP, SKCK, dan ijazah yang tersimpan dalam sebuah koper. Namun, barang pribadi lainnya yang berada di tas kecil—berisi tiga ponsel dan dompet—tak disertai bukti visual apa pun, menambah kebingungan keluarga.

Kepedihan keluarga mencapai puncaknya saat dihadapkan pada dua pilihan yang terasa menyayat hati dari pihak yang seharusnya menjadi pelindung warga negara di luar negeri.

“Yang lebih menyakitkan, katanya karena tidak ada paspor, Deni dianggap gelandangan. Kami ditawari dua pilihan: ikhlaskan untuk dimakamkan di Kamboja atau bisa dipulangkan kalau ada uang Rp100 juta lebih untuk mengurus pemulangan jenazah,” ungkap Aben dengan nada getir.

Permintaan biaya yang fantastis itu seolah menjadi vonis kedua bagi keluarga yang tengah berduka. Mereka, yang hidup sederhana, tak pernah membayangkan harus menanggung beban seberat itu.

“Uang dari mana kami bisa dapat Rp100 juta? Kami keluarga biasa saja. Kami hanya ingin jenazah Deni bisa pulang dan dimakamkan di kampung halamannya,” ujar Aben, menyuarakan keputusasaan mereka.

Di balik tragedi ini, keluarga meyakini Deni adalah korban dari sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Keyakinan ini didasari cerita yang pernah Deni curhatkan kepada istrinya.

“Kami sadar bahwa Deni adalah korban TPPO. Ia berangkat kerja tanpa kejelasan dan akhirnya kehilangan paspor saat tinggal bersama 150 orang lain di sebuah apartemen penampungan tenaga kerja,” kata Aben, menceritakan kembali kisah pilu Deni.

Menurutnya, paspor Deni terbawa oleh temannya yang kabur dari penampungan. Deni memilih bertahan karena niat awalnya adalah bekerja. Tak lama, seorang “bos” datang dan menawarinya pekerjaan di sektor judi online (judol).

“Paspor Deni dibawa temannya. Dia memilih bertahan karena niatnya ingin kerja. Ini harusnya jadi perhatian negara,” tegas Aben.

Sementara itu, rumah duka tak henti didatangi kerabat dan tetangga yang menggelar tahlilan, memanjatkan doa untuk almarhum. Tampak pula kehadiran Kasi Trantibum, Kasi Pemberdayaan, serta anggota Satpol PP dari Kecamatan Ciracap sebagai bentuk simpati.

Informasi terakhir yang diterima keluarga menyebutkan jenazah Deni kini berada di sebuah rumah sakit di Kamboja untuk proses visum atau autopsi yang diperkirakan memakan waktu tiga hari.

Kini, di tengah ketidakpastian dan beban berat, harapan keluarga tetap satu. Mereka tidak meminta banyak, hanya keadilan dan kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir.

“Kami hanya ingin kepastian, dan kami ingin lihat wajah Deni untuk terakhir kali,” lirih Ria, menyimpulkan seluruh harapan dan duka yang kini mereka pikul.(*)


Reporter: Rudi

Redaktur: Hamjah


Artikel ini telah dibaca 174 kali

Baca Lainnya

Lautan Massa di Sukabumi: Petani hingga Relawan Bersatu Tolak Moratorium Program MBG

24 Juni 2026 - 13:18 WIB

Ribuan massa aksi dari berbagai elemen masyarakat berkumpul di Lapang Merdeka Kota Sukabumi sebelum memulai long march. Mereka bersiap dengan semangat untuk menyuarakan aspirasi menolak moratorium dan menuntut keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah langkah nyata dalam upaya peningkatan gizi masyarakat dan mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Sekda Sukabumi Tegaskan Efisiensi Anggaran 2026 Tak Boleh Turunkan Kualitas Pelayanan Publik

23 Juni 2026 - 12:15 WIB

Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, H. Ade Suryaman, memberikan arahan saat membuka kegiatan Akselerasi Urusan Daerah melalui Integrasi Sinkronisasi dan Inovasi (AUDISI) di Bale Pangripta, Palabuhanratu, Selasa (23/6/2026). Dalam forum tersebut, ia menegaskan efisiensi anggaran tidak boleh menurunkan kinerja pelayanan publik.

Petugas Lapas Sukabumi Gagalkan Penyelundupan Sabu Bermodus Dilempar dalam Bakso

23 Juni 2026 - 12:07 WIB

Fraksi Golkar DPRD Sukabumi Soroti Lemahnya Kemandirian Fiskal, Dorong Reformasi Melalui Digitalisasi Pajak

23 Juni 2026 - 11:52 WIB

Sekretaris Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Sukabumi, Loka Tresnajaya, saat membacakan Pandangan Umum Fraksi dalam Rapat Paripurna ke-6 mengenai Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD TA 2025 di Palabuhanratu, Senin (22/6/2026).

Soroti Pelayanan RSUD Palabuhanratu, BEM Nusantara Desak Bupati dan DPRD Sukabumi Lakukan Evaluasi Total

22 Juni 2026 - 16:17 WIB

Massa mahasiswa yang tergabung dalam BEM Nusantara Wilayah Sukabumi membentangkan spanduk tuntutan dalam aksi unjuk rasa di depan Pendopo Kabupaten Sukabumi, Senin (22/6/2026). Dalam aksi tersebut, mereka menyuarakan rapor merah pelayanan RSUD Palabuhanratu dan mendesak evaluasi sejumlah kebijakan nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hadiri Milad dan Pengukuhan Pengurus YATSHI, Sekda Sukabumi Pesankan Amanah Pelayanan Umat

20 Juni 2026 - 14:36 WIB

Momen penandatanganan dokumen berita acara pengukuhan Ketua dan Pengurus Yayasan Tarbiyatsshibyan (YATSHI) masa bakti 2026–2031. Acara ini berlangsung khidmat pada puncak peringatan Milad YATSHI di kompleks yayasan, Desa Cibolang Kaler, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Kamis (18/6/2026).
Trending di Sukabumi