JENTERANEWS.com – Bencana pergerakan tanah yang melanda Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, kini memasuki fase kritis. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama sepekan terakhir memicu eskalasi kerusakan yang masif. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi merespons cepat dengan menggelar aksi tanggap darurat dan mendirikan sejumlah tenda pengungsian sejak Sabtu (28/2/2026).
Langkah mitigasi ini diambil untuk menjamin keselamatan warga, menyusul meluasnya area retakan tanah yang mengancam permukiman di RT 005, RW 007.
Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, mengonfirmasi bahwa tim di lapangan telah merampungkan pemasangan fasilitas darurat bagi warga terdampak.
“Hari ini tim melakukan pemasangan tenda untuk pengungsian warga yang terdampak bencana pergerakan tanah di Kampung Cijambe. Sebanyak 6 unit tenda jenis family sudah terpasang di lokasi,” ujar Daeng, Minggu (1/3/2026).
Sebagai langkah antisipatif terhadap potensi lonjakan jumlah pengungsi, BPBD turut menyiagakan 4 unit tenda tambahan di Kantor Desa Bantargadung. Saat ini, sebagian warga mulai menempati tenda resmi, sementara lainnya memilih evakuasi mandiri ke rumah kerabat atau menyewa hunian sementara di zona yang lebih aman.
25 Bangunan Terdampak, Termasuk Pondok Pesantren
Berdasarkan tinjauan terbaru Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Bantargadung pada Jumat (27/2/2026), fenomena pergerakan tanah yang terdeteksi sejak Minggu (22/2/2026) lalu ini telah mengakibatkan kerusakan signifikan pada puluhan infrastruktur.
Total terdapat 25 unit bangunan yang terdampak dengan rincian kerusakan sebagai berikut:
-
Rusak Berat (5 unit): Terdiri dari empat rumah tinggal (milik Diding S, Linda Farida, Muhamad Buhori, dan Ade Elly Saputra) serta satu unit gedung Pondok Pesantren milik Muhamad Abdul Muizzul Falah yang dihuni sekitar 20 jiwa.
-
Rusak Sedang (6 unit): Mengalami retakan dinding dan pergeseran fondasi.
-
Rusak Ringan (14 unit): Retakan minor yang masih terus dalam pemantauan.
P2BK Bantargadung, Sihabudin, menjelaskan bahwa stabilitas tanah di lokasi bencana terus menurun secara drastis akibat tingginya debit serapan air hujan.
“Bencana ini akibat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam waktu lama. Kondisi tanah menjadi labil karena jenuh air. Retakan pada dinding dan lantai rumah warga terus bertambah dan masih kami pantau secara berkala,” jelas Sihabudin.
Akibat kerusakan fatal tersebut, empat kepala keluarga terpaksa mengungsi demi keselamatan jiwa. Sementara itu, penghuni pondok pesantren kini berada di bawah pengawasan dan kewaspadaan ketat petugas.
Sinergi Aparat dan Imbauan Kewaspadaan
Aksi tanggap darurat di lokasi bencana dikawal langsung oleh personel BPBD yang terdiri dari Beki Supriatna, Rengga Manggala, dan Saepuloh. Koordinasi teknis di lapangan juga diperkuat oleh jajaran perangkat desa, kecamatan, Koramil, hingga Polsek setempat guna memastikan kelancaran evakuasi dan distribusi bantuan.
Pihak otoritas terus bersiaga melakukan pemantauan kontinu untuk mengantisipasi pergerakan tanah susulan, terutama jika hujan kembali turun. Warga pun diimbau untuk tidak mengabaikan tanda-tanda alam di sekitar tempat tinggal mereka.
“Kami mengimbau warga agar tetap waspada. Jika retakan semakin melebar atau terdengar suara pergerakan tanah, segera keluar rumah dan laporkan kepada aparat setempat. Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas,” tegas Sihabudin.
Hingga berita ini diturunkan, warga dan tim gabungan di lapangan masih menantikan hasil kajian teknis dari instansi berwenang untuk memastikan tingkat kerawanan lahan di Kampung Cijambe secara komprehensif.(*)
Laporan Awang
Editor Hamjah















