JENTERANEWS.com — Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) semakin mencekik kehidupan warga di wilayah pelosok Sukabumi Selatan, Jawa Barat. Memasuki momen pasca-Idulfitri, krisis energi ini meluas dengan cepat dan menyebabkan roda perekonomian serta mobilitas harian masyarakat nyaris lumpuh total.
Berdasarkan pantauan di lapangan, krisis BBM ini tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan merata di setidaknya enam wilayah. Sebaran kelangkaan tersebut dirasakan secara signifikan oleh warga di Kecamatan Cidadap, Curugkembar, Sagaranten, Cidolog, Pabuaran, hingga Kecamatan Purabaya.
Selama ini, masyarakat di kawasan Sukabumi Selatan sangat bergantung pada pasokan dari pedagang BBM eceran untuk memenuhi kebutuhan transportasi sehari-hari. Namun, situasi memburuk pada Kamis (26/3). Stok BBM di tingkat pengecer terpantau kosong melompong dan sangat sulit didapatkan di sepanjang jalan.
Kondisi ini semakin diperparah dengan lumpuhnya infrastruktur distribusi resmi di wilayah tersebut. Satu-satunya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang menjadi tulang punggung warga di Kecamatan Purabaya dilaporkan tutup dan sama sekali tidak beroperasi.
Dampak dari kelangkaan ini langsung memukul sendi-sendi kehidupan masyarakat. Tidak sedikit warga yang terpaksa membatalkan urusan pekerjaan, sekolah, hingga aktivitas perdagangan karena ketiadaan bahan bakar.
Salah seorang warga setempat menuturkan bahwa dirinya terkurung di rumah dan tidak bisa menjalankan rutinitasnya sama sekali. Kendaraan miliknya terpaksa dikandangkan karena indikator bensin sudah menyentuh titik terendah. “Saya sama sekali tidak bisa beraktivitas hari ini. Tidak ada sisa bensin sedikit pun di motor, sementara dari tingkat eceran sampai pom bensin besar semuanya kosong,” keluhnya.
Fenomena kelangkaan BBM pasca-lebaran ini menjadi teguran keras terkait rentannya sistem distribusi energi di wilayah selatan Sukabumi. Warga kini sangat menantikan langkah cepat dan tanggap dari pemerintah daerah serta instansi terkait, termasuk pihak Pertamina, untuk segera memulihkan pasokan. Jika dibiarkan berlarut, kelangkaan ini dikhawatirkan akan memicu kerugian ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat akar rumput.
Editor: Hamjah















