JENTERANEWS.com — Masyarakat pada umumnya mungkin lebih familier dengan istilah Iflas, yang dalam literatur Islam merujuk pada kebangkrutan secara finansial atau harta. Namun, terdapat sebuah kondisi yang jauh lebih mengkhawatirkan dan dapat mengancam kesehatan mental maupun spiritual seseorang, yaitu Al-Iblas.
Al-Iblas didefinisikan sebagai sebuah kondisi psikologis ketika seseorang merasa musibah yang menimpanya terlalu besar, sehingga memunculkan keyakinan bahwa tidak ada lagi jalan keluar. Dalam fase ini, hati penderitanya menjadi kosong dari harapan dan terasa gelap gulita tanpa cahaya. Fenomena ini menjadi perhatian serius karena berpotensi merusak ketahanan mental seseorang dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Berdasarkan paparan Syaikh Abdullah Al-Jarbu’ yang disadur melalui program edukasi Nasehat Ulama di Yufid TV, rasa frustrasi dan keputusasaan yang ekstrem ini tidak muncul secara tiba-tiba. Terdapat dua akar penyebab utama mengapa seseorang dapat terjangkit “penyakit” Al-Iblas:
-
Lemahnya Pengenalan terhadap Tuhan: Kurangnya pemahaman mengenai kebesaran dan sifat-sifat Allah memicu hilangnya harapan.
-
Berhenti Bersandar pada Sang Pencipta: Melepaskan keterikatan spiritual yang berakibat pada hilangnya pegangan hidup.
Akibat dari kedua hal tersebut, seseorang akan memandang masa depannya dengan suram. Tingkat kecemasan akan memuncak, dan jiwa merasa terisolasi atau sendirian dalam menghadapi kejamnya dunia.
Resep Teologis untuk Mengobati “Al-Iblas”
Meski tergolong sebagai kondisi yang membahayakan, Al-Iblas bukanlah tanpa penawar. Solusi paling mendasar untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan kembali mengenali Allah melalui Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya yang mulia.
Meyakini bahwa Allah adalah Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang), serta memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu, merupakan fondasi utama kesembuhan. Kesadaran akan kemahakuasaan dan kasih sayang Tuhan ini diyakini mampu meluruhkan perasaan “tidak mungkin” atau “buntu” yang sebelumnya membelenggu pikiran.
Tiga “Senjata” Praktis untuk Keseharian
Selain pemulihan secara teologis, terdapat langkah-langkah praktis yang direkomendasikan sebagai senjata harian untuk membentengi diri dari keputusasaan:
-
Sabar dan Shalat: Merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 45, menahan diri dengan kesabaran dan mendirikan shalat adalah jalan utama untuk memohon pertolongan.
-
Memperbanyak Istighfar: Permohonan ampunan (istighfar) tidak sekadar berfungsi untuk menghapus dosa. Secara psikologis-spiritual, istighfar bekerja layaknya pembersih “noda” di dalam hati yang kerap memicu perasaan waswas, kedengkian, dan kesedihan yang berlebihan.
-
Bersedekah: Melengkapi sabar, shalat, dan istighfar dengan berbagi kepada sesama (sedekah) diyakini dapat semakin memantapkan ketenangan jiwa.
Rahasia Hati yang Kokoh: Mengimani Takdir
Sebagai landasan terakhir untuk menjaga keseimbangan mental, agama Islam menekankan pentingnya beriman kepada Qada dan Qadar (takdir). Keyakinan bahwa garis hidup manusia telah tertulis sebelum penciptaannya memiliki dua tujuan psikologis yang sangat krusial:
-
Mencegah Kesedihan Berlebih: Agar manusia tidak terlalu terpuruk saat dihadapkan pada kehilangan atau kegagalan.
-
Mencegah Kesombongan: Agar manusia tidak menjadi takabur atau lupa diri saat mendapatkan kejayaan dan kesuksesan.
Keimanan pada takdir inilah yang menciptakan stabilitas mental, membuat jiwa seseorang tetap seimbang, tidak mudah goyah, dan pantang menyerah.
Di penghujung pesannya, para ulama mengingatkan agar umat tidak membiarkan bisikan keputusasaan merajai pikiran. Mengembalikan segala urusan kepada Sang Pencipta, memperlama durasi sujud, dan terus memohon pertolongan adalah langkah terbaik. Hati yang sepenuhnya bersandar pada Dzat Yang Maha Kuat dipastikan tidak akan pernah benar-benar patah.(*)















