JENTERANEWS.com — Kondisi pascabencana tanah longsor di Jalan Provinsi ruas Tamanjaya–Palangpang, tepatnya di kawasan Hutan Lindung Cipeucang, Desa Mekarsakti, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, hingga kini belum mendapatkan penanganan secara permanen dari pihak berwenang. Situasi ini memicu kekhawatiran warga dan pengguna jalan akan potensi bahaya susulan yang mengancam keselamatan, terlebih di tengah medan jalan yang ekstrem.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sisa-sisa reruntuhan tebing berupa material tanah dan bebatuan masih tampak jelas berserakan di lereng yang memiliki ketinggian sekitar 80 meter tersebut. Meskipun saat ini wilayah Sukabumi tengah memasuki musim kemarau, kondisi struktur tebing dinilai masih sangat labil. Warga setempat mengkhawatirkan terjadinya longsor susulan apabila hujan deras kembali mengguyur kawasan tersebut.
Anwar (45), salah seorang warga Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, mengungkapkan bahwa para pengguna jalan kerap dihantui rasa waswas setiap kali melintasi titik bekas longsoran. Menurutnya, tingkat risiko kecelakaan di area itu sangat tinggi karena lokasinya berada tepat di jalur tanjakan dan turunan curam yang disertai tikungan tajam.
“Kalau melintas di lokasi itu kami masih sangat khawatir. Bekas longsoran masih terlihat jelas, dan kalau hujan deras turun, kami takut terjadi longsor lagi. Apalagi posisi jalannya merupakan perpaduan antara tanjakan, turunan, dan tikungan tajam,” ujar Anwar, Sabtu (11/7/2026).
Menyikapi kondisi tersebut, Anwar mewakili warga sekitar mendesak pemerintah daerah maupun provinsi untuk segera mengambil langkah konkret. Ia berharap adanya perbaikan tebing secara permanen serta pemasangan rambu-rambu peringatan bahaya di sekitar lokasi.
“Kami berharap pemerintah bisa segera memperbaiki tebing ini secara permanen. Jika belum memungkinkan, minimal dipasang rambu-rambu peringatan rawan longsor supaya pengendara yang melintas bisa lebih waspada dan berhati-hati,” tambahnya.
Sebagai informasi, bencana tanah longsor di titik tersebut sebelumnya terjadi pada Minggu (24/5/2026) sekitar pukul 19.00 WIB. Titik longsor tepatnya berada di KM 208+800 ruas Jalan Tamanjaya–Palangpang. Saat itu, tebing setinggi 80 meter ambrol dan membawa material berupa tanah, bebatuan berukuran besar, hingga pepohonan tumbang yang menutup total badan jalan sepanjang kurang lebih 70 meter.
Peristiwa nahas tersebut sempat melumpuhkan arus lalu lintas utama menuju kawasan pariwisata Geopark Ciletuh. Kendati material longsoran telah dibersihkan oleh instansi terkait dan jalur tersebut sudah dapat dilalui kendaraan, ketiadaan penahan tebing yang permanen masih menjadi “bom waktu”. Masyarakat menanti langkah antisipatif dari pemerintah sebelum musim penghujan tiba demi mencegah timbulnya korban jiwa dan terputusnya kembali urat nadi perekonomian serta pariwisata di kawasan tersebut.(*)















