Menu ✖

Mode Gelap

Sukabumi · 14 Mar 2026 11:59 WIB

Dugaan Pencabulan Santriwati di Sukabumi: Warga Bongkar Plang Ponpes, Terduga Pelaku Menghilang Berkedok Umrah


					Sebuah potongan video memperlihatkan sekelompok warga Kampung Cikondang, Kabupaten Sukabumi, yang sedang membongkar plang dan gapura sebuah pondok pesantren menggunakan gerinda, Jumat (13/3) dini hari. Perbesar

Sebuah potongan video memperlihatkan sekelompok warga Kampung Cikondang, Kabupaten Sukabumi, yang sedang membongkar plang dan gapura sebuah pondok pesantren menggunakan gerinda, Jumat (13/3) dini hari.

JENTERANEWS.com — Dunia pendidikan keagamaan kembali tercoreng oleh aksi tak bermoral. Kasus dugaan pencabulan terhadap sejumlah santriwati mencuat di sebuah Pondok Pesantren (Ponpes) di Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Merespons lambannya penanganan dan kekhawatiran akan konflik horizontal, warga setempat berbondong-bondong membongkar gapura serta plang nama pesantren tersebut.

Berikut adalah rekam jejak dan fakta-fakta kelam di balik insiden yang memicu kemarahan warga Kampung Cikondang ini:

1. Modus Pengobatan Tradisional dan Ijazah Ilmu

Pimpinan Ponpes berinisial MSL diduga kuat menjadi dalang di balik aksi pencabulan ini. Kuasa Hukum para korban dari LBH Pro Ummat, Rangga Suria Danuningrat, mengungkapkan bahwa pelecehan telah terjadi sejak tahun 2021. Saat itu, rata-rata korban masih di bawah umur, yakni berusia 14 hingga 15 tahun.

Modus yang digunakan MSL adalah bujuk rayu berkedok pengobatan tradisional hingga pemberian ijazah agar santri mendapatkan ilmu. Relasi kuasa yang timpang membuat para santriwati tak berdaya menolak.

“Awalnya bujuk rayu, ada juga yang modusnya pengobatan terus ada ijazah supaya dapat ilmu. Pelecehannya tidak sampai berhubungan, jadi ada yang diraba-raba, ditelanjangi, dibawa ke hotel, dipegang-pegang, diciumi,” ungkap Rangga.

2. Bayang-bayang Trauma Mendalam hingga Putus Sekolah

Dampak psikologis yang ditimbulkan dari aksi keji ini sangat fatal. Dari enam korban yang telah teridentifikasi, beberapa di antaranya mengalami trauma berat yang merenggut masa depan pendidikan mereka. Perasaan terpukul dan malu membuat dua orang korban memutuskan berhenti sekolah dan terpaksa melanjutkan pendidikan melalui program kejar paket.

3. Warga Bertindak: Bongkar Plang Demi Mencegah Anarkisme

Kekecewaan warga memuncak hingga berujung pada aksi pembongkaran atribut Ponpes. Dalam video yang beredar luas, sejumlah warga tampak memotong tiang besi menggunakan gerinda dan menurunkan papan nama pesantren.

Ketua RT setempat, Iwan Setiawan, menegaskan bahwa aksi ini bukanlah bentuk anarkisme, melainkan langkah preventif yang telah disepakati oleh para tokoh masyarakat Kampung Cikondang.

“Justru kita mencegah dari oknum-oknum luar yang takutnya kalau misalkan plang masih terpampang, takutnya ada kejadian yang tidak diinginkan,” jelas Iwan pada Jumat (13/3) dini hari.

Selain alasan keamanan, warga juga berencana mengalihfungsikan akses jalan pesantren tersebut menjadi jalan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU).

4. Lingkungan Merasa “Dikotori” oleh Sang Dai

Kejadian ini tidak hanya melukai para korban, tetapi juga menghancurkan muruah lingkungan setempat. Iwan menyampaikan kekecewaan mendalam dari warga terhadap sosok MSL yang selama ini dihormati.

“Bukannya kita rasa malu lagi, justru kita sangat merasa dikotori. Kok seorang ustaz, dai kondang sampai melakukan hal yang tidak senonoh,” keluhnya.

5. Terduga Pelaku Menghilang, Aktivitas Ponpes Lumpuh Total

Saat ini, aktivitas di Pondok Pesantren tersebut telah berhenti sepenuhnya. Tidak ada lagi pengurus maupun santri yang tersisa di lokasi. Mirisnya, terduga pelaku MSL diketahui tidak lagi berada di tempat. Menurut keterangan Iwan, warga terakhir kali melihat MSL saat ia hendak berangkat Umrah, tepat satu hari sebelum bulan Ramadan. Hingga kini, keberadaannya serta keluarganya tidak diketahui.

6. Desakan Kuat untuk Aparat Penegak Hukum

Warga Kampung Cikondang kini mendesak pihak kepolisian dan aparatur pemerintah untuk segera bertindak cepat. Kasus ini dinilai sebagai kejahatan serius yang tidak bisa dibiarkan menguap begitu saja.

“Tolonglah semua aparat kepemerintahan bergerak, jangan tinggal diam. Harapan warga semuanya menginginkan pelaku secepatnya ditangkap dan dihukum seadil-adilnya,” tegas Iwan.(*)



Eksplorasi konten lain dari JENTERA NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Artikel ini telah dibaca 72 kali

Baca Lainnya

Jasad Perempuan Tanpa Identitas Ditemukan Membusuk di Perkebunan Jati Ciemas Sukabumi

13 Oktober 2026 - 14:03 WIB

Sesosok mayat dengan kondisi pembusukan lanjut yang diduga berjenis kelamin perempuan ditemukan tergeletak di sebuah perkebunan jati di Kampung Margaluyu Dua, Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (13/10/2026) pagi.

Sukses Gelar Maulid Nabi SAW, Jamaah Musolla Al-Ikhlas Kebonkai Sukabumi Pererat Tali Silaturahmi

11 Oktober 2026 - 16:08 WIB

Ustadz Najmudin Jaelani (Ustadz Serepet) menyampaikan tausiyah dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di halaman samping Musolla Al-Ikhlas Kp. Kebonkai, Desa Girijaya, Nagrak, Sukabumi, Minggu (10/10/2026). Di depan, tampak ratusan jamaah, termasuk anak-anak dan wanita berhijab, menyimak ceramah dengan khidmat.

AKHIR TRAGIS DI PALANG PINTU DAPUR: Depresi Ekonomi Diduga Picu Kematian Ibu Muda di Tegalbuleud

11 Oktober 2026 - 15:27 WIB

Petugas gabungan yang terdiri dari anggota TNI (Babinsa), Polri (Bhabinkamtibmas), anggota Satpol PP, serta aparat Desa Nangela Kec. Tegalbuleud tengah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di dalam rumah korban, Winda Nela Kuswiyanti (29), Sabtu (10/10/2026).

HUT ke-81 TNI: Posramil Purabaya Gelar Khitanan Massal

10 Oktober 2026 - 15:37 WIB

Suasana acara khitanan massal dalam rangka HUT ke-81 TNI di Posramil Purabaya, Sukabumi. Warga setempat antusias mengikuti kegiatan bakti sosial tersebut

Perselisihan Senjata Tajam di Cireunghas Sukabumi Mengakibatkan Tiga Orang Luka-Luka

10 Oktober 2026 - 15:22 WIB

Warga dan anggota kepolisian berkumpul di ruang tamu sebuah rumah milik H di Kampung Gandasoli, Cireunghas, pasca-perkelahian yang melibatkan senjata tajam pada Sabtu (10/10/2026). Seorang petugas polisi terlihat sedang menangani korban yang tergeletak, sementara noda darah tampak terlihat di lantai di dekat korban. Peristiwa ini menyebabkan tiga orang luka-luka, dua di antaranya berat.

Jembatan Garuda Cibodas Gunungbentang Resmi Beroperasi, Hubungkan Dua Kecamatan di Sukabumi

10 Oktober 2026 - 15:06 WIB

Jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Sagaranten berfoto bersama Dandim 0622/Kabupaten Sukabumi Letkol Inf. Agung Ariwibowo (tengah) di depan Jembatan Garuda Cibodas setelah acara peresmian di Desa Gunung Bentang, Sabtu (10/10/2026). Jembatan ini menjadi akses penghubung penting bagi warga setempat.
Trending di Sukabumi

Eksplorasi konten lain dari JENTERA NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca