JENTERANEWS.com – Perjuangan berat harus dilalui oleh tim distribusi dari (SPPG) Cibeureum, Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi, dalam mendistribusikan makanan bagi penerima manfaat di desa Banjarsari. Distribusi makanan yang sejatinya sudah terhambat oleh kondisi jalan rusak, kini diperparah oleh adanya palang pembatas di akses jalan alternatif yang sebenarnya mulus dan lebih dekat.
Kondisi jalan utama menuju sekolah-sekolah sasaran distribusi berada dalam kondisi memprihatinkan. Menurut laporan, tim distribusi SPPG Cibeureum terpaksa melakukan perbaikan jalan nyaris setiap hari. Perbaikan ini sia-sia lantaran jalan yang sudah diperbaiki kerap dibongkar ulang oleh petani setempat untuk mengalirkan air ke sawah mereka yang berada di sisi jalan.
“Jalan yang sudah kami perbaiki dibongkar lagi untuk dilewati air, jadi setiap hari kami harus memperbaikinya lagi. Ini sangat menghambat waktu,” ujar Kepala SPPG Cibeureum, Rizal.
Padahal, terdapat akses jalan lain yang kondisinya bagus, mulus, dan jaraknya lebih dekat tidak memutar. Sayangnya, jalan tersebut tidak bisa dilewati oleh mobil boks kecil pengangkut makanan karena terpasang palang pembatas yang dipasang oleh Pemerintah Desa Banjarsari.
Menyikapi kesulitan ini, pihak SPPG Cibeureum telah berupaya melobi Pemerintah Desa Banjarsari, Kecamatan Cidadap. Mereka mengajukan permohonan agar palang pembatas tersebut bisa ditinggikan hanya 10 centimeter dari ketinggian aslinya, sehingga mobil boks kecil pengangkut makanan bisa melintas.
Namun, upaya tersebut bertepuk sebelah tangan. Kepala Desa Banjarsari dilaporkan menolak permohonan tersebut. Penolakan itu berdalih bahwa palang tersebut “sudah paten dan sudah menjadi peraturan desa.”
Rizal mengakui bahwa untuk bisa melewati jalan tersebut, mereka bisa saja menggunakan mobil yang ukurannya lebih pendek. Akan tetapi, pilihan ini justru akan menimbulkan masalah baru terkait efisiensi distribusi.
“Kalau pakai mobil boks yang sekarang, untuk 22 sekolah ke arah situ, cukup dua kali balik saja,” jelas Rizal. “Sementara, kalau harus pakai mobil yang lebih pendek, kami harus bolak-balik berkali-kali. Itu akan memperlambat waktu pengiriman ke sekolah-sekolah lainnya.”
Penolakan Kepala Desa Banjarsari ini secara efektif memaksa tim distribusi SPPG Cibeureum tetap menggunakan jalur yang rusak dan menguras tenaga, memperlambat proses pengiriman makanan bergizi bagi anak-anak sekolah. Perlu adanya solusi sinergis antara pihak SPPG dan Pemerintah Desa untuk memastikan kelancaran program gizi, demi kepentingan pendidikan dan kesehatan siswa di wilayah tersebut.(*)















