Menu

Mode Gelap

Sukabumi · 18 Jul 2025 08:37 WIB

Jerit Lirih di Warudoyong: Nasib Bayi di Atas Keresek yang Kini Banjir Simpati dan Menanti Adopsi


					Bayi perempuan dengan berat 3,3 kg dan panjang 50 cm ini kini dalam perawatan intensif setelah ditemukan terlantar. Penemuannya memicu gelombang simpati dari warga Sukabumi yang berbondong-bondong ingin mengadopsinya. Perbesar

Bayi perempuan dengan berat 3,3 kg dan panjang 50 cm ini kini dalam perawatan intensif setelah ditemukan terlantar. Penemuannya memicu gelombang simpati dari warga Sukabumi yang berbondong-bondong ingin mengadopsinya.

JENTERANEWSA.com – Suara tangis lirih di selasa pagi buta menjadi pusat perhatian di sebuah sudut Jalan Cipanengah, Kampung Koleberes, Kota Sukabumi. Di balik pagar besi bercat hitam-kuning, seorang bayi perempuan mungil ditemukan tergeletak memilukan di atas kantong keresek hitam, tepat di samping semak belukar. Penemuannya sontak mengiris hati warga dan memicu gelombang simpati yang luas.

Kabar penemuan bayi yang diperkirakan baru beberapa jam dilahirkan itu dengan cepat menyebar. Sejak Selasa (15/7/2025), puluhan warga telah menyatakan niat tulus mereka untuk mengangkatnya sebagai anak. Namun, jalan menuju adopsi tidaklah sederhana.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Sukabumi, Een Rukmini, membenarkan adanya antusiasme tinggi dari masyarakat. Banyak yang telah datang langsung ke kantornya, secara lisan menanyakan prosedur dan menyatakan keinginan untuk merawat sang bayi.

“Secara lisan memang sudah ada beberapa orang yang menyampaikan ingin mengadopsi. Kami sangat mengapresiasi niat baik warga,” ujar Een saat dihubungi pada Kamis (17/7/2025).

Kendati demikian, Een menegaskan bahwa proses adopsi belum bisa dibuka. Saat ini, bayi malang tersebut masih berada dalam penanganan pihak kepolisian untuk pemeriksaan kesehatan menyeluruh dan penelusuran keluarganya.

“Belum ada penyerahan secara resmi dari kepolisian. Setelah proses di sana selesai, barulah bayi diserahkan ke Dinsos, yang selanjutnya akan kami rujuk ke Satuan Pelayanan Perlindungan Sosial Anak Balita (Satpel PSBA) di Bandung,” jelasnya.

Kisah penemuan bayi ini berawal dari seorang tunawisma yang tengah mencari barang rongsokan. Ia terkejut mendengar tangisan dan menemukan sumber suara yang ternyata adalah bayi hidup, dengan bagian tubuh ditutupi kain biru dan ari-ari yang masih menempel.

AS (56), Ketua RT setempat, masih mengingat jelas kepanikan warga yang melapor kepadanya. “Saya lagi di rumah, tiba-tiba ada warga datang, mukanya pucat, bilang ada bayi dibuang. Saya langsung lari ke sana. Ya Allah, ternyata benar. Bayi masih hidup, tali pusarnya masih ada,” tuturnya dengan suara bergetar.

Petugas dari Polsek Warudoyong yang tiba di lokasi segera mengevakuasi bayi tersebut. Dengan berat badan 3,3 kilogram dan panjang 50 sentimeter, bayi itu dalam kondisi sehat meski ditemukan dalam keadaan yang memprihatinkan.

“Saat kami sampai di lokasi, bayi sudah ditemukan warga. Dibungkus keresek hitam, dengan ari-ari yang masih menempel. Bayi berjenis kelamin perempuan dan dalam keadaan hidup,” kata Kasi Humas Polres Sukabumi Kota, AKP Astuti Setyaningsih.

Een Rukmini mengingatkan bahwa proses adopsi anak harus melalui prosedur ketat yang diatur undang-undang. Hal ini semata-mata untuk memastikan hak dan masa depan anak terlindungi.

“Proses adopsi anak bukan perkara mudah. Banyak syarat yang harus dipenuhi,” tegasnya.

Beberapa persyaratan utama bagi calon orang tua angkat antara lain:

  • Berusia minimal 30 tahun.
  • Sehat secara fisik dan mental.
  • Memiliki pekerjaan dan kelayakan ekonomi yang stabil.
  • Pertimbangan jumlah anak kandung. “Kalau pasangan suami istri misalnya, hanya boleh mengadopsi kalau baru punya satu anak kandung,” contoh Een.

Selain itu, calon orang tua juga harus melengkapi berbagai dokumen administrasi dan akan melalui proses penilaian kelayakan lingkungan oleh tim dari dinas sosial.

“Intinya, kami meminta masyarakat yang berminat untuk bersabar dan mengikuti tahapan yang benar. Semua ini demi kebaikan dan perlindungan terbaik bagi si bayi,” tutupnya.

Kini, bayi perempuan itu menjadi simbol harapan di tengah keprihatinan. Sementara polisi bekerja menelusuri jejak orang tuanya, puluhan keluarga di Sukabumi menanti dengan cemas, berharap bisa memberinya rumah dan kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan di awal hidupnya.(*)

 


Reporter: Joko S

Redaktur : Hamjah


 

Artikel ini telah dibaca 23 kali

Baca Lainnya

Serap Aspirasi Warga, Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi Asri Mulyawati Gelar Reses di Jampangtengah

6 Juni 2026 - 20:53 WIB

Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi Fraksi Partai Golkar, Asri Mulyawati, S.Pd. (tengah, berkerudung putih), saat memimpin jalannya dialog interaktif dalam kegiatan Reses Kedua Tahun Sidang 2026 di Aula Kecamatan Jampangtengah, Jumat (5/6/2026).

Serap Aspirasi Warga Ciemas, Anggota DPRD Sukabumi Andri Hidayana Gelar Reses dan Santuni Anak Yatim

6 Juni 2026 - 20:34 WIB

Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi Fraksi PPP, Andri Hidayana (memegang mikrofon), saat memberikan sambutan di hadapan warga yang hadir dalam acara Reses Kedua Tahun Anggaran 2026 di kediamannya, Kampung Ciloa, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan bakti sosial berupa pemberian santunan kepada anak yatim dan lanjut usia (jompo), di mana sejumlah anak-anak yatim yang hadir tampak memegang bingkisan santunan. (FOTO: Istimewa)

Antisipasi Teror Geng Motor, Polsek Citamiang Gelar Patroli Skala Besar di Jam Rawan

6 Juni 2026 - 20:24 WIB

Kapolsek Citamiang Iptu Riki Saputra (berseragam di tengah) terlihat sedang berinteraksi dan berdialog langsung dengan warga di sebuah pos selama pelaksanaan patroli preventif dini hari untuk mengantisipasi gangguan Kamtibmas dan memberikan imbauan keamanan.

Hadapi Darurat Sampah, Pemkab Sukabumi Gaungkan “Keadilan Iklim” Lewat Aksi Masif

6 Juni 2026 - 13:50 WIB

Potret petugas dan warga melakukan korve (kerja bakti) massal serentak untuk membersihkan median jalan dan mengumpulkan sampah ke dalam karung di area Cisaat, Sukabumi, pada puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sabtu (6/6/2026). Aksi nyata pembersihan di lapangan ini menjadi langkah taktis Pemkab Sukabumi untuk mengatasi darurat sampah dan memperluas ruang terbuka hijau, menindaklanjuti seruan Kepala DLH Nunung Nurhayati. (

Hari Lingkungan Hidup 2026: Disperkim Sukabumi Pacu Transformasi ‘Green Settlement’ Hadapi Krisis Iklim

6 Juni 2026 - 13:41 WIB

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi, dalam poster peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Disperkim berkomitmen mendorong transformasi pembangunan perumahan berbasis keberlanjutan lingkungan (green settlement) guna menghadapi dampak nyata perubahan iklim di daerah.

Gelar Reses di Kebonpedes, Anggota DPRD Sukabumi Uden Abdunnafsir Tampung Keluhan Infrastruktur hingga Persoalan Hukum

6 Juni 2026 - 13:27 WIB

Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi PKS, Uden Abdunnafsir, saat menyampaikan pemaparan dalam Reses Kedua Tahun Sidang 2026 di Pondok Pesantren Nurul Inayah, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi.
Trending di Sukabumi