JENTERANEWS.com — Di usianya yang telah menginjak 60 tahun, saat di mana seseorang seharusnya menikmati masa tua dengan damai dan nyaman, Ibu Mimin justru harus berjuang melawan kerasnya hidup seorang diri. Warga Kampung Cinangka RT 004/006, Desa Cimerang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini tinggal di sebuah gubuk reyot yang kondisinya sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak huni.

Jauh dari Kata Layak – Penampakan gubuk reyot berdinding bilik bambu yang menjadi tempat berteduh Ibu Mimin. Tampak atap genteng yang sudah rapuh dan dinding yang jebol, membuat bangunan ini nyaris roboh serta tak lagi mampu melindunginya dari dinginnya angin malam dan rintik hujan.
Pada Rabu pagi (17/6/2026), awak media didampingi oleh sesepuh kampung setempat, Bapak Hamam, mengunjungi kediaman Ibu Mimin. Pemandangan memilukan langsung menyambut di depan mata. Dinding rumahnya tampak rapuh menahan beban bangunan yang nyaris roboh. Jika malam tiba, hembusan angin dingin menusuk tulang dengan leluasa masuk ke dalam. Lebih miris lagi, kala hujan turun, atap genteng yang bocor membuat tempat tidurnya basah kuyup, merampas satu-satunya tempat ia beristirahat.
Penderitaan Ibu Mimin tidak berhenti pada kondisi tempat tinggalnya. Penglihatannya tak lagi normal akibat penyakit katarak yang menggerogoti kedua matanya. Namun, himpitan ekonomi memaksanya untuk terus bertahan.
“Kalau ada yang menyuruh kerja apa saja, saya kerjakan. Walaupun harus dengan meraba-raba karena mata saya sudah tidak jelas melihat,” tutur Ibu Mimin dengan suara bergetar kepada awak media.
Untuk makan sehari-hari, jika sedang tidak ada yang memberinya pekerjaan, Ibu Mimin amat bergantung pada kebaikan tetangganya. Salah satunya adalah Bapak Hamam, sesepuh kampung berhati mulia yang kerap menyisihkan rezekinya untuk memastikan lansia tersebut tidak kelaparan.
Kondisi keluarganya pun tak kalah pelik. Empat puluh tahun silam, Ibu Mimin berpisah dengan sang suami. Ia dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan dapat menjadi sandaran di masa tua. Namun takdir berkata lain, kehidupan ekonomi anaknya juga sangat mengkhawatirkan. Kini, sang anak harus menumpang di rumah tetangga untuk sekadar mencari makan dan bekerja serabutan seadanya.
Terkait penyakit katarak yang dideritanya, Ibu Mimin mengaku pernah berupaya berobat ke Puskesmas Purabaya. Namun, keterbatasan fasilitas membuat pihak Puskesmas merujuknya ke rumah sakit di pusat kota Sukabumi.
“Saya tidak punya biaya untuk berobat ke Sukabumi,” ucapnya terbata-bata, tak kuasa menahan derai air mata yang jatuh membasahi pipi keriputnya.
Ketika disinggung mengenai bantuan sosial dari pemerintah, Ibu Mimin menjelaskan bahwa ia baru satu kali menerima bantuan berupa uang tunai yang dicairkan melalui Kantor Pos Kecamatan Purabaya. Sementara itu, bantuan pangan pokok seperti beras sangat jarang ia rasakan.
Menindaklanjuti kondisi memprihatinkan ini, awak media segera bergegas menuju Balai Desa Cimerang untuk mengonfirmasi apakah Ibu Mimin telah diajukan dalam program Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Lantaran suasana balai desa yang masih sepi di pagi hari, awak media berinisiatif menghubungi Kepala Desa Cimerang, Nyanyang Resmana, melalui sambungan telepon.
Meski tengah dalam perjalanan dinas menuju kota Bogor, Kepala Desa berkenan memberikan keterangan resminya. Nyanyang menjelaskan bahwa pihak desa sejatinya tidak tutup mata. Nama Ibu Mimin telah dimasukkan dan diajukan ke dalam program Rutilahu, baik ke tingkat kabupaten maupun provinsi, namun hingga saat ini belum ada realisasi pencairan dari pemerintah pusat maupun daerah.
“Sambil menunggu program Rutilahu dari pemerintah yang belum turun, Insya Allah akan ada bantuan dari persatuan grup ‘Purabaya Oyag’. Mereka yang akan turun tangan menangani pembangunan rumah Ibu Mimin. Mudah-mudahan semuanya dilancarkan,” ungkap Nyanyang memberikan secercah harapan.
Di tengah segala keterbatasannya yang gelap dan dingin, Ibu Mimin masih menaruh harapan besar. Ia sangat mendambakan uluran tangan dan perhatian lebih dari pemerintah daerah maupun para dermawan, agar di sisa usianya, ia bisa berteduh di rumah yang hangat dan layak, serta mendapatkan kesembuhan untuk matanya yang kian memudar. (*Mardi*)















