Menu

Mode Gelap

Ekonomi · 11 Mar 2024 10:35 WIB

Pengelolaan Potensi Alam Produk Kolang Kaling Desa Sinarbentang Sagaranten


					Lapak Kolang-kaling Desa Sinarbentang Kecamatan Sagaranten Kabupaten Sukabumi. Perbesar

Lapak Kolang-kaling Desa Sinarbentang Kecamatan Sagaranten Kabupaten Sukabumi.

JENTERANEWS.com – Usaha pembuatan cangkaleng atau kolang-kaling mengeliat menjelang Ramadan di Desa Sinarbentang, Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi. Warga pun kecipratan rezeki dari usaha pengolahan buah caruluk tersebut.

Asap dari rebusan caruluk mengepul dari lapak-lapak sederhana di tepi jalan, Desa Sinarbentang, Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Buah pohon Aren itu direbus dalam sebuah tong dengan bahan bakar kayu. Di dalam lapak yang tertutup plastik itu, sejumlah warga sibuk mengupas caruluk yang sudah direbus menggunakan pisau.

Sementara di rumah warga, isi caruluk yang telah dikeluarkan dihantam palu kayu agar pipih oleh warga lain. Kampung-kampung yang sepi itu kini cukup hiruk pikuk sepekan menjelang tibanya bulan suci.

isi caruluk yang telah dikeluarkan dihantam palu kayu agar pipih

Warga memproduksi kolang-kaling untuk dijual ke para bandar di kota Sukabumi. Salah satu pembuat kolang-kaling tersebut adalah Saep, (43).

Di lapak sederhananya yang berlokasi di Kampung Puncakkaung , Saep mulai menyiapkan kolang-kaling untuk dijual ke bandar. Saban hari, ia memproduksi dan mengumpulkan bahan campuran kolak dan es campur itu.

Salah satu pekerja Saep bernama Hanan menjelaskan, harga kolang Kaling di bulan puasa naik signifikan. “Kalau bulan puasa banyak yang memesan harganyapun lumayan naik” kata Hanan kepada jenteranews.com Senin (11/3/2024).

Menurut Hanan, buah pohon aren tersebut hasil beli dari para petani di desa Sinarbentang, hingga ke wilayah Cidadap. Dalam sehari, lapaknya mampu memproduksi 150 kilogram kolang-kaling. jumlah total produksinya per minggu sekira 1 ton . Harga kolang-kaling memang terbilang tinggi kala puasa.

Harga di tingkat bandar bisa mencapai Rp10.000 per kilogram. Angka itu melonjak ketimbang harga kolang-kaling di bulan biasa yang cuma Rp4.000 sampai Rp5.000 per kilogram. Tak ayal, warga pun tergiur untuk memproduksi kolang-kaling di momen bulan suci.

Hal serupa juga dilakukan warga Sinarbentang lainnya. Lapak-lapak produksi kolang-kaling di kampung itu diisi warga yang tengah merebus dan mengupas caruluk. ‎

Heri (38) warga Desa Sinarbentang turut serta dalam kesibukan itu. Ia mengaku harga memang merangkak naik di hari-hari menjelang Ramadan. Jika berkaca pada puasa tahun lalu, lanjutnya, harga kolang-kaling di kampung bisa mencapai Rp10.000 per kilogram. Sementara di hari biasa, hanya Rp5.000.

Untuk itu, warga memilih mengumpulkan dulu hasil produksinya sebelum dilepas ke bandar. Warga juga tak perlu pusing menjual kolang-kaling. “Nanti bandar-bandar yang datang ke sini),” ujarnya.

Persiapan memproduksi buah pohon aren tersebut ternyata dua bulan sebelum Ramadan misalnya, warga sudah mulai membeli dan mengumpulkan buah caruluk.

“Warga ada yang membeli caruluk, ada juga mendapatkan di kebun masing-masing,” katanya.

Sebulan sebelum puasa, para warga mulai mengumpulkan kayu bakar untuk bahan bakar merebus caruluk. Sekira dua pekan jelang bulan suci, produksi pun mulai berlangsung.

Hingga kini, proses produksi masih dilakukan dengan menggunakan peralatan manual. Untuk mengupas caruluk misalnya, warga masih menggunakan pisau. Sedangkan untuk memipihkan, warga memakai palu kayu.

Pengelolaan Potensi Alam Produk Kolang Kaling Desa Sinarbentang Sagaranten Sukabumi

Warga saat mengupas caruluk menggunakan pisau

Heri, berharap, adanya bantuan mesin guna mengupas dan memipihkan caruluk. Dengan demikian, kerja warga bisa lebih efisien dan produksi mampu digenjot tinggi.

Geliat usaha kolang-kaling Desa Sinarbentang menjelang puasa pun menjadi bukti ekonomi kerakyatan masih ada. Ekonomi yang berbagi rezeki, bukan memusatkan keuntungan di satu pihak saja.

Pengolahan kolang-kaling ini menunjukkan penguatan ekonomi yang dapat meningkatkan jiwa kewirausahaan untuk kesejahteraan masyarakat

Melalui pemanfaatan sumber daya alam lokal yang melimpah di Desa Sinarbentang, yaitu produk kolang kaling maka masyarakat dapat merasakan peningkatan ekonomi.(*)

Artikel ini telah dibaca 123 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Rupiah Terkapar di Hadapan Dolar AS, Kurs Jual Perbankan Tembus Rp 17.450

17 Mei 2026 - 17:56 WIB

Pertamina Resmi Naikkan Harga BBM Nonsubsidi per 18 April, Ini Rincian Lengkapnya

21 April 2026 - 12:06 WIB

Pemandangan dari sebuah SPBU Pertamina yang menampilkan ketersediaan berbagai jenis BBM, termasuk Pertamax Turbo dan Pertamina Dex yang harganya baru saja mengalami penyesuaian. Di papan nama terlihat ketersediaan produk seperti PERTAMAX 92 yang harganya tetap stabil, serta produk-produk lain yang relevan bagi mobilitas masyarakat. Penyesuaian harga ini diberlakukan mulai 18 April 2026 berdasarkan formula harga dasar berkala.

RI Bidik Minyak Rusia, Amankan Pasokan Energi Jangka Panjang di Tengah Gejolak Global

15 April 2026 - 07:06 WIB

Presiden RI Prabowo Subianto (tengah kiri, ber-peci) dan Presiden Rusia Vladimir Putin (tengah kanan) mengadakan pertemuan tingkat tinggi di Istana Kremlin, Moskwa, pada Senin (13/4/2026). Pertemuan ini membahas secara konkret kerja sama strategis di sektor energi dan sumber daya mineral, termasuk rencana Indonesia untuk mengimpor minyak mentah jangka panjang dari Rusia demi menjamin keamanan pasokan energi nasional. (Tangkapan layar

Mulai 2028 Pemerintah Jamin Keamanan Dana Nasabah Asuransi

2 Desember 2025 - 13:34 WIB

Musrenbang Kelurahan Cikundul, Pemkot Sukabumi Tegaskan Perencanaan Inklusif Menuju Target Pembangunan 2027

1 Desember 2025 - 14:20 WIB

BCA Syariah Tanam 1.500 Pohon di Cisitu Sukabumi untuk Mitigasi Banjir dan Longsor

1 Desember 2025 - 11:32 WIB

Trending di Bisnis