JENTERANEWS.com — Ketahanan pangan yang kerap digembar-gemborkan pemerintah kini menemui ironi pahit di Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi. Bukan karena cuaca ekstrem atau ketiadaan modal, melainkan oleh invasi babi hutan yang merampas keringat petani hanya dalam hitungan malam. Teror nokturnal ini bukanlah sekadar fenomena alam biasa, melainkan produk langsung dari kerusakan ekosistem dan masifnya alih fungsi lahan di kawasan hulu.
Bagi warga Cidolog, ancaman gagal panen kini bukan lagi probabilitas, melainkan kenyataan yang terjadi setiap hari. Perekonomian desa yang bertumpu pada sektor agraris sedang ditarik mundur menuju titik nadir.
Kritik tajam patut diarahkan pada pendekatan ketahanan pangan yang parsial. Baru saja petani Cidolog bernapas lega menerima program bantuan bibit jagung dari pemerintah, harapan itu langsung diinjak-injak kawanan celeng.
Pantauan di lapangan menunjukkan kerusakan yang absolut. Tanaman jagung—mulai dari bibit yang baru disemai hingga yang tinggal menunggu masa panen—tumbang porak-poranda. Kawanan hama ini tidak pandang bulu; tanaman pepaya yang baru dipupuk dicabut paksa hingga ke akar. Bibit durian, kelapa, dan jeruk nipis yang diinvestasikan petani untuk masa depan, hancur tanpa sisa.
Ini membuktikan satu hal: subsidi benih dan pupuk tidak ada nilainya jika negara gagal menjamin keamanan lahan garapan petani.
Mengapa babi hutan yang seharusnya berada di pedalaman kini turun menyerbu permukiman? Jawabannya ada pada eksploitasi lingkungan.
Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Cidolog, Asep, mengungkapkan realitas lapangan yang memprihatinkan. Kawasan hutan yang dikelola Perhutani di wilayah tersebut telah mengalami perubahan fungsi secara drastis. Ekosistem perbukitan yang dulunya menjadi benteng alami dengan tegakan mahoni dan jati, kini disulap menjadi hutan pinus. Lebih parah lagi, lahan-lahan karet dibabat habis untuk digantikan oleh perkebunan kelapa sawit.
Praktik alih fungsi lahan ini secara sistematis menghancurkan rantai makanan alami di dalam hutan. Ketika vegetasi penyedia pakan musnah dan habitat mereka dirampas oleh tingginya aktivitas manusia, kawanan babi hutan tidak punya pilihan selain turun gunung. Lahan pertanian warga pun terpaksa menjadi tumbal dari kerusakan ekologis di kawasan hulu.
Merespons jeritan petani, Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi bergerak menggandeng Persatuan Menembak dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin). Operasi perburuan selama dua hari di medan perbukitan terjal memang membuahkan hasil: tiga ekor babi hutan berhasil dilumpuhkan.
Namun, mari bicara realita. Melumpuhkan tiga ekor babi hutan di tengah populasi yang berkembang biak secara eksponensial hanyalah solusi kosmetik. Ini adalah langkah reaktif bak mengobati kanker dengan obat penurun panas.
Menyadari kebuntuan ini, Dinas Pertanian kini bersiap melibatkan Komando Distrik Militer (Kodim) setempat. Namun, sekuat apa pun moncong senjata diarahkan, hama ini tidak akan pernah tuntas jika dapur alami mereka di hutan tidak direstorasi.
“Kami sangat berharap ke depannya hama ini bisa benar-benar ditanggulangi. Dengan kondisi gunung-gunung yang mulai gundul, babi hutan jadi sangat cepat berkembang biak dan makin susah diantisipasi secara mandiri. Sekarang kami hanya bisa berharap ada keajaiban dan bantuan nyata agar hama ini berkurang, sehingga kami bisa kembali bertani tanpa dihantui gagal panen.”
Konflik satwa liar dan manusia di Cidolog adalah alarm merah bagi pemerintah daerah dan pusat. Ini bukan lagi sekadar berita tentang hama; ini adalah potret nyata bagaimana ambisi ekonomi dari alih fungsi lahan (seperti sawit dan pinus) harus dibayar mahal oleh perut rakyat kecil di pedesaan.
Jika dibiarkan, rentetan gagal panen ini akan memicu efek domino yang mematikan: anjloknya pasokan pangan, meroketnya harga kebutuhan pokok, dan matinya daya beli masyarakat desa. Negara harus berhenti memberikan solusi setengah hati. Menjaga ketahanan pangan berarti berani menghentikan perusakan hutan di hulu, bukan sekadar membagikan benih unggul untuk kemudian dijadikan pakan babi hutan.(*)















