JENTERANEWS.com – Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menghadapi sorotan tajam publik. Insiden dugaan keracunan massal melanda Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, setelah puluhan siswa dan guru mengonsumsi menu MBG yang disalurkan pada Rabu (28/1/2026). Hingga Kamis (29/1/2026) pagi, jumlah korban dilaporkan terus bertambah hingga mencapai 22 orang.
Kasus ini bermula dari temuan menu tahu yang diduga basi dan berjamur di dua institusi pendidikan, yakni SDN Bojong Kopo dan PAUD Al Hadi di Desa Loji. Peristiwa yang awalnya hanya menjangkiti segelintir orang ini dengan cepat meluas, memicu respons darurat dari Dinas Kesehatan dan kepolisian setempat.
Kapolsek Simpenan, AKP Bayu Sunarti Agustina, menjelaskan bahwa insiden bermula saat distribusi 356 porsi makanan dari penyedia SPPG Loji tiba di SDN Bojong Kopo sekitar pukul 07.00 WIB.
Saat pengecekan rutin pada pukul 08.30 WIB, pihak sekolah menemukan indikasi tahu yang tidak layak konsumsi karena berjamur. Sekolah segera mengeluarkan instruksi agar siswa tidak menyentuh makanan tersebut. Namun, seorang guru bernama Tri Karsa Perba Rahayu mencoba mencicipi tahu tersebut untuk memastikan kondisinya.
Tindakan serupa terjadi di PAUD Al Hadi, Kampung Gunung Buleud. Guru bernama Yuliani (28) juga mencicipi menu tahu yang dicurigai basi sebelum dibagikan.
“Tak lama berselang, para guru yang mencicipi makanan tersebut mengalami gejala klinis yang cepat dan mengkhawatirkan, mulai dari pusing, mual, sesak napas, hingga ujung lidah terasa kebas,” ungkap AKP Bayu. Para korban segera dilarikan ke UPTD Puskesmas Simpenan mulai pukul 15.45 WIB.
Selain tenaga pengajar, dua siswi kelas VI SDN Bojong Kopo, Neng RM (12) dan Mustika MG (12), juga harus menjalani pemeriksaan intensif dengan keluhan serupa.
Kepala Puskesmas Simpenan, Ade Setiawan, mengonfirmasi adanya lonjakan jumlah pasien yang signifikan pasca-kejadian.
“Hingga Kamis pagi ini, total korban tercatat sebanyak 22 orang. Dari jumlah tersebut, 6 orang harus dirujuk ke RSUD Palabuhanratu untuk penanganan lebih lanjut, 1 orang masih menjalani observasi di Puskesmas, dan 15 orang lainnya sudah diperbolehkan pulang setelah kondisi membaik,” terang Ade, Kamis (29/1/2026).
Menanggapi eskalasi kasus ini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, H. Masykur Alawi, S.Kep., MKM, turun langsung ke lokasi kejadian pada Rabu malam untuk memimpin penanganan medis. Masykur menginstruksikan penerapan sistem triase segera setelah pasien mulai berdatangan.
“Kami langsung melakukan pemilahan dan anamnesa berdasarkan tingkat keparahan gejala. Jika derajat sakitnya bisa ditangani di puskesmas, kami tangani sesuai SOP. Namun, untuk kasus yang membutuhkan layanan lanjutan, kami rujuk ke rumah sakit setelah pasien distabilisasi,” jelas Masykur.
Ia juga menegaskan telah berkoordinasi langsung dengan direktur dan kepala bagian RSUD Palabuhanratu untuk menyiagakan fasilitas rujukan. Selain itu, seluruh puskesmas di wilayah satu Kabupaten Sukabumi telah diinstruksikan untuk meningkatkan kewaspadaan (siap siaga).
Sebagai langkah tindak lanjut untuk mengungkap penyebab pasti insiden ini, Dinas Kesehatan akan segera melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE).
“Kami sudah menginstruksikan tim surveilans dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas untuk menyelidiki kasus ini secara menyeluruh melalui penyelidikan epidemiologi,” pungkas Masykur.
Sementara itu, pihak kepolisian masih terus melakukan pendalaman dan pengumpulan bukti terkait dugaan kelalaian penyedia makanan dalam program MBG ini.(*)















