JENTERANEWS.com – Harapan ribuan penonton untuk menyaksikan laga puncak yang sengit dalam Grand Final Open Turnamen Volleyball Putra Tahu Bulat Cup berakhir dengan amuk massa. Pesta olahraga yang seharusnya menjadi hiburan warga berubah menjadi lautan kekecewaan setelah salah satu tim finalis tak kunjung hadir di lapangan di Kampung Pasir Salam, Desa Nangela, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, Kamis (3/7/2025) malam.
Kekecewaan penonton yang telah memadati arena sejak sore hari memuncak dengan aksi anarkis, membakar meja, kursi, dan terpal milik panitia di tengah lapangan pertandingan.
Laga final yang mempertemukan tim tuan rumah, TB Makmur Jaya Pasir Salam, melawan tim Ancemon B sejatinya dijadwalkan mulai pukul 18.30 WIB. Tim Ancemon B bahkan telah berada di lapangan dan melakukan pemanasan, siap bertanding di hadapan penonton yang antusias.
Namun, hingga waktu menunjukkan pukul 19.20 WIB, atau hampir satu jam dari jadwal semula, tim TB Makmur Jaya yang diperkuat oleh pemain bintang Kaik Sadi Dastin dan kawan-kawan tidak menunjukkan batang hidungnya. Ketidakpastian ini menyulut emosi penonton yang merasa diabaikan.
“Ini penipuan! Saya sudah bela-belain datang jauh-jauh, bayar tiket Rp20 ribu, parkir motor Rp10 ribu. Timnya nggak datang-datang, ini panitia maksudnya cari keuntungan doang!” seru Saripudin (43), seorang penonton dari Leles Cianjur dengan nada geram.
Kekecewaan serupa dilontarkan Ruslan (39), warga Sagaranten, yang menempuh perjalanan jauh untuk menyaksikan pertandingan. “Saya datang jauh-jauh, niat mau nonton final. Sudah keluar ongkos bensin sama jajan, sampai lokasi nggak ada pertandingan. panitia gak profesional!” pekiknya di tengah kerumunan.
Suasana yang semula penuh antisipasi dengan cepat berubah menjadi tegang. Teriakan protes dan caci maki mulai menggema, ditujukan kepada panitia penyelenggara. Upaya panitia untuk menenangkan massa melalui pengeras suara, dengan alasan adanya “kendala teknis” yang dialami tim lawan, sama sekali tidak efektif. Penjelasan yang dianggap tidak jelas itu justru semakin memanaskan suasana.
Puncaknya, sebagian penonton yang merasa dirugikan melampiaskan amarah mereka. Mereka merangsek ke tengah lapangan dan membakar properti turnamen. Api berkobar di tengah arena voli, mengubah perhelatan olahraga itu menjadi potret kekacauan massal. Sebagian penonton lain memilih meninggalkan lokasi dengan rasa kecewa yang mendalam.
Insiden ini tidak hanya meninggalkan kerugian material, tetapi juga mencoreng citra sportivitas dan penyelenggaraan turnamen olahraga di tingkat lokal. Kurangnya koordinasi dan komunikasi dari pihak panitia dianggap sebagai pemicu utama kericuhan, merusak turnamen yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan fair play.
Hingga berita ini diturunkan, pihak panitia penyelenggara Tahu Bulat Cup belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pasti ketidakhadiran tim TB Makmur Jaya maupun langkah pertanggungjawaban atas kerugian yang diderita penonton dan kericuhan yang terjadi.(*)
Reporter: Ridwan
Redaktur: Hamjah















