Menu

Mode Gelap

Sukabumi · 9 Jul 2025 20:48 WIB

Aliansi Mahasiswa PMII dan GMNI Geruduk Balaikota Sukabumi, Suarakan Mosi Tidak Percaya


					Salah seorang koordinator aksi dari aliansi PMII dan GMNI dengan lantang berorasi di atas mobil komando di depan Balaikota Sukabumi, Rabu (9/7/2025). Dalam orasinya, mereka menuntut pemerintah kota untuk menghentikan dominasi kelompok tertentu dalam birokrasi. Perbesar

Salah seorang koordinator aksi dari aliansi PMII dan GMNI dengan lantang berorasi di atas mobil komando di depan Balaikota Sukabumi, Rabu (9/7/2025). Dalam orasinya, mereka menuntut pemerintah kota untuk menghentikan dominasi kelompok tertentu dalam birokrasi.

JENTERANEWS.com – Suasana di depan Balai Kota Sukabumi memanas saat ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menggelar aksi unjuk rasa, Rabu (9/7/2025). Aksi ini menjadi puncak kekecewaan mahasiswa terhadap pemerintahan Wali Kota Ayep Zaki dan Wakil Wali Kota Bobby Maulana yang dinilai tidak transparan dan dikendalikan oleh kelompok kepentingan.

Demonstrasi yang semula berjalan damai, memanas ketika massa aksi terlibat aksi saling dorong dengan aparat keamanan. Kekecewaan mahasiswa memuncak dengan aksi bakar ban di halaman balai kota, menyimbolkan kemarahan atas aspirasi yang tak kunjung didengar.

Puncaknya, mahasiswa membawa rantai dan gembok, berupaya menyegel pintu utama Balai Kota Sukabumi sebagai bentuk mosi tidak percaya. Aksi simbolis ini dihalau oleh petugas Satpol PP yang berjaga ketat, namun mahasiswa tetap bersikeras menunjukkan protes keras mereka.

Dalam orasinya, Ketua GMNI Sukabumi Raya, Aris Gunawan, dengan lantang menyuarakan mosi tidak percaya terhadap Pemerintah Kota Sukabumi. Ia menuding bahwa jalannya roda pemerintahan kini tidak lagi demokratis dan telah dikendalikan oleh Yayasan Doa Bangsa dan Forum Komunikasi Doa Bangsa (FKDB), sebuah organisasi yang disebut terafiliasi dengan Wali Kota Ayep Zaki.

“Kami berdiri satu barisan, satu narasi, menyuarakan mosi tidak percaya. Kami menilai kekuasaan di Sukabumi tidak lagi dijalankan secara transparan dan demokratis. Bahkan, instrumen birokrasi dan BUMD diduga telah dikuasai oleh kelompok tertentu,” pekik Aris di hadapan massa.

Menurut Aris, aksi penyegelan dengan gembok adalah simbol kekecewaan mendalam terhadap praktik pemerintahan yang tertutup dan menyimpang dari prinsip tata kelola yang baik (good governance). Ia menyoroti minimnya keterbukaan informasi dan partisipasi publik sebagai persoalan mendasar yang merusak kepercayaan warga.

“Pengambilan kebijakan dilakukan secara elitis dan tidak melibatkan masyarakat secara luas. Tidak ada transparansi, tidak ada akuntabilitas. Bahkan, tim komunikasi Pemerintah Kota pun didominasi oleh orang-orang dari kelompok yang sama. Kami tidak melihat adanya ruang diskusi yang sehat,” tegasnya.

Senada dengan GMNI, Ketua PMII Kota Sukabumi, Bahrul Ulum, secara khusus menyoroti peran dominan Forum Komunikasi Doa Bangsa (FKDB) yang dinilai telah mengintervensi arah kebijakan pemerintah daerah. Ia mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap struktur dan pola kerja pemerintahan.

“Efek domino dari dominasi satu kelompok ini sangat terasa. Kami melihat dampaknya pada sektor pelayanan publik, termasuk kesehatan dan pendidikan. Ini bukan hanya soal organisasi, tapi soal masa depan tata kelola pemerintahan yang berintegritas,” ujar Bahrul.

Dalam tuntutannya, aliansi mahasiswa mendesak Wali Kota untuk segera membuka transparansi dalam proses penunjukan pejabat publik dan membuka ruang dialog terbuka dengan seluruh elemen masyarakat. Mereka berkomitmen akan terus mengawal setiap kebijakan untuk memastikan aspirasi publik tidak diabaikan.

Hingga aksi unjuk rasa berakhir, baik Wali Kota Ayep Zaki maupun Wakil Wali Kota Bobby Maulana tidak menampakkan diri untuk menemui massa. Hanya Asisten Daerah 3, Imran Wardhani, dan Kepala Satpol PP, Ayi Jamiat, yang sempat berdialog singkat dengan perwakilan mahasiswa. Belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh pihak Pemerintah Kota Sukabumi untuk menanggapi aksi dan tuntutan mahasiswa tersebut.(*)


Reporter: Joko S

Redaktur: Hamjah


 

Artikel ini telah dibaca 85 kali

Baca Lainnya

Beraksi di 12 TKP, Sindikat Penipuan dan Penggelapan Motor di Sukabumi Diringkus Sat Reskrim

13 Januari 2026 - 12:50 WIB

Terduga pelaku utama kasus penipuan dan penggelapan motor berinisial AS (tengah, berbaju oranye) saat digiring oleh petugas Unit 1 Jatanras Sat Reskrim di Mapolres Sukabumi Kota untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Berujung Luka Sayat di Wajah, Duel ‘Ketersinggungan’ di Ciandam Sukabumi Berakhir di Jeruji Besi

13 Januari 2026 - 12:41 WIB

Terduga pelaku penganiayaan berinisial YH (kiri) saat menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik di Mapolsek Cibeureum, Kota Sukabumi, usai ditangkap akibat melukai korban dengan senjata tajam.

Diduga Lecehkan Santri Sejak Setahun Terakhir, Oknum Guru Ngaji di Cicurug Diamankan Polisi

13 Januari 2026 - 12:33 WIB

Pihak kepolisian mengamankan seorang oknum guru ngaji di Cicurug, Kabupaten Sukabumi, atas dugaan tindak pidana kekerasan seksual terhadap sejumlah anak didiknya. Kasus ini kini ditangani Unit PPA Polres Sukabumi.

Hujan Deras Guyur Sagaranten, Pohon Jati 15 Meter Tumbang Timpa Rumah Warga di Pasanggrahan

13 Januari 2026 - 12:21 WIB

Kondisi rumah milik Enep (53) di Kampung Cimangir, Desa Pasanggrahan, yang tertimpa pohon jati usai hujan deras mengguyur wilayah Sagaranten, Selasa (13/1/2026).

Soroti Jalan Rusak hingga Dugaan Kerugian Rp27 Miliar, BEM PTNU Sukabumi Raya Geruduk Kantor Dinas BMPR Jabar

13 Januari 2026 - 12:14 WIB

Rakyat Bayar Pajak, Pemerintah Mana Tanggung Jawab?", demikian bunyi poster yang dibawa salah satu peserta aksi BEM PTNU Sukabumi Raya di depan Kantor Dinas BMPR Jabar Wilayah II, Sukabumi, Senin (12/1/2025). Aksi ini merupakan buntut kekecewaan masyarakat atas buruknya tata kelola dan pemeliharaan jalan provinsi.

Rumah Semi Permanen di Kabandungan Ambruk, 10 Jiwa Terdampak Butuh Bantuan Mendesak

12 Januari 2026 - 18:48 WIB

Tampak bangunan rumah semi permanen milik Bapak Darma di Kampung Lemah Duhur, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, yang ambruk pada bagian atap dan dinding, Senin (12/1/2026). Sebanyak 10 jiwa terdampak akibat kejadian ini.
Trending di Sukabumi