JENTERANEWS.com — Kerusakan infrastruktur jalan di wilayah Kabupaten Sukabumi kembali menyajikan pemandangan yang mengiris hati sekaligus ironis. Bukan aspal mulus yang memfasilitasi mobilitas warga, melainkan rimbunnya tanaman kangkung yang tumbuh subur di atas kubangan lumpur Jalan Kabupaten ruas Baros-Cibuni, tepatnya di kawasan Kampung Cibarengkok, Desa Cidadap.
Kondisi memprihatinkan ini terekam jelas persis di depan fasilitas pendidikan, SDN 2 Cidadap. Berdasarkan pantauan lapangan pada Selasa (12/5/2026), bahu jalan yang seharusnya berfungsi sebagai saluran air (drainase) atau area aman bagi pejalan kaki, justru beralih rupa menjadi rawa buatan.
Tumbuhnya sayuran kangkung secara liar di lokasi tersebut menjadi indikator fisik yang tak terbantahkan mengenai lamanya durasi pembiaran jalan rusak ini. Kangkung, sebagai tanaman semi-akuatik, hanya bisa tumbuh subur di area yang terus-menerus digenangi air dan lumpur pekat. Fakta bahwa tanaman ini dibiarkan merambat lebat di bahu jalan menegaskan matinya fungsi drainase di ruas jalan tersebut. Air hujan yang tak memiliki saluran pembuangan akhirnya menggenang, merusak sisa-sisa aspal, dan mengendapkan tanah.
Lebih miris lagi, visual di sekitar genangan air memperlihatkan area yang tampak kumuh. Tumpukan sampah rumah tangga plastik hingga sisa-sisa abu pembakaran sampah terlihat berserakan bercampur dengan lumpur jalan. Material organik yang membusuk ini ironisnya bertindak sebagai “pupuk” alami yang membuat vegetasi liar semakin rimbun, namun di sisi lain menciptakan lingkungan yang tidak sehat, apalagi lokasinya berada persis di depan sekolah dasar.
Pemandangan jalan raya yang menyerupai lahan pertanian dadakan ini tentu memantik pertanyaan tajam terkait efektivitas pengawasan dan kehadiran Pemerintah Kabupaten Sukabumi, khususnya Dinas Pekerjaan Umum (PU). Mengingat statusnya sebagai jalan kabupaten, ruas ini seharusnya masuk dalam radar pemeliharaan rutin dengan alokasi anggaran yang jelas. Namun, realita di lapangan justru memperlihatkan kontras yang tajam; infrastruktur dibiarkan hancur perlahan hingga diambil alih oleh alam.
Kondisi ini tidak hanya menghambat roda perekonomian lokal dan membahayakan keselamatan pengendara—terutama saat hujan turun dan menutupi lubang jalan—tetapi juga merampas hak masyarakat atas fasilitas publik yang layak. Para siswa SDN 2 Cidadap yang melintas setiap hari terpaksa harus bersinggungan dengan jalanan berlumpur dan kotor.
Pemerintah daerah dituntut untuk tidak menutup mata atas potret buram ini. Diperlukan tindakan perbaikan menyeluruh yang tidak hanya sekadar menambal jalan, tetapi juga membangun sistem drainase yang permanen. Jika terus dibiarkan tanpa intervensi nyata, bukan tidak mungkin ruas jalan kabupaten ini akan sepenuhnya terputus dan benar-benar berubah status menjadi lahan agrobisnis liar di tengah fasilitas publik.(*)
(*Hamjah*)















