JENTERANEWS.com — Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sukabumi secara resmi mengeluarkan imbauan kepada seluruh jajaran satuan pendidikan di wilayahnya untuk meningkatkan intensitas pemeliharaan fasilitas sekolah. Langkah preventif ini ditegaskan menyusul banyaknya temuan ruang kelas di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mengalami kerusakan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, mengingatkan agar pihak sekolah tidak memandang sebelah mata kerusakan-kerusakan berskala ringan pada fisik bangunan. Ia menekankan bahwa penundaan perbaikan pada kerusakan kecil justru akan memicu kerusakan struktural yang jauh lebih masif dan membahayakan keselamatan proses belajar mengajar.
Deden mencontohkan, masalah klasik seperti atap bocor kerap menjadi awal mula terjadinya insiden bangunan rubuh. Air hujan yang merembes akan mempercepat proses pelapukan pada material kayu penyangga atap.
“Awalnya dari bocor kemudian kena kayu, akhirnya roboh,” ungkap Deden memberikan gambaran kronologi kerusakan bangunan sekolah.
Lebih jauh, Deden menyoroti realitas terkait keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Kabupaten Sukabumi dalam mengakomodasi perbaikan seluruh infrastruktur pendidikan yang rusak. Oleh sebab itu, pemeliharaan rutin menjadi langkah strategis dan krusial agar kerusakan tidak terakumulasi dan menyebabkan pembengkakan biaya perbaikan di kemudian hari.
Guna mengatasi kendala pembiayaan untuk pemeliharaan rutin tersebut, Disdik Sukabumi memberikan arahan yang jelas terkait sumber dana yang dapat digunakan. Deden menginstruksikan para kepala sekolah agar lebih cermat dan taktis dalam mengalokasikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
“Kepada kepala sekolah supaya bisa memaksimalkan dana pemeliharaan yang bersumber dari BOS,” tegasnya.
Selain menitikberatkan tanggung jawab pada kepala sekolah selaku pemangku kebijakan di tingkat satuan pendidikan, Deden juga menuntut peran aktif dari para pengawas sekolah. Ia meminta agar agenda monitoring dan evaluasi (monev) ke setiap sekolah tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga memprioritaskan inspeksi kelaikan bangunan.
“Ayo kita sama-sama rawat sekolah ini, tentunya oleh para kepala satuan pendidikan, para kepala sekolah. Kemudian juga monitoring dari para pengawas, ketika masuk sekolah itu yang dilihat sarananya dulu,” pungkas Deden mengakhiri pernyataannya.(*)















