JENTERANEWS.com — Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Oktober, momentum bersejarah pasca-peristiwa G30S/PKI tahun 1965, dijadikan tonggak penguatan komitmen kebangsaan.
Peristiwa kelam yang nyaris meluluhlantakkan persatuan bangsa ini menjadi latar belakang bagi seruan dari kalangan intelektual dan alumni pergerakan.
Presidium Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Sukabumi, Aam Abdul Salam, S.Ag, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan hari peringatan ini sebagai sarana introspeksi dan momentum untuk memperkuat komitmen kebangsaan.
Pancasila: Bukan Sekadar Simbol, Tapi Tindakan Nyata
Dalam pernyataannya, Aam menekankan bahwa nilai-nilai fundamental Pancasila tidak boleh hanya berhenti pada tataran simbolis atau dokumen sejarah semata. Ia menyerukan agar nilai-nilai tersebut hadir dan terwujud dalam tindakan nyata sehari-hari.
“Nilai-nilai luhur Pancasila seperti gotong royong, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap perbedaan adalah pedoman hidup berbangsa yang harus kita rawat bersama,” ujar Aam. “Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan, tapi harus kita praktikkan, baik dalam pelayanan publik maupun dalam kehidupan pribadi,” tegasnya.
KAHMI Didesak Menjadi Garda Terdepan
Secara khusus, Aam juga menyoroti peran strategis alumni HMI (KAHMI). Ia menggarisbawahi pentingnya KAHMI untuk menjadi contoh teladan dalam penerapan nilai-nilai kebangsaan, terutama dalam mewujudkan toleransi, persatuan, dan semangat melayani dengan integritas.
“KAHMI harus menjadi garda terdepan dalam merawat dan menerapkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” lanjut Aam. “Teladan yang diperlihatkan oleh seluruh kader KAHMI, akan dicontoh oleh seluruh lapisan masyarakat.”
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini, menurut Aam, merupakan pengingat krusial bahwa Pancasila adalah fondasi moral dan sosial bangsa dalam upaya membangun kehidupan bermasyarakat yang rukun dan berkeadaban.
“Kita harus berkomitmen untuk terus membumikan nilai-nilai Pancasila dalam setiap program dan sendi kehidupan,” pungkasnya. “Salah satunya memperkuat dan mempertahankan budaya gotong royong, hidup rukun, dan saling toleran sebagai ciri khas bangsa Indonesia, harus kita pegang bersama.” Seruan ini menegaskan kembali bahwa menjaga nilai-nilai kebangsaan adalah tanggung jawab kolektif yang berkelanjutan. (*)
Editor : Mia















