JENTERANEWS.com — Amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya hanya menjadi retorika di Kampung Cicukang, Desa Sindangraja, Kecamatan Curugkembar Kabupaten Sukabumi. Di sana, ratusan siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Hasanah dipaksa menuntut ilmu dengan bertaruh nyawa, belajar di bawah bayang-bayang gedung yang nyaris rubuh.
Lima bulan usai tragedi kebakaran yang menghanguskan sebagian besar bangunan sekolah pada November 2025 silam, belum ada satupun langkah konkret dari pemerintah daerah maupun instansi pendidikan terkait. Dari sepuluh ruang kelas yang pernah ada, kini hanya tersisa tiga. Ironisnya, ketiga ruangan tersebut lebih layak disebut sebagai “bom waktu” ketimbang tempat belajar.
Dinding-dinding retak menganga, sementara struktur atap yang lapuk seolah tinggal menunggu waktu untuk ambruk menimpa ratusan siswa yang ada di bawahnya.
Kehancuran tujuh ruang kelas menciptakan krisis daya tampung yang fatal. Ratusan siswa terpaksa menjadi korban dari sistem sif yang memangkas jam pelajaran secara drastis. Alih-alih mendapatkan pendidikan yang optimal, hak belajar mereka diamputasi oleh keterbatasan ruang.
Lebih miris lagi, cuaca buruk adalah teror nyata bagi warga sekolah. Setiap kali hujan deras turun, proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) harus dihentikan paksa. Rasa takut akan ancaman atap ambruk membuat para guru harus mengevakuasi siswanya ke masjid terdekat. Di tempat ibadah itulah, dengan segala keterbatasan, mereka mencoba merajut sisa-sisa pelajaran.
“Karena ruang terbatas, kegiatan belajar dibagi menjadi beberapa sesi. Ini jelas sangat tidak efektif bagi proses pendidikan. Kondisi ini sudah menyentuh titik memprihatinkan,” ungkap Ketua Komite MTs Nurul Hasanah, Mohammad Ilyas Suwandi, menyoroti sistem yang terpaksa dijalankan.
Di tengah situasi yang mengancam keselamatan ini, kelambanan birokrasi menjadi sorotan tajam. Pihak sekolah dan komite menegaskan bahwa mereka tidak tinggal diam. Proposal bantuan dan laporan kerusakan telah dilayangkan berulang kali.
Bahkan, perwakilan pejabat dan instansi terkait dilaporkan sudah datang langsung ke lokasi. Namun, kunjungan tersebut terbukti mandul. Hingga hari ini, kedatangan para pejabat itu tidak lebih dari sekadar “wisata bencana” tanpa ada tindak lanjut pembangunan maupun perbaikan darurat.
“Kami sudah berusaha mengajukan bantuan ke berbagai pihak. Mereka sempat meninjau, tapi realitasnya? Belum ada tindak lanjut yang nyata sampai detik ini,” tegas Ilyas dengan nada kecewa.
Sekolah yang telah berdiri lebih dari tiga dekade ini bukan sekadar bangunan fisik; ia adalah urat nadi pendidikan bagi anak-anak di Desa Sindangraja. Semangat belajar ratusan siswa dan dedikasi luar biasa para guru yang tetap bertahan di tengah ancaman bahaya ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi para pemangku kebijakan.
Pemerintah tidak bisa lagi berlindung di balik proses administrasi yang berbelit. Pertanyaannya kini bukan lagi kapan sekolah ini akan dibangun, melainkan apakah pemerintah akan terus menutup mata sampai ada korban jiwa yang tertimpa reruntuhan kelas?
Ratusan siswa MTs Nurul Hasanah tidak butuh janji manis dan sekadar kunjungan formalitas. Mereka butuh ruang kelas yang aman, sekarang.(*)
Laporan: Mardi
Editor: Hamjah















