JENTERANEWS.com – Ironi dunia pendidikan terpampang nyata di Kabupaten Sukabumi. Di saat program Merdeka Belajar didengungkan, puluhan siswa SDN Margawati di Desa Sinarbentang, Kecamatan Sagaranten, terpaksa berjuang menuntut ilmu di luar ruangan selama lebih dari satu tahun. Mereka belajar di teras atau di bawah bayang-bayang bangunan yang tersisa, lantaran tidak lagi memiliki ruang kelas yang layak.

Meski minim fasilitas, para siswa SDN Margawati tetap semangat menimba ilmu di teras sekolah, berjuang di tengah keterbatasan bangunan yang kian rapuh.
Kondisi memilukan ini tak pelak mengiris hati para pengajar. Kegiatan belajar mengajar (KBM) sangat bergantung pada cuaca. Jika langit cerah, mereka masih bisa menggelar tikar seadanya. Namun, cerita berubah menjadi duka ketika hujan turun.
“Sedihnya bila turun hujan,” ujar Herlina, salah seorang guru di SDN Margawati, dengan nada getir. Saat hujan tiba, KBM terpaksa dihentikan, atau para siswa berdesakan mencari perlindungan di teras sempit yang tersisa, membuat proses belajar menjadi sangat tidak efektif.
Fasilitas sekolah kini berada di titik nadir. Herlina memaparkan, bangunan yang tersisa hanya tiga lokal kelas dan satu ruang kantor. Jumlah ini sangat tidak memadai untuk menampung seluruh siswa.
Lebih tragis, ruang kantor yang seharusnya menjadi pusat administrasi guru, kini telah beralih fungsi menjadi gudang. Ruangan itu sesak dipenuhi mebeler dan perabot dari ruang kelas lain yang sebelumnya telah ambruk.
“Kantor tersebut seperti gudang karena mebeler dari kelas yang ambruk dimasukkan ke dalam ruang kantor,” jelas Herlina.
Ancaman bahaya pun tak berhenti di situ. Ruang kantor yang kini menjadi tumpuan terakhir itu juga dalam kondisi kritis. “Dan kondisi ruang kantor pun sudah pada retak,” tambahnya, menggambarkan kekhawatiran para guru akan keselamatan mereka setiap hari. Sekolah ini juga sama sekali tidak memiliki fasilitas penunjang lain seperti perpustakaan.
Pihak sekolah bukannya tanpa usaha. Menurut Herlina, SDN Margawati telah berulang kali mengajukan proposal permohonan pembangunan ruang kelas baru (RKB) kepada pemerintah daerah. Namun, jeritan minta tolong itu seolah tak terdengar.
“SDN Margawati sudah beberapa kali mengajukan pembangunan, namun sampai saat ini belum terjawab oleh pemerintah,” keluhnya.
Hal ini menjadi ironi besar, mengingat pihak sekolah menegaskan bahwa mereka memiliki lahan yang sangat cukup dan siap untuk dikembangkan. Lahan kosong yang luas itu seakan menjadi saksi bisu atas penantian panjang yang tak berujung.
Herlina, mewakili seluruh civitas akademika SDN Margawati, sangat berharap uluran tangan segera dari pemerintah. Mereka tidak meminta bangunan mewah, hanya sebuah ruang kelas yang aman dan layak, agar anak-anak di Sinarbentang dapat kembali belajar dengan tenang, tanpa harus takut kehujanan atau waswas tertimpa reruntuhan bangunan.(*)
[Hamjah]















