Menu

Mode Gelap

Kabar Daerah · 29 Feb 2024 15:26 WIB

Usut Mafia Pangan, Mahasiswa Sukabumi Protes Harga Beras Mahal


					Aksi Protes Mahasiswa Kota Sukabumi Soal Harga Beras Mahal Perbesar

Aksi Protes Mahasiswa Kota Sukabumi Soal Harga Beras Mahal

JENTERANEWS.com – Aksi unjuk dilakukan Mahasiswa Pertanian Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) di Balai Kota Sukabumi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Sukabumi.

Para mahasiswa tersebut menuntut persoalan harga beras yang kian tinggi, kebijakan pemerintah impor beras saat petani masuk masa panen hingga menuntut agar satgas turun tangan mengusut mafia pangan.

Massa mahasiswa ini mulanya melakukan long march dari Universitas Muhammadiyah Sukabumi di Jalan R Syamsudin ke Balai Kota dan dilanjutkan ke Jalan Ir. Juanda. Mereka membawa beberapa atribut demo seperti spanduk bertuliskan ‘Usut Tuntas Mafia Pangan’ dan ‘Nyaleg Elit Harga Beras Sulit’.

Aksi saling dorong pun sempat terjadi antara mahasiswa dengan aparat kepolisian yang berjaga. Mahasiswa yang ikut demontrasi mendorong pagar agar para petinggi DPRD menemui para demonstran.

Seperti diketahui, harga beras di pasar tradisional Kota Sukabumi saat ini dibanderol dengan harga Rp16 ribu sampai Rp17 ribu per kilogram. Sementara berdasarkan peraturan badan pangan nasional (BAPANAS) No 7/2023 untuk zona 1, harga eceran tertinggi (HET) beras berlaku sejak Maret 2023 Rp10.900 per kilogram untuk medium, sedangkan beras premium Rp13.900 per kilogram.

Baca Juga:   Dinas Perikanan Gelar Rapat Koordinasi Penanggulangan Destructive Fishing di Cidahu Sukabumi

Di sisi lain, harga pokok harga pembelian pemerintah (HPP) babah kering panen (GKP) di tingkat petani hanya naik sebesar Rp800, dari yang sebelumnya Rp4.200 menjadi Rp5.000 per kilogram.

“Sukabumi sendiri dampak dari kenaikan beras ini sangat terasa, yang paling merasakan adalah masyarakat menengah ke bawah, karena mereka harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli beras,” kata Ketua BEM Fakultas Pertanian UMMI Diki Agustina, Kamis (29/2/2024).

“Bukan hanya beras, akan tetapi bahan pangan lainnya pun juga merangkak naik. Dengan demikian ketersediaan dan keterjangkauan pangan di Sukabumi perlu diperhatikan supaya masyarakat masih bisa mendapatkan harga beras yang terjangkau dan ketersediaan nya pun harus di pastikan,” sambungnya.

Mahasiswa menilai, kenaikan harga beras bukan hanya disebabkan oleh iklim saja. Menurutnya, pemerintah terlalu ugal-ugalan mendistribusikan bantuan sosial (bansos) beras yang tidak sesuai jadwal dan peruntukannya.

“Bahkan cenderung mengabaikan prosedur. Krisis beras sudah terjadi sejak tahun lalu akibat iklim dan masalah pertanian. Karena sudah mendekati bulan Ramadan, dan ini momentum mafia pangan untuk kepentingan pribadi. Impor ini bukan impor kebutuhan masyarakat tapi segelintir orang,” kata dia.

Baca Juga:   Wujudkan Tulang Kuat Dan Badan Sehat, PERWATUSI Gelar Seminar Pencegahan Osteoporosis

Mahasiswa mendesak Satgas Pangan untuk turun tangan mengusut tuntas atas kenaikan beras. Termasuk, kata Diki, pemerintah harus segera menuntaskan persoalan pertanian di negeri agraris ini.

“Kami mendesak agar satgas pangan tidak mencla-mencle dalam mengusut dan memberantas mafia pangan. Mendesak pemerintah untuk bisa mengontrol harga pangan dan bahan pokok menjelang Ramadan,” ucap dia.

“Meminta pemerintah supaya meninjau ulang terhadap impor beras yang berjumlah 3,6 juta ton pada tahun 2024 dan mendorong pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah pertanian khususnya di Sukabumi,” tambah Diki.

Aksi demontrasi para mahasiswa diterima oleh Ketua DPRD Kota Sukabumi Kamal Suherman, Wakil Ketua DPRD Kota Sukabumi Jona Arizona dan Wawan Juanda. Jona mengatakan, DPRD telah melakukan langkah strategis bersama Pemkot untuk menanggulangi permasalahan harga beras naik.

“Intinya kami DPRD, kebijakan dari Pemda yang pertama, yang dilakukan pemerintah daerah sudah melaksanakan operasi pasar murah di 7 kecamatan yang ada di Kota Sukabumi. Bekerja sama dengan Bulog mendistribusikan SPHP,” kata Jona.

Baca Juga:   Pilkades Usai, Warga Sinarbentang Kembali Rukun dan Bersatu. Sugandi, Ajak Bersama Memajukan Desa

Dia mengatakan, beras yang di pasaran dijual dengan harga Rp16-Rp17 ribu dapat dibeli dengan merk SPHP oleh masyarakat dengan harga Rp10.600 per kilogram atau Rp53 ribu per 5 kilogram.

“Jadi pasokan yang didistribusikan, disebar di 7 kecamatan tiap hari tidak kurang dari 4 ton. Itu salah satu upaya dan kami tetap mendorong agar upaya itu ditingkatkan, agar seluruh masyarakat bisa membeli beras SPHP dan bisa menekan harga di pasaran,” ujarnya.

Terkait kebijakan impor beras, Jona mengatakan, kebijakan tersebut diambil oleh pemerintah pusat. Mulanya pemerintah mengalokasikan 2 juta ton impor beras dan bertambah 1,6 juta ton sehingga total 3,6 juta ton.

“Masa panen Maret, April dan Mei, Juni itu untuk dinikmati di semester kedua oleh masyarakat sehingga pemerintah mengamankan pasokan beras. Kami menjamin dengan Pemda, cadangan stok pasokan beras untuk 3-4 bulan itu aman dengan membagikan SPHP hanya Rp53 ribu per 5 kg, jauh bisa ditekan dari harga di pasaran Rp17 ribu per kilogram,” tutupnya. (*)

Artikel ini telah dibaca 40 kali

badge-check

Editor

Baca Lainnya

Wabup Iyos Dampingi Menko PMK Tinjau Lokasi Longsor TOL Bocimi Seksi 2 Km 64

17 April 2024 - 14:50 WIB

Wabup Iyos Dampingi Menko PMK Tinjau Lokasi Longsor TOL Bocimi Seksi 2 Km 64

Bupati Marwan Ubah Nama Jalan Nyakokot-Perbawati Jadi KH. Zezen Z.A

17 April 2024 - 14:04 WIB

Bupati Sukabumi Marwan Ubah Nama Jalan Nyakokot-Perbawati Jadi KH. Zezen Z.A

Ini Dia Caranya Dapat Umroh Gratis Dengan Bayar Retribusi Dan Pajak Di Kabupaten Sukabumi

17 April 2024 - 12:27 WIB

Ini Dia Caranya Dapat Umroh Gratis Dengan Bayar Retribusi Dan Pajak Di Kabupaten Sukabumi

Rapat Dinas, Bupati Sukabumi Minta Perangkat daerah mendukung peningkatan PAD Untuk Pembangunan Lebih Baik

17 April 2024 - 07:27 WIB

Rapat Dinas, Bupati Sukabumi Minta Perangkat daerah mendukung peningkatan PAD Untuk Pembangunan Lebih Baik

Libur Lebaran Sudah Usai, Pantai Cibuaya Terpantau Sepi

16 April 2024 - 11:42 WIB

Libur Lebaran Sudah Usai, Pantai Cibuaya Terpantau Sepi

Bupati Apresiasi Semua Pihak Atas Kerjakerasnya Wujudkan Suasana Libur Lebaran Aman Dan Lancar

16 April 2024 - 10:37 WIB

Trending di Kabar Daerah