JENTERANEWS.com – Hujan deras yang mengguyur Kota Sukabumi sejak Kamis (22/5) sore hingga malam hari menyebabkan bencana hidrometeorologi di 13 titik berbeda. Mayoritas kejadian berupa banjir limpasan yang mengepung sejumlah wilayah kota, sementara satu titik lainnya tercatat sebagai kejadian longsor.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi, Novian Rahmat, menjelaskan bahwa intensitas hujan yang tinggi sejak pukul 15.00 WIB hingga malam hari menjadi pemicu utama. “Hingga pukul 21.30 WIB, tercatat 13 titik lokasi terdampak. Hujan turun terus-menerus, dari intensitas sedang meningkat menjadi tinggi. Saluran air tidak bisa menampung, sehingga meluap dan menyebabkan banjir limpasan,” terang Novian.
Dari 13 titik terdampak, 12 di antaranya adalah banjir limpasan, yang sebagian besar melanda pemukiman warga di sekitar aliran sungai dan kawasan jalan raya dengan sistem drainase yang tidak memadai. Sementara itu, satu titik longsor terjadi di daerah Babakan Jampang, Kecamatan Cikole.
Wilayah terdampak terparah berada di Kampung Legok Bitung, Kecamatan Baros, di mana ketinggian air mencapai selutut orang dewasa. Akibatnya, tiga kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi ke rumah kerabat lantaran rumah mereka terendam banjir. Novian menambahkan, “Lokasi di Legok Bitung itu memang sudah langganan banjir, rumah-rumah berada di dataran rendah.”
Ironisnya, area di sekitar kolam retensi Terminal Tipe A KH Ahmad Sanusi, yang seharusnya berfungsi sebagai pengendali banjir, juga turut terdampak. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas infrastruktur pengendalian banjir yang ada dan perlunya evaluasi menyeluruh.
Saat ini, BPBD Kota Sukabumi terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk penanganan darurat serta langkah-langkah pencegahan bencana lanjutan.(*)
[Laporan : Joko S | Editor: Hamjah]
Eksplorasi konten lain dari JENTERA NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















