JENTERANEWS.com – Di tengah duka akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Desa Bangbayang, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, terselip sebuah kisah heroik yang menyoroti perjuangan hidup seorang ibu. Maryani, seorang wanita yang tengah hamil lima bulan, berhasil diselamatkan warga setelah terseret arus sungai yang meluap pada Senin (28/7/2025) petang.
Insiden dramatis ini terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Menurut Kepala Dusun Cicapang, Sobandi, Maryani dan suaminya hendak pulang ke rumah mereka. Namun, langkah mereka terhenti saat mendapati jembatan utama menuju kampung mereka telah lenyap diterjang derasnya arus sungai.
“Bermula saat Maryani mau pulang bersama suaminya, namun jembatan yang menuju rumahnya itu sudah terbawa arus air sungai,” ungkap Sobandi saat dihubungi, Selasa (29/7/2025).
Tak punya pilihan, pasangan itu terpaksa mencari jalan alternatif. Saat itulah nasib nahas menimpa Maryani. Ia terpeleset di jalan yang licin hingga jatuh ke dalam sungai yang arusnya tengah mengganas. Seketika, tubuhnya terseret air bah.
Melihat istrinya dalam cengkeraman maut, sang suami sontak berteriak histeris meminta pertolongan. Warga sekitar yang mendengar teriakan itu segera berlarian ke sumber suara. Dengan sigap, warga dan suami Maryani bekerja sama melemparkan tali tambang untuk menyelamatkan korban.
“Alhamdulillah, Maryani tertolong setelah terseret air sungai kurang lebih 10 meter,” tutur Sobandi. “Kini, wanita hamil 5 bulan itu masih tergeletak lemah dan sudah diperiksa oleh bidan desa.”
Peristiwa yang menimpa Maryani adalah cerminan dari dahsyatnya bencana ganda yang menghantam Desa Bangbayang. Hujan berintensitas tinggi sejak Senin malam menyebabkan Sungai Dengang meluap, memicu banjir yang merendam puluhan rumah. Pada saat yang bersamaan, tanah longsor terjadi di beberapa titik, mengisolasi desa dari dunia luar.

Salah satu sudut permukiman di Desa Bangbayang yang terendam banjir pada Senin malam (28/7/2025). Ketinggian air yang naik dengan cepat memaksa warga untuk mengamankan diri dan harta benda mereka ke tempat yang lebih tinggi.
Berdasarkan Berita Acara Kejadian Nomor 147.1/218/VII/2005 yang dirilis Pemerintah Desa Bangbayang, banjir menerjang permukiman di Jalan Buniwangi RT 01/RW 01. Sedikitnya enam rumah warga terendam, memaksa penghuninya mengungsi.
Di Kampung Cicapang sendiri, Sobandi melaporkan dampak yang lebih parah. “Di Kampung Cicapang ada 7 rumah yang tertimbun longsor dan satu rumah ambruk,” jelasnya.
Secara terpisah, Kepala Desa Bangbayang, Dadang Mulyana, mengonfirmasi bahwa bencana ini telah memutus akses vital. “Jembatan Cicurug, penyambung Kampung Cipicung dengan Kampung Ciburuy, hilang terbawa air,” ujarnya. Selain itu, material longsor juga menimbun ruas jalan kabupaten sepanjang 50 meter di wilayah RT 005/RW 01, menghambat total akses transportasi.
Hingga Selasa siang, upaya pendataan dan penanganan masih menghadapi kendala besar. Menurut Kades Dadang, asesmen menyeluruh belum bisa dilakukan karena tim masih fokus di lokasi terparah seperti Kampung Cicapang.
“Kedusunan Bangbayang yang terdiri dari 17 kampung belum bisa kami data sepenuhnya. Tidak ada jaringan, jadi tidak bisa komunikasi,” keluh Dadang, menggambarkan betapa terisolasinya wilayah mereka.
Ia menambahkan, penanganan untuk membuka akses jalan kabupaten ruas Bangbayang-Surade sedang diupayakan. “Alat berat dari Dinas PU masih dalam perjalanan menuju lokasi,” katanya.
Saat ini, prioritas utama adalah keselamatan warga dan pemulihan akses. Warga yang rumahnya terendam banjir telah mulai membersihkan lumpur, sembari berharap bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi dapat segera tiba untuk menormalisasi kondisi desa mereka yang porak-poranda.(*)
Kor: Aep
Redaktur: Hamjah















