JENTERANEWS.com – Di tengah hiruk pikuk pasar tradisional Sagaranten, sosok Martini, seorang wanita paruh baya dengan langkah sedikit doyong, tak pernah absen menjajakan aneka makanan ringan. Keranjang anyamannya setia menemani, berisi harapan dan peluh yang ia torehkan setiap hari. Usianya memang tak lagi muda, namun semangat juangnya seolah tak lekang dimakan waktu.
Asalnya dari Cirebon, 30 tahun silam Martini mengikut jejak sang suami ke tanah Sagaranten Kabupaten Sukabumi. Meski telah berumah tangga, kobaran semangat untuk mandiri tak pernah padam dalam dirinya. Ia memilih berjualan makanan ringan, sebuah ikhtiar yang kala itu mungkin dipandang sebelah mata. Namun, bagi Martini, setiap rupiah hasil penjualan adalah sebentuk kemerdekaan.
Takdir kemudian menguji ketegarannya. Enam belas tahun lalu, sang suami tercinta berpulang. Martini, kini seorang diri, harus memikul beban hidup lebih berat. Namun, kesedihan tak lantas meruntuhkan pilar semangatnya. Justru, kehilangan itu semakin memacu dirinya untuk terus berjuang. Dengan gigih, ia berkeliling menjajakan dagangan, dari satu sudut kampung ke sudut lainnya. Panas terik dan dinginnya malam tak pernah membuatnya menyerah.
“Dulu waktu masih ada bapak (suami), jualan ya buat tambah-tambah. Tapi setelah bapak nggak ada, jualan ini jadi pegangan hidup,” tutur Martini dengan mata berkaca-kaca, namun senyum tipis tetap menghias wajahnya.
Buah dari keuletan dan kesabarannya sungguh tak terduga. Tahun 2019 menjadi lembaran emas dalam kehidupannya. Berkat tabungan yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit dari hasil berjualan, Martini akhirnya bisa menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Sebuah pencapaian luar biasa bagi seorang pedagang kecil yang berjuang seorang diri.
Menariknya, makanan ringan yang dijual Martini bukanlah hasil buatannya sendiri. Ia mengambil titipan dari orang lain, dan mendapatkan komisi dari setiap barang yang laku. Sebuah model usaha sederhana namun efektif, yang membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih rezeki.
Kini, di usianya yang senja, langkah Martini memang tak lagi secepat dulu. Namun, semangatnya tak pernah pudar. Dengan langkah doyong, ia tetap setia menyusuri jalanan Sagaranten, menawarkan dagangannya dengan senyum ramah. Tak ada keluhan terlontar dari bibirnya, yang ada hanyalah syukur dan keyakinan bahwa setiap usaha pasti akan berbuah manis.
Kisah Martini adalah cerminan ketangguhan seorang wanita. Di balik kesederhanaannya, tersimpan bara semangat yang patut diacungi jempol. Ia mengajarkan kita bahwa keterbatasan ekonomi dan usia bukanlah alasan untuk berhenti berjuang. Dengan keuletan dan keyakinan, impian setinggi apapun bisa diraih. Martini, sang pejuang senja dari Sagaranten, adalah inspirasi nyata bagi kita semua.(*)
(Hamjah)















