Menu

Mode Gelap

Pendidikan · 17 Apr 2026 17:59 WIB

Sisa Puing Kebakaran dan Janji Kosong: Ratusan Siswa MTs Nurul Hasanah Bertaruh Nyawa di Ruang Kelas Retak


					Potret kerusakan parah pada salah satu bangunan ruang kelas MTs Nurul Hasanah di Kampung Cicukang, Kecamatan Curugkembar, pasca-kebakaran pada November 2025 lalu. Atap yang runtuh, puing-puing yang berserakan, dan sisa-sisa bangunan yang hangus ini menjadi pemandangan sehari-hari bagi ratusan siswa. Kondisi ini merupakan bukti kelambanan bantuan dari pihak berwenang, yang memaksa siswa bertaruh nyawa belajar di bawah bayang-bayang bahaya bangunan yang sewaktu-waktu dapat rubuh. Perbesar

Potret kerusakan parah pada salah satu bangunan ruang kelas MTs Nurul Hasanah di Kampung Cicukang, Kecamatan Curugkembar, pasca-kebakaran pada November 2025 lalu. Atap yang runtuh, puing-puing yang berserakan, dan sisa-sisa bangunan yang hangus ini menjadi pemandangan sehari-hari bagi ratusan siswa. Kondisi ini merupakan bukti kelambanan bantuan dari pihak berwenang, yang memaksa siswa bertaruh nyawa belajar di bawah bayang-bayang bahaya bangunan yang sewaktu-waktu dapat rubuh.

JENTERANEWS.com — Amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya hanya menjadi retorika di Kampung Cicukang, Desa Sindangraja, Kecamatan Curugkembar Kabupaten Sukabumi. Di sana, ratusan siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Hasanah dipaksa menuntut ilmu dengan bertaruh nyawa, belajar di bawah bayang-bayang gedung yang nyaris rubuh.

Lima bulan usai tragedi kebakaran yang menghanguskan sebagian besar bangunan sekolah pada November 2025 silam, belum ada satupun langkah konkret dari pemerintah daerah maupun instansi pendidikan terkait. Dari sepuluh ruang kelas yang pernah ada, kini hanya tersisa tiga. Ironisnya, ketiga ruangan tersebut lebih layak disebut sebagai “bom waktu” ketimbang tempat belajar.

Dinding-dinding retak menganga, sementara struktur atap yang lapuk seolah tinggal menunggu waktu untuk ambruk menimpa ratusan siswa yang ada di bawahnya.

Kehancuran tujuh ruang kelas menciptakan krisis daya tampung yang fatal. Ratusan siswa terpaksa menjadi korban dari sistem sif yang memangkas jam pelajaran secara drastis. Alih-alih mendapatkan pendidikan yang optimal, hak belajar mereka diamputasi oleh keterbatasan ruang.

Lebih miris lagi, cuaca buruk adalah teror nyata bagi warga sekolah. Setiap kali hujan deras turun, proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) harus dihentikan paksa. Rasa takut akan ancaman atap ambruk membuat para guru harus mengevakuasi siswanya ke masjid terdekat. Di tempat ibadah itulah, dengan segala keterbatasan, mereka mencoba merajut sisa-sisa pelajaran.

“Karena ruang terbatas, kegiatan belajar dibagi menjadi beberapa sesi. Ini jelas sangat tidak efektif bagi proses pendidikan. Kondisi ini sudah menyentuh titik memprihatinkan,” ungkap Ketua Komite MTs Nurul Hasanah, Mohammad Ilyas Suwandi, menyoroti sistem yang terpaksa dijalankan.

Di tengah situasi yang mengancam keselamatan ini, kelambanan birokrasi menjadi sorotan tajam. Pihak sekolah dan komite menegaskan bahwa mereka tidak tinggal diam. Proposal bantuan dan laporan kerusakan telah dilayangkan berulang kali.

Bahkan, perwakilan pejabat dan instansi terkait dilaporkan sudah datang langsung ke lokasi. Namun, kunjungan tersebut terbukti mandul. Hingga hari ini, kedatangan para pejabat itu tidak lebih dari sekadar “wisata bencana” tanpa ada tindak lanjut pembangunan maupun perbaikan darurat.

“Kami sudah berusaha mengajukan bantuan ke berbagai pihak. Mereka sempat meninjau, tapi realitasnya? Belum ada tindak lanjut yang nyata sampai detik ini,” tegas Ilyas dengan nada kecewa.

Sekolah yang telah berdiri lebih dari tiga dekade ini bukan sekadar bangunan fisik; ia adalah urat nadi pendidikan bagi anak-anak di Desa Sindangraja. Semangat belajar ratusan siswa dan dedikasi luar biasa para guru yang tetap bertahan di tengah ancaman bahaya ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi para pemangku kebijakan.

Pemerintah tidak bisa lagi berlindung di balik proses administrasi yang berbelit. Pertanyaannya kini bukan lagi kapan sekolah ini akan dibangun, melainkan apakah pemerintah akan terus menutup mata sampai ada korban jiwa yang tertimpa reruntuhan kelas?

Ratusan siswa MTs Nurul Hasanah tidak butuh janji manis dan sekadar kunjungan formalitas. Mereka butuh ruang kelas yang aman, sekarang.(*)

Laporan: Mardi

Editor: Hamjah

Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Star Energy Geothermal Salurkan Beasiswa Rp190 Juta untuk 19 Mahasiswa IPB

2 Desember 2025 - 13:16 WIB

Aksi Guru Madrasah Sukabumi Tuntut Kesetaraan P3K di Jakarta

30 Oktober 2025 - 13:23 WIB

Aksi Guru Madrasah Sukabumi Tuntut Kesetaraan P3K di Jakarta

SDN Margawati Kritis: Siswa Belajar di Luar, Kantor Jadi Gudang

21 Oktober 2025 - 10:06 WIB

Potret miris kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa SDN Margawati Sukabumi yang terpaksa digelar di teras sekolah selama lebih dari setahun, tanpa ruang kelas yang layak.

​Hj. Rina Rosmaniar Japar Apresiasi Kiprah Bunda PAUD Sukabumi: Peran Vital Guru PAUD Cerdaskan Anak Bangsa

15 Oktober 2025 - 20:58 WIB

​Hj. Rina Rosmaniar Japar Apresiasi Kiprah Bunda PAUD Sukabumi: Peran Vital Guru PAUD Cerdaskan Anak Bangsa

Wawali Sukabumi Sambut Siswa TK GIBS Peraih Rekor MURI Penulisan Buku

2 Oktober 2025 - 11:55 WIB

Wawali Sukabumi Sambut Siswa TK GIBS Peraih Rekor MURI Penulisan Buku

Bupati Asep Japar: Gerakan Pramuka Harus Jadi Solusi Strategis Bentuk Karakter Generasi Muda

25 September 2025 - 14:49 WIB

Bupati Asep Japar: Gerakan Pramuka Harus Jadi Solusi Strategis Bentuk Karakter Generasi Muda
Trending di Kabar Daerah