JENTERANEWS.com – Globalisasi dan digitalisasi dinilai menjadi tantangan utama yang menggerus karakter serta nasionalisme generasi muda. Gerakan kebajikan berbasis komunitas diharapkan menjadi benteng pertahanan.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan tantangan era digital, upaya untuk membentengi ideologi bangsa terus digalakkan. Anggota DPR RI, Hj. Dewi Asmara, SH.MH., bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) turun langsung ke tengah masyarakat untuk menggelar “Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila” di Sagaranten, Kabupaten Sukabumi, pada Sabtu (30/8/2025).
Acara yang dihadiri oleh ratusan warga ini bertujuan untuk memperkuat kembali pemahaman dan implementasi nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Muntawali, dan Analis Kebijakan Ahli Madya BPIP, Dr. Achdyat.
Ancaman Krisis Identitas di Era Digital
Dalam sambutannya, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Hj. Dewi Asmara, menyoroti tantangan berat yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Menurutnya, Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup harus terus diperkokoh untuk melawan ancaman pergeseran nilai, krisis identitas, bahkan potensi disintegrasi bangsa.
“Kondisi saat ini menunjukkan adanya degradasi karakter dan nasionalisme di kalangan pemuda, yang ditandai dengan kurangnya kepedulian terhadap nilai moral dan jati diri bangsa,” ujar Dewi Asmara.
Politisi dari Fraksi Golkar ini memaparkan bahwa dampak digitalisasi telah memunculkan sikap individualistis yang memprioritaskan popularitas di media sosial, memudarnya semangat gotong royong, serta hilangnya identitas budaya akibat tren global yang diadopsi tanpa filter.
“Karena itu, saya menghimbau masyarakat agar waspada. Dampak digitalisasi dapat menyebabkan kurangnya kesadaran kewarganegaraan, di mana etika dan moral sering terabaikan,” tegasnya.
Cermin Keretakan Nilai Pancasila
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Muntawali, memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai fenomena degradasi nilai Pancasila di masyarakat. Ia memaparkan contoh nyata yang sering ditemui.
“Fenomena ini terlihat pada kurangnya empati yang melanggar Sila ke-2, kegaduhan di media sosial tanpa solusi konstruktif yang mencederai Sila ke-3, sikap tidak menghargai pendapat saat berdiskusi yang bertentangan dengan Sila ke-4, serta perusakan fasilitas umum yang jauh dari semangat Sila ke-5,” terang Budi Azhar.
Ia pun mengucapkan terima kasih kepada Dewi Asmara dan BPIP yang telah hadir secara langsung untuk memberikan pencerahan ideologi di tengah tantangan zaman. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat vital untuk membekali masyarakat, khususnya para relawan, agar menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing. (*)
Reporter : Aris Jampang
Editor : Mia















