JENTERANEWS.com – Sukabumi diguncang oleh kematian tragis RR (25), seorang aktivis mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum (STH) Pasundan, yang tewas dalam sebuah tawuran antar geng motor. Ironisnya, mahasiswa yang seharusnya berjuang untuk keadilan ini justru meregang nyawa dalam aksi kekerasan jalanan.
Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Rita Suwadi, mengungkapkan bahwa insiden memilukan ini berawal dari janji tawuran yang diatur melalui media sosial. Dua kelompok geng motor, All Star dan Never Die, sepakat untuk bertemu di Jalan Lingkar Selatan, Desa Babakan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, pada 26 Februari lalu.
“Pelaku dari kelompok Never Die membuat janji temu melalui media sosial untuk melakukan aksi tawuran,” ungkap Rita dengan nada prihatin.
Kedua kelompok tersebut kemudian melakukan konvoi mengerikan, membawa berbagai senjata tajam, dan bahkan menyiarkan aksi mereka secara langsung di media sosial. Pertemuan mereka di lokasi yang dijanjikan berubah menjadi medan perang, meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat Sukabumi.
RR (25) tewas dengan luka bacok mengerikan di betis belakang kaki kirinya. Korban lainnya, DHA (24), mengalami luka parah di kepala, punggung, lutut, dan dada. H (31) dan AP (20) juga menderita luka bacok yang tidak kalah mengerikan.
Polisi berhasil menangkap empat pelaku dari kelompok Never Die, yaitu HM (21), MA (24), MRA (29), dan MRK (22). Mereka terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara. Sementara itu, empat anggota kelompok All Star, termasuk ketua mereka, FT alias C (25), juga ditangkap karena membawa senjata tajam.
FT alias C (25) mengaku bahwa aksi tawuran tersebut dipicu oleh rasa tertantang yang bodoh. “Merasa tertantang. Menyesal,” ujarnya dengan suara lirih. Dia juga menyampaikan pesan penyesalan kepada teman-temannya di luar sana, mengingatkan mereka tentang kesia-siaan kekerasan.
Tragedi ini meninggalkan luka yang dalam bagi keluarga korban dan masyarakat Sukabumi. Ini adalah pengingat yang menyakitkan tentang bahaya kekerasan geng motor dan dampak mengerikan dari budaya kekerasan yang merajalela di kalangan generasi muda.(*)
laporan : Denny Nurman















